Pelajaran Memotong Rumput (1): Buang yang Tidak Perlu

posted: Wed 25th Jan, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Penyuntingan
Whenever you can shorten a sentence, do. And one always can. The best sentence? The shortest. -
Gustave Flaubert
Seseorang mengatakan kepada saya bahwa membuat tulisan itu seperti membangun taman dari sebuah hutan. Pada awalnya, yang kita lihat adalah hutannya. Seperti itulah sebuah tulisan pada awalnya, penuh dengan rumput liar. Rumput-rumput liar itu bisa berupa kata-kata yang berlebihan, pengulangan kata, mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan, atau yang lebih parah lagi, gabungan dari semuanya. Siapa yang menciptakan hutan-hutan itu? Kita sendiri. Sebagai penulis, kita semua senang menggunakan kata-kata yang indah. Kita berpikir, semakin banyak kata indah dan semakin sering orang membuka kamus untuk mencari artinya, kita akan semakin hebat. Kita mengira telah menanam bunga, padahal sebenarnya kita tengah memenuhi taman kita dengan rumput liar. Pada saat kita sadar, taman kita telah berubah menjadi hutan. Lalu bagaimana merubah sebuah hutan menjadi taman? Mudah saja, siapkan linggis dan babat semua rumput liar di sana. Begitu juga dengan tulisan. Untuk mempercantik karya Anda, ambil pena merah dan siapkan kebesaran hati Anda untuk membuang semua kata-kata yang tidak perlu. Tapi sebelum memotong rumput liar, Anda harus tahu seperti apa bentuknya. Jangan sampai salah potong. Mari kita ambil beberapa contoh rumput liar dari sebuah novel.
Matahari terus merayap naik dengan gagahnya, tak ada siapa pun—makhluk—yang bisa menyurutkan langkahnya. Sentuhan sinarnya mampu menerangi jagad raya yang teramat luas. Sungguh begitu kuasanya. Dan matahari itu kini sudah mulai mencondongkan sinar teriknya ke arah timur menandakan tengah hari telah berlalu.
Saya menggolongkan paragraf ini sebagai rumput liar karena sebenarnya bagian paling penting kalimat di atas adalah kalimat terakhir, sedangkan tiga kalimat pertama tidak penting. Kita semua tahu tidak ada yang bisa menyurutkan langkah matahari kecuali Tuhan. Kita juga tahu matahari menerangi jagad raya. Jadi untuk apa diceritakan lagi? Kenapa tidak lebih disederhanakan seperti di bawah ini?
Matahari kini mulai mencondongkan sinar teriknya ke arah timur, menandakan tengah hari telah berlalu.
Lebih singkat, lebih padat, dan tetap sama intinya. Dari 44 kata, saya meringkasnya menjadi 14 kata (pengurangan 32%). Mari kita melangkah ke bagian lain karena rumput liar tidak hanya ada di dalam deskripsi, namun juga di dalam percakapan.
“Kan untuk belajar, tubuh kita harus kuat dan bertenaga, kenapa tidak boleh?” tanya anak lelaki gendut dengan cemberut, tangan gempalnya mengelus-elus perutnya yang buncit berlemak—mungkin khawatir bila perut lembeknya itu akan berkoar-koar menyanyikan lagu keroncongan yang paling sering dinikmati kaum miskin—Pasti!
Apakah inti kalimatnya akan berubah kalau diubah menjadi seperti ini?
“Kenapa tidak boleh? Kan untuk belajar tubuh kita harus kuat dan bertenaga,” tanya anak lelaki gendut itu cemberut sembari mengelus-elus perutnya.
Dari 43 kata, saya berhasil merevisi menjadi 21 (pengurangan 49%). Mungkin kita berpikir. Apa salahnya menggunakan kata-kata yang indah? Bukankah itu termasuk gaya bahasa penulis?
 
Tolong hati-hati membedakannya. Gaya bahasa seperti apapun sebenarnya tidak masalah selama sang penulis bisa menyampaikan pemikirannya dengan tepat dan efektif. Saya juga suka membandingkan tulisan yang bertele-tele dengan tulisan yang padat dan efektif dengan mendengarkan pidato.
 
Ya, saya tahu pidato itu membosankan. Tapi jika Anda harus mendengarkan pidato, mana yang lebih Anda sukai, pidato sepanjang sepuluh menit yang bertele-tele atau pidato yang isinya sama namun hanya 5 menit? Tentu saja yang kedua. Seperti itulah sebuah tulisan. Kalau Anda bisa menyampaikan maksud Anda dalam lima kata kenapa harus menyampaikannya dalam sepuluh kata?
 
Karena itu, jadikan setiap kata dalam tulisan Anda bermakna. Para pembaca sudah berbaik hati mau menghabiskan uang dan waktu untuk karya Anda. Tolong jangan siksa mereka untuk membaca sesuatu yang tidak perlu. Potonglah rumput-rumput liar itu agar mereka bisa menikmati keindahan taman Anda, sebagaimana Anda menikmatinya.

Buatlah Catatan

posted: Thu 29th Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup
Sebenarnya saya harus merasa malu. Sebagai orang yang mengaku suka menulis. saya baru mulai menjalani kebiasaan baru ini beberapa minggu yang lalu. Kebiasaan itu namanya mencatat.
 
Sebelumnya saya memang mencatat (walau hanya di komputer). Isinya paling-paling hanya terdiri atas empat hal: catatan ide, coretan pengembangan alur dan karakter, naskah yang sudah jadi, dan file hasil riset mengenai suatu topik di internet. Tapi, saya sedikit mengabaikan lingkungan sekitar saya yang sebenarnya penuh dengan ide dengan tidak mencatatnya.
 
Alasannya sederhana saja. Toh nanti saya juga akan ingat. Toh nanti saya akan ingat saya melihat seorang gila yang menyanyi di stasiun Tebet.
 
Yah, memang benar. Setelah sekitar lima tahun kejadian itu, saya ingat ada orang gila yang bernyanyi lagu kebangsaan di stasiun Tebet lengkap dengan para pedagang yang menertawakannya. Tapi saya sudah lupa akan detilnya. Saya lupa lagu apa yang dinyanyikannya dan seperti apa pakaiannya. Saya juga tidak ingat apa yang diteriakkan oleh para pedagang.
 
Apakah mereka menertawakan suaranya atau mereka justru ikut menyanyi bersama orang gila itu? Pada saat ini saya memang belum mengembangkan cerita yang membutuhkan informasi mengenai orang gila. Tapi seandainya ya, bukankah saya sudah membuang informasi yang sangat berharga? Padahal informasi itu pernah tersaji begitu gamblang di depan mata kita. Hanya karena saya tidak mencatatnya, saya kehilangan informasi tersebut. Kenapa nggak ingat detailnya? Ya karena otak saya (dan juga otak kamu) bukanlah disket yang kalau sekali kita menyimpan, kita tinggal dan membukanya, informasi akan tersaji. Tidak.
 
Sejalan dengan waktu, otak kita cenderung melupakan hal-hal detil. Bahkan memori kita bisa saja salah. Apakah kejadian saya bertemu dengan orang gila itu pada pagi hari atau siang hari? Apakah rambutnya panjang atau pendek? Apakah kulitnya hitam atau putih?
 
Di sinilah pentingnya membuat catatan. Jangan berpikir bahwa buku catatan Kamu harus berisi pengolahan alur, ide, karakter, dialog, adegan dan sebagainya. Hal-hal seperti itu memang sudah sewajarnya ada di dalam buku catatan Kamu.
 
Tapi, lebih jauh lagi, buku catatan penulis sebaiknya mencatat apa saja yang menarik bagi seorang penulis. Bentuknya macam-macam. Bisa dari percakapan seseorang, potongan adegan yang melintas di kepalamu, hingga foto atau artikel dari majalah. Ralph Fletcher, penulis Writer’s Notebook, membuat daftar isi apa saja yang terdapat dalam buku catatan penulis.
  1. Apa yang membuatmu takjub/kaget/ marah
  2. Apa yang membuatmu ingin tahu
  3. Apa yang kamu amati
  4. “Benih ide” atau “pemicu” untuk mengarang cerita atau puisi
  5. Detail-detail kecil yang memikatmu.
  6. Potongan pembicaraan yang kamu dengar
  7. Kenangan
  8. Daftar (daftar apa aja)
  9. Foto, artikel, potongan tiket atau artifak lain
  10. Sketsa, gambar, atau coretan yang kamu buat sendiri
  11. Kutipan dari buku atau puisi. 
Jadi, apa yang ada di dalam buku catatan saya? Sejauh ini, buku saya lebih banyak berisi apa yang saya amati, pengembangan ide cerita saya serta detail-detail kecil yang memikat saya.
Truk Sampah 18/12 05 Sebuah truk sampah melaju di jalan baru. Terpal oranyenya digulung di atas truk hingga menyerupai pita. Nggak ada kesan seram, besar, atau bau. Hanya lucu. Seperti hadiah ultah yang tidak diinginkan orang. Tak ada yang mau.

Mbak *** Kalau ditanya org tp jawabannya sebenarnya nggak, it doesn’t mean you have to say no. Misalnya. “Kamu bawa uang, nggak?” Padahal gak bawa uang. Instead of saying no, you could answer, “Ntar di depan berhenti di ATM.” Padahal sebenarnya gak bawa uang.

Asyiknya membuat buku catatan adalah kamu nggak perlu peduli dengan segala macam aturan EYD dan tata bahasa. Buat apa? Toh yang akan membaca buku ini hanya kamu. Karena itu kamu bebas menuangkan apa saja. Kebebasan ini juga yang membuat proses menulis jauh lebih mudah dan ringan. Coba aja.
 
Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa baca Writer’s Notebook karangan Ralph Fletcher dari penerbit MLC. Buku ini lumayan bagus, kok. Paling nggak buku ini sudah menggugah kesadaran saya untuk mulai rajin membuat catatan. Lha kok malah promosi? Kayak dibayar aja sama MLC.

Deskripsi: Jangan Cuma Pakai Mata!

posted: Tue 20th Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Deskripsi
Seorang teman di salah satu forum dunia maya pernah mengajukan pertanyaan seperti ini:
 Gimana caranya bikin deskripsi yang langsung menarik minat saat pertama kali baca?
Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan satu contoh deskripsi.
Angie masuk dan duduk di sebelah Reza. Ia memandang berkeliling dan memperhatikan kamar Reza yang rapih dan bernuansa merah dan hitam. Di pojok dekat pintu ada sebuah meja belajar dengan sebuah komputer. Buku-buku pelajaran dan majalah berserakan di atasnya. Di sebelahnya ada stereo set lengkap dengan TV, VCD, DVD, dan video games serta bingkai-bingkai foto. Di sebelahnya ada tempat tidur dan meja damun yang dipenuhi makanan. Tidak ada kosmetik dan alat rias, hanya ada sebuah bedak bayi berukuran besar, pembersih wajah, dan cologne. Di ujung sana ada sebuah pintu dengan tulisan Rest Room, di dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pekarangan. Di dinding, terpajang berbagai macam poster pemain sepak bola dan grup band asal Amerika, Linkin Park.
“Your room is cool!” kata Angie sambil tersenyum.
Reza tersenyum, “Makasih.”
“Mau minum apa, Gie?” tanya Reza sambil memindahkan channel TV.
“Gak usah,” jawab Anggie sambil tersenyum.
"Bener, nih?” tanya Reza dengan alis terangkat. Angie mengangguk singkat.
“Kamu suka Linkin Park?” tanya Angie begitu melihat poster besar grup band itu di dinding belakang tempat tidur Reza. Reza mengangguk,
“Suka banget. Lu pasti gak suka ya?”
“Kenapa kamu kira begitu? Saya suka sekali sama mereka.”
“Oya?” kata Reza sambil membenarkan posisi duduknya, “Serius?”
“Ya. Kenapa, apa cewek seperti saya ini nggak cocok ya untuk jadi fans mereka?” tanya Angie pura-pura marah sambil menolakkan pinggangnya dan cemberut.
Apa yang salah dengan deskripsi kamar di atas? Sederhana saja. Deskripsi tersebut datar. Saya tidak akan menyalahkan penulisan di atas karena ia membuat persis sebagaimana yang diajarkan guru Bahasa Indonesia di sekolah. Gurunya akan tersenyum puas membaca deskripsinya sementara kita sebagai pembaca akan memilih melewati paragraf tersebut.
 
Atau mungkin kita akan membacanya tapi tidak ada kesan yang berbekas. Kenapa? Karena deskripsi tersebut hanya menggunakan mata. Dengan hanya menggunakan mata, ceritamu tidak akan ada bedanya dengan film. Padahal novel bukanlah film.
 
Sebuah novel harus bisa membuat pembacanya merasa ada di sana, hadir di dalam cerita. Lagipula manusia memiliki lima indera: mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Kenapa kita hanya menggunakan satu indera untuk menggambarkan situasi? Bukankah akan jauh lebih hidup kalau kita menggunakan semuanya? Bukanlah akan jauh lebih menarik kalau saat kita masuk ke dalam kamar, kita bisa merasakan bagaimana situasi di dalam kamar? Bagaimana baunya? Bagaimana perasaanmu? Adakah hal yang menarik perhatian? Adakah benda-benda yang membuat kamu merasa yakin menggambarkan pemiliknya? Ataukah justru ada hal-hal kontras dengan kepribadian pemilik kamar? Mungkin lucu kalau seorang yang macho ternyata menyimpan koleksi makanan di kamarnya.
 
Tapi, tidak berarti kamu harus benar-benar menggunakan kelima indera Kamu dalam menulis. Bayangkan bakal sepanjang apa deskripsi kamu. Gunakan sebagai bagian dari cerita. Mungkin Kamu cukup memakai mata dan telinga saja. Atau kalau kamu sedang menggambarkan dapur, kenapa tidak menggabungkan mata dan hidung? Ada kalanya perasa dan mata saja cukup, ada kalanya penciuman dan pendengaran cukup. Kamu yang lebih tahu.
 
Seorang pembaca tidak perlu tahu dimana posisi DVD set dan di mana kamu meletakkan poster Linkin Park, kecuali kamu mau meletakkan senjata pembunuh di sana. Yang diperlukan adalah emosi yang muncul saat kamu menggambarkan ruangan tersebut. Apakah kamu ingin mengesankan ruangan yang kotor? Ruangan yang dingin? Ruangan yang baru saja dibuat? Coba baca deskripsi di bawah ini.
Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon kumashidi yang rindang, Nakamura tua memandang ke seantero taman yang luas dan penuh pengunjung itu. Berpuluh atau bahkan beratus koinobori berkibaran seperti ikan berenangan dihembus angin musim semi yang hangat. Tiang-tiangnya menancap kuat-kuat; memenuhi taman yang rindang oleh pepohon besar dan bebungaan yang ditata rapi, yang memberikan kesejukan di musim panas dan menimbulkan kesan hangat di musim dingin. — Herlino Soleman, Koinobori
Saya menyukai bagaimana penulis di atas memakai tiga indera dalam menggambarkan suasana. Saya bisa merasakan semilir angin yang hangat. Saya juga bisa mendengar ramainya pengunjung saat Herlino menuliskan kata ‘penuh pengunjung’ dan pada saat bersamaan melihat koinobori beterbangan. Saya merasa ada di sana. Bagaimana dengan kamu? Sekali lagi, perhatikan terjemahan bebas di bawah ini:
Serena Caudill mendengar langkah dari luar dan deritan pintu kabin dan ia tahu bahwa John datang. Ia terus menusuk ayam panggangnya yang semakin cokelat.
“Di mana Boone?”
“Lagi mutar, kayaknya.”
Ia mengangkat kepalanya dan melihat John menutup pintu dari hujan, melihatnya menutup pintu tanpa berbalik sementara matanya malah memperhatikan dapur yang remang-remang. Ia bersandar pada dinding, membuat ketukan tak teratur pada lantai, mulai menggantungkan mantelnya, berpikir sejenak, lantas memakainya kembali menyelimuti lehernya. Dalam kehangatan kamar, aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah mengalir dari dirinya.
–A.B. Guthrie, The Big Sky
Ini contoh deskripsi mengenai ruangan tanpa kamu harus menyebutkan posisi benda. Dari sana, kita udah mendapat gambaran tentang ruangan itu. Kamu nggak perlu capek-capek memberi tahu posisi benda-benda yang ada di sana. Cukup beritahu yang penting-penting aja. Perapian, pintu yang berderit, lantai, tempat menggantungkan mantel, dapur yang remang-remang dan bau. Hmm… kamu bisa membayangkan ‘aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah’, kan? Itulah yang saya maksud dengan deskripsi yang baik. Cukup citra yang ingin kamu benamkan pada pembaca saja yang kamu tampilkan. Nggak perlu bertele-tele. Jadi bagaimana merevisi tulisan seperti di atas? Saya mengusulkan seperti ini:
Angie mengira ia akan menemukan markas tentara di kamar Reza. Tapi ia salah. Tidak ada ranjau kabel yang menyandung kakinya ataupun barikade tumpukan majalah lama yang menghalangi jalannya. Dengan nuansa merah hitam dan komputer dan audio set , kamar Reza terkesan maskulin.
Meskipun begitu, Angie mulai menyukai kamar itu saat mencium wangi musk di sana. “Mau minum apa, Gie?” Reza menekan channel yang menampilkan musik rock. Bukannya menjawab, Angie malah menjerit.
"Ya ampun!” Angie langsung duduk di samping Reza.
Ini konser Linkin Park di Jepang, kan?” “Kamu suka Linkin Park?” tanya Reza heran. “Emangnya cewek seperti saya ini nggak cocok jadi fans mereka?” Angie pura-pura marah. “Saya suka sekali sama mereka, terutama yang itu,” Angie menunjuk sebuah poster di atas tempat tidur Reza, “Mike Shinoda.”
Saya menggunakan dua indera di atas: mata dan hidung. Saya juga berhasil menghemat 99 dari 224 kata paragraf aslinya. Bandingkan dengan paragraf aslinya. Adakah esensi cerita yang hilang? Kalau kamu mau, kamu bisa membuat revisinya versi kamu sendiri. Kamu mungkin bisa bikin yang lebih bagus dari saya.

Wawancarailah Karakter Anda

posted: Thu 1st Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Membentuk karakter cerita, menurut saya, adalah salah satu bagian tersulit sekaligus terpenting dalam pembentukan cerita. Biasanya, begitu sudah mengenal tokoh saya akan lebih mudah untuk mengembangkan plot karena saya bisa menggunakan berbagai sifatnya (atau sifat lain) untuk menjebloskannya ataupun mengeluarkannya dari konflik.

Seorang guru mengatakan pada saya bahwa ia menggunakan tehnik wawancara pada tokoh rekaannya. Jadi bayangkan Anda berada di dalam satu ruangan dengannya dan berbicara padanya. Seperti apa dia? Bagaimana cara ia duduk? Bagaimana cara ia memainkan rambutnya? Apakah ia terus menerus melihat jamnya? Semakin lama Anda ‘berbicara’ padanya, Anda akan semakin mengenalnya.

Cara lain yang sering saya gunakan adalah dengan mengisi tabel seperti di bawah ini. Tabel ini tentu saja tidak sempurna. Anda dapat memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan Anda.


Atribut Dasar
Nama Lengkap:
Panggilan :
Jenis Kelamin :
Gender :
Berat/Tinggi Badan :
Warna/Gaya Rambut :
Warna Mata :
Gaya Busana :
Dandanan :
Kemampuan Fisik :
Keterbatasan Fisik :

Latar Belakang
Status Sosial :
Tempat/ Tanggal Lahir :

Profil Orang Tua

Ayah
Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan anak :

Ibu

Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan anak :
Struktur Keluarga :

Saudara:
Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan tokoh :

Kisah Singkat

Bagaimana hidup tokoh sebelum cerita dimulai?

Bagaimana masa kecil tokoh?

Apa masa tersulit dalam hidup tokoh?

Apakah hidup sesuai dengan harapan tokoh?

Apakah tokoh memiliki penyesalan?

Situasi khusus apa yang membuat tokoh seperti sekarang?

Kejiwaan
Sifat :
Tujuan Hidup :
Hidup, karir, atau tujuan hidup yang keluar dari alur cerita :
Karakteristik pembeda :
Introvert? Ekstrovert? :
Pakai otak atau Pakai perasaan? :
Fobia :
Harapan dan Keinginan :
Kontradiksi terbesar dalam hidup karakter :
Seberapa Egois? :
Makanan dan Minuman Favorit :
Pendidikan Penting :
Aktivitas paling dibenci :
Aktivitas paling disukai :
Rahasia paling dalam :
Sense of humour :
Yang dipuja karakter :

Filosofi dan Moralitas
Sikap terhadap
Diri Sendiri :
Orang Lain :
Persahabatan :
Seks :
Cinta :
Keluarga :
Pernikahan :
Negara :
Dunia :
Agama :
Character’s Quotations :

Gaya Hidup
Sahabat Terbaik :
Pekerjaan :
Sikap terhadap pekerjaan :
Pencapaian :
Terkenal/Tidak Terkenal :
Organisasi :
Musik Kesukaan/Band favorit :
Hobby :

Catatan:
Daftar ini bukan milik saya. Bila Anda merasa sebagai pemilik daftar ini, silahkan hubungi saya.

Stereotip dan Penciptaan Karakter

posted: Wed 30th Nov, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Karakter seperti apa yang Anda lihat setiap hari di televisi?
 
Biasanya, daftarnya tidak jauh dari daftar seperti di bawah ini.
 
  • Tokoh utama perempuan lemah, suka menangis, manis, suci seperti malaikat, tidak berdaya, tidak bisa berjuang, kadang dibuat miskin agar lebih menderita, tapi yang pasti: selalu tertindas tanpa bisa berbuat apa-apa.
  • Kalimat favorit dimulai dengan kata, “Ya Tuhan…”
  • Tokoh utama laki-laki Tampan (harus!), kaya (harus juga!), romantis, kadang-kadang jago silat, selalu tergoda dengan saingan tokoh utama perempuan, tidak mau mendengar perkataan tokoh utam perempuan.
  • Saingan tokoh utama Cantik (harus!), selalu punya rencana jahat, penggoda, berpakaian seksi, mata melotot. Kalimat favorit, “Rasakan pembalasanku nanti!”
  • Ibu Tiri kejam, memiliki mata melotot, sadis, suka memukuli anak tiri tapi bersikap manis di depan sang ayah.Tidak ada kalimat favorit karena mereka lebih suka melotot.
  • Ayah bodoh karena tidak bisa melihat penderitaan anaknya, tidak mau mendengarkan anaknya, suka membentak bahkan untuk kesalahan kecil.
  • Penjahat Karakter penjahat biasanya terbagi menjadi dua, mereka yang bodoh dan mereka yang suka melotot dan tertawa keras-keras. Mereka juga kejam, punya anak buah yang bodoh. Kalimat favorit mereka, “Ayo! Hajar dia! Ha..ha..ha..ha….”
  • Polisi datang terlambat. Ustadz
  • Ustadz tukang usir hantu, suci, tidak memiliki dosa.
Apa pendapat Anda tentang karakter-karakter tersebut? Josip Novakovich, pengarang Berguru kepada Sastrawan Dunia (Mizan, 2003) menyebutnya sebagai tokoh rata. Saya cukup menyebutnya sebagai tokoh yang membosankan.
 
Kenapa? Karena mereka tidak seperti manusia nyata. Rasanya begitu tokoh di atas muncul, kita sudah langsung dapat menebak sifatnya. Seorang tokoh yang baik memiliki sifat seperti manusia. Itu artinya ia memiliki sifat baik dan sifat buruk. Sifat-sifat tokoh itulah yang akan menggerakkan cerita.
 
Katakan, apa asyiknya melihat ibu tiri yang terus-terusan kejam dari episode 1 sampai 1000? Apa asyiknya melihat tokoh utama terus-terusan menderita dan hanya bisa berdoa? Apa asyiknya juga melihat semua penjahat selalu tertawa seusai berbicara?
 
Tokoh ibu tiri favorit saya, sampai sekarang adalah ibu tiri Cinderella di dalam kisah Ever After yang diperankan dengan bagus oleh Angelica Houston. Ya, ia kejam hingga menjual pelayan sebagai budak demi mendapatkan uang. Tapi ia perlu memukuli anak tirinya hanya untuk menunjukkan ia kejam. Ia bahkan anggun, berkelas meskipun memiliki sifat licik.
 
Ketika anak tirinya bertanya mengapa sang ibu tidak pernah mencintainya, ia hanya menjawab, “Bagaimana mungkin seseorang mencintai kerikil dalam sepatunya?
 
Jadi, buatlah tokoh Anda memiliki sifat yang kompleks. Pikirkan berbagai macam perpaduan. Bagaimana dengan penjahat yang berjuang menjadi ayah yang baik dan melindungi keluarganya? Bagaimana kalau tokoh utama kita cantik, anggun, sedikit latah, sedikit suka berbohong, sedikit suka berpura-pura dan menyembunyikan fakta kalau dia suka sekali mengupil kalau tidak ada orang? Bagaimana kalau kita menampilkan saingannya yang sangat menyenangkan hingga kita akan sulit membencinya? Bagaimana kalau tokoh utama laki-laki kita ini baik, memiliki sifat kekanak-kanakan namun membenci anak-anak, memiliki selera baju yang buruk serta cara tawa yang aneh? Bagaimana kalau mereka semua bertemu dalam satu cerita? Saya percaya karakter yang unik akan membentuk plot cerita yang unik pula. Dan cerita yang unik akan tinggal lebih lama di dalam hati pembaca.

Majalah Cerita Kita

posted: Tue 29th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Majalah

Majalah Cerita Kita Edisi 1

Judul : Cerita Kita

Edisi : 1

Pertama-tama saya harus mengungkapkan kalau sebenarnya saya senang dengan kehadiran majalah baru ini. Tentu saja, sebagai penulis, saya mendapat tempat baru untuk mengirimkan naskah saya. Tetapi sebagai editor, saya kecewa berat. Alasan pertama saya membeli majalah ini adalah karena editornya, atau lebih tepatnya, editor tamunya: Jujur Prananto, Putu Wijaya, dan Seno Gumira Ajidarma.

Mereka adalah nama-nama yang saya junjung tinggi di dunia penulisan. Saya percaya mereka memiliki selera tinggi dalam membuat cerita. Jadi terus terang saya berharap banyak pada majalah kumpulan cerita pendek remaja ini. Tidak banyak majalah remaja yang memuat cerita bermutu kecuali Gadis dan Annida. Maaf, Aneka Yess, saya selalu kecewa dengan kualitas cerita pendek kamu.

Namun setelah membaca cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini saya jadi bertanya-tanya. Apakah para editor tamu ini benar-benar membaca cerpen yang dimuat? Atau majalah ini hanya mendompleng nama-nama mereka supaya majalah ini jadi kelihatan keren? Terus terang, hanya beberapa cerpen yang ‘layak’ naik cetak sementara sisanya, lebih baik dikembalikan ke penulisnya saja. (Sebenarnya semua cerpen yang ada saya beri catatan, tapi saya mengerti pekerjaan editor. Kalau semuanya dikembalikan, apa yang mau dicetak sementara deadline sudah dekat dan bos tidak mau mengerti? Jadi saya memaafkan beberapa cerpen.

Cerpen-cerpen tersebut adalah…

1. Strike Two! Dari segi deskripsi sudah bagus, tapi dia gagal menunjukkan Malya sebagai gadis yang menyebalkan. Maksud saya kalimat seperti “Saya mau nambah iced lemon tea-nya, ya? Jangan terlalu manis kayak tadi, lho. Saya kan bayar di sini” tidak cukup meyakinkan saya bahwa gadis ini perlu diguyur dengan minuman. Ataupun ketika Malya tidak berterima kasih pada pelayan saat pesanannya datang. Please, deh. Banyak kok dari kita yang melakukannya. Kalau kelakuan Malya ini meyebalkan, apa panggilan buat orang yang sibuk membaca majalah saat berada di tengah-tengah acara makan bersama dan mengharapkan ia ikut ngobrol?

  1. Satu Cerita Untuknya Untuk apa menceritakan bapak Zheeta suka memukul anaknya? Supaya anaknya kelihatan sebagai tokoh menderita?
  2. Pasti Untuk apa menceritakan asal nama Flora Anggraini sepanjang dua paragraf panjang yang tidak ada hubungannya dengan cerita?
  3. Sleeping Handsome Apakah Anda mengirim draft pertama Anda tanpa diedit lebih dahulu? Dongeng memang menarik sebagai sumber inspirasi, tapi cerita ini mentah. Saya tidak tahu apa guna tokoh Max dan Nizze bila kemudian yang menjadi fokus adalah Uno dan Lizze. Penulis terlalu bertele-tele dengan pembukaan hingga akhirnya tergopoh-gopoh menutup ceritanya tanpa perlu merasa membangunkan si Sleeping Handsome ini.
  4. Kantin Sekolah. Terus terang saya tidak suka dengan deskripsi yang menggunakan bahasa percakapan. Saya tidak suka dengan ide memunculkan nenek-nenek hantu yang memburu laki-laki, tapi okelah terlalu banyak hantu di televisi dan saya tidak menyalahkan kalau itu memengaruhi penulis. Bila memang itu idenya, tampilkan ide ini dari awal. Potong dua halaman awal dan fokuskan pada misteri nenek lampir di kantin sekolah saja. Beri kepribadian apa nenek lampir itu, motivasinya, alasannya, kegalauannya… Anda akan satu tingkat di atas sinetron hantu TV.
  5. Cantik Saya suka dengan ide seorang gadis yang membenci kecantikannya sendiri. Tapi sang penulis merusak ceritanya sendiri dengan memasukkan kalimat “Hhhh….jijik ya badanku.” setelah diperkosa mantan pacarnya. Penulis juga terlalu banyak mendongeng (tell) dan tidak menunjukkan (show) pada pembaca. Pada akhir cerita, saya bukannya memahami mengapa ia merusak wajahnya, tapi malah ingin meneriakinya sebagai perempuan bodoh. Kenapa harus merusak wajah bila sekarang dia sudah punya pacar yang baik? Kalau saya jadi penulisnya, saya akan membuat ‘aku’ diperkosa lagi oleh pacarnya yang sekarang, Seto, dan setelah itu barulah ‘aku’ merusak wajahnya sendiri.
Bila saya menjadi editornya, saya akan mengembalikan naskah-naskah tersebut. Percayalah, kalau mereka adalah penulis yang baik, mereka tidak akan jatuh sakit bila naskah mereka dikembalikan.
 
Penolakan justru akan membuat mereka menjadi penulis yang lebih baik karena mereka akan terus belajar dan terus belajar. Setiap anak yang belajar berjalan juga belajar untuk jatuh. Tapi mereka tidak berhenti berjalan, kan? Memuat naskah cerita yang sembarangan justru akan membuat mereka tidak berkembang dan yang pasti membuat orang enggan untuk membeli edisi majalah ini
 
Tenang saja, dear editors. Ini adalah edisi pertama Anda. Kita semua kacau pada penampilan perdana kita. Karena itu Tuhan menciptakan kesempatan kedua. Saya tunggu peningkatan kualitas cerita-cerita Anda. Untuk pembaca blog ini, belilah majalah ini dan belajarlah dari sana. Saya bahkan mendapatkan ide cerpen baru kok dari sana.

Mutiara Hati

posted: Mon 28th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron

Judul :Mutiara Hati

Episode : Minggu, 27 November 2005

Pemain : Inneke Koesherawati, LuckyHakim, Renny Yuliana, Anita Lorenza, Tizza Radja, Novi Aulia.

Saya memiliki pengakuan dosa hari ini. Saya menonton Mutiara Hati bukan untuk menghujat atau menertawakan kebodohan sinetron ini. Saya menonton sinetron ini demi satu orang: Lucky Hakim.

Terus terang, Lucky Hakim memainkan peran yang lumayan apik dan berkesan di film besutan Deddy Mizwar, Ketika. Itu alasan yang sama dengan ketika saya menonton Cinta Memang Gila (Ada Irwan Chandra di sana) ataupun ketika saya nonton Red Eyes (Cillian Murphy!). Siapa peduli dengan ceritanya?

Ups! Apa yang baru saja saya katakan? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Betapa lemahnya iman saya! Baru disodori wajah tampan saja sudah menggelepar dan lupa tujuan semula! Oke. Konsentrasi. Kembali ke tujuan semula. Membantai. Menghujat. Tanpa Ampun. Lucky Hakim. Arrrggghhhh! *

Ehm. *Kali ini benar-benar berkonsentrasi*

Adegan yang paling menarik perhatian saya (dan memang pantas diberi catatan) adalah adegan di TK. Sungguh menarik (baca: garing banget) melihat dua penjahat ala Home Alone berusaha mendobrak masuk ke sebuah ruangan TK. Kelakuan mereka begitu konyol hingga membuat malu persatuan penjahat sinetron seluruh Indonesia. Tidak bisa menemukan cara mengintip ruangan. Jatuh ke kolam dan hampir menelan ikan. Tidak berdaya begitu dipukuli buku oleh ibu guru. Ck..ck..ck…

Lebih hebat lagi adalah si Nabila. Sungguh, dia adalah anak TK paling cerdas yang pernah saya lihat. Bahkan seharusnya Nabila yang menjadi guru TK sementara gurunya cukup menjadi murid TK saja. Masa’ anak TK bisa menjadi decision maker untuk lapor ke satpam? Bukan itu saja, ia bisa menugaskan temannya untuk kabur melalui jendela sementara sang guru hanya berdiri di pojokan memeluk murid-muridnya.

Saya memang bukan psikolog, tapi setahu saya, anak pada usia TK belum mampu berpikir secara abstrak (Kalau disuruh memilih antara dua buah gelas dengan bentuk berbeda sementara isinya sama, mereka pasti memilih yang lebih tinggi karena mengira isinya lebih banyak.)

Lalu, bagaimana mungkin saya bisa percaya seorang anak kecil bisa melakukan pengambilan keputusan sekaligus pengalokasian tenaga kerja yang ada? Saya ingin mengkritik lebih panjang lagi, tapi mendadak wajah Lucky Hakim muncul.

Aduh, mendadak mulut saya kaku dan saya terpesona sekaligus takut. Jangan-jangan memang hanya ini yang sebenarnya dijual oleh pedagang sinetron kita. Tampang. Siapa yang peduli dengan cerita? Siapa yang peduli dengan kualitas akting mereka? Bukankah itu alasan mengapa orang memasang Shandy Aulia dan Samuel Rizal (lagi) meskipun mereka tidak bisa akting? Lalu apa bedanya pedagang sinetron kita dengan pembuat video porno?

Ya, Tuhan, berilah kekuatan pada saya untuk terus berjuang dan berkata tidak pada sup laler-sup laler ijo ini. Dan tolong, singkirkan Lucky Hakim dari layar TV. Dia benar-benar merusak konsentrasi saya.

Si Yoyo 3

posted: Mon 28th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron

Judul: Si Yoyo
Episode: 2 Season 3
Tayang : Minggu, jam 20.00
Pemain: Teuku Ryan, nena Rosier, Arif Rivan, Bemby Putuanda, Bobby Rahman, Agung Surya Putra, Welsen Lowis

Hari minggu sore adalah hari yang sempurna untuk memakan sup laler ijo karena ada sederetan sinetron secara beruntun yang dijamin akan membuat perut Anda mual. Mulai dari Mutiara Hati hingga sinetron favorit kita semua, Si Yoyo.

Tentu saja setelah si Yoyo ada Celana Bulu Jin. Tapi mendadak setelah menonton si Yoyo, saya terbatuk-batuk dan suhu badan saya mulai naik (Ini beneran, kok!). Saya tahu, badan saya sudah tidak sanggup lagi untuk memakan sup laler ijo berikutnya. Jadi mohon maaf, saya hanya bisa menonton sampai Si Yoyo 3 saja.

Si Yoyo, pada awalnya, adalah sinetron yang lahir karena mengikuti trend. Karena trend saat itu adalah sinetron anak idiot yang diperankan oleh Anjasmara, maka lahirlah Yoyo yang idiot. Lalu memasuki season ke dua, Yoyo berubah menjadi ustadz sebagaimana trend yang berlaku. Kalau saja trend sinetron saat ini adalah sinetron tentang banci, kita semua akan melihat Yoyo berubah menjadi Aming.

Sialnya, Yoyo tidak cukup berhenti di Yoyo 2 saja. Yoyo memasuki season ketiga. Pada tahap ini, saya sungguh mengharapkan Teuku Ryan berubah menjadi Aming atau Gatotkaca sekalian. Sayangnya doa saya tidak terkabul. Yoyo masih tetap berkarir sebagai ‘ustadz hiasan’.

Cerita sudah tidak terfokus lagi pada Yoyo. Bahkan kalau kita tidak lihat judulnya, kita akan mengira sinetron yang kita tonton adalah bagian dari episode “Ya Ampun”, “Kutukan Illahi”, “Hukuman Tuhan”, “Tuhan Maha Sadis”, ataupun “Orang Beriman Selalu Pasrah.” Yoyo hanya muncul di sela-sela cerita sebagai penggembira ataupun sebagai orang yang hanya bisa memberi nasihat tanpa berbuat apa-apa (tapi saya rasa masih lebih baik sih daripada di Yoyo 2 di mana Yoyo mengeluarkan cahaya untuk menghantam musuhnya.. ck..ck..ck…).

Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Tidak ada yang berubah. Seorang muslim yang bertaqwa difitnah membunuh orang hingga akhirnya ia tidak bisa menguburkan anaknya yang meninggal. Yoyo.. Yoyo.. kenapa orang-orang kampung yang bodoh itu tidak kamu hantam saja dengan yoyomu eh sihirmu?

Oh, ngomong-ngomong tentang orang kampung. Saya selalu bertanya-tanya. Kenapa mereka semua ditampilkan sebagai orang yang suka demo dan berteriak dengan kalimat yang sama seperti di bawah ini?

“Pergi kamu dari sini!”

“Dasar pembunuh!” “

Kami tidak sudi menerimamu lagi!”

“Kalian manusia-manusia biadab!”

“Murtad!”

“Kalian mencemari kesucian kampung ini!”

Oh, yuck! Saking seringnya saya melihat adegan ini, saya percaya, setelah mereka main di satu sinetron mereka akan pindah syuting ke sinetron lain tanpa perlu membaca naskah ataupun mengganti properti. Cukup membawa golok dan api saja.

Pada tahap ini, saya mengira Yoyo akan muncul dan membela orang yang difitnah. Tapi mengejutkan, ternyata cerita si Yoyo memiliki ‘twist’. Yang menolong orang muslim yang ditindas ini bukanlah Yoyo, melainkan makhluk putih bercahaya. Ia muncul saat keluarga yang difitnah itu sholat dan jatuh tertidur bersama (atau memang disihis supaya tidur). Makhluk itu lantas menguburkan mayat anak kecil itu dengan kekuatan spesial penggali kubur setelah memamerkannya ke orang-orang kampung (yang lagi-lagi hanya bisa berteriak).

Mau tahu yang lebih hebat lagi? Ia mengeluarkan sinar seperti petir dan langsung menyambar orang-orang yang memfitnah tokoh cerita kita. Saya memang lagi nggak enak badan, tapi begitu melihat adegan ini, mendadak suhu badan saya naik dan batuk saya langsung makin parah. Argh! Enough is enough! Saya nggak sanggup lagi makan sup laler ijo ini. Biarlah saya mengundurkan diri dan merelakan juara fear factor edisi menjijikkan ini jadi milik orang lain. Saya mau muntah di belakang dulu.