Hindari Kebetulan

posted: Thu 1st Jun, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Alur
Seberapa banyak kita menemukan adegan kehidupan kita yang kita anggap sebagai kebetulan? Saat kita tidak punya uang, kebetulan orang tua kita memberikan uang. Saat kita tidak mendapat kendaraan umum pas pulang kerja larut malam, tiba-tiba saja BMW bos kita menawarkan tumpangan. Saat kita butuh alasan untuk kabur dari kantor, kebetulan bos juga tidak masuk kantor. Kalau dipikir-pikir, hidup ini penuh kebetulan, bukan?
 
Memang. Tapi sayangnya, aturan serupa tidak berlaku di dunia fiksi.
 
Kenapa? Sederhana saja. Karena kebetulan itu tidak asyik. Apa Anda mau menonton atau membaca hanya untuk menemukan musuh tokoh Anda akhirnya mati tertabrak truk yang kebetulan lewat? (Maaf, saya menggunakan ending Mission Impossible III sebagai contoh.)
 
Mungkin jawabannya iya bila Anda memiliki tokoh dan alur yang kuat pada awal dan pertengahan cerita. Meskipun demikian, tetap saja unsur kebetulan membuat cerita jadi kurang kuat. Kesannya malah Anda sebagai penulis nggak kreatif atau malah sudah putus asa menyelesaikan cerita. Bagaimana cara agar tokoh kita tahu sahabatnya selingkuh dengan kekasihanya? Buat saja agar tokoh kita kebetulan memergoki kekasihnya mencium sahabat tokoh kita.  Selesai deh masalahnya.
 
Tapi tunggu sebentar. Masalah memang selesai menurut Anda, tapi apakah cukup asyik bagi pembaca? Apakah cara penyelesaian masalah yang kebetulan seperti ini akan terus diingat pembaca? Sayangnya jawabannya tidak.
 
Kalau kita mau rajin berpikir, ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah si tokoh. Bagaimana kalau kita buat tokoh kita menyadari bahwa lagu yang dibuat kekasihnya bukan ditujukan bagi dirinya, tetapi untuk sahabatnya? Bagaimana kalau kita buat tokoh kita menyadari bahwa sang kekasih dan sahabat sering menghilang pada saat yang bersamaan?
 
Biarkan tokoh Anda berpikir, mengaitkan banyak pertanda yang Anda jatuhkan sepanjang cerita, dan akhirnya berhasil mengambil satu kesimpulan bahwa kekasihnya selingkuh. Bukankah hal ini akan lebih diingat pembaca daripada sekedar membuat adegan ciuman untuk memecahkan masalah?

Jangan Menunggu Mood

posted: Mon 22nd May, 2006, categories: Bertanya Pada Laler Ijo

Berikut ini adalah surat yang dimuat di salah satu milis kepenulisan. Sudah sedikit lama, tapi menurut saya tetap relevan untuk dibahas.

Hai semua,

Saya Bagus, Bali, saya punya masalah nih.

Di otak saya selalu ada ide dan inspirasi, tapi untuk menuangkannya ke dalam tulisan saya perlu mood, waktu atau tempat khusus. Sementara saya sekarang disibukkan oleh pekerjaan saya sebagai penjaga warnet.

Saya yakin bisa menuangkan isi otak saya ke atas kertas dengan catatan saya tidak disibukkan oleh pekerjaan. Tapi kalo saya tak kerja perut saya akan kelaparan.

Gimana dong, biar saya bisa aktif menulis dan juga bekerja untuk bisa survive hidup. Mungkinkah saya bisa menulis dengan perut lapar?

Bagus,

Idealnya semua penulis terkurung di dalam kamar cantik di atas gunung, dilengkapi dengan fasilitas komputer, perpustakaan, dan audio super lengkap, serta dijaga oleh tiga ekor naga raksasa di luar. Naga pertama untuk menendang boss kita yang hendak memberikan pekerjaan tambahan, naga kedua untuk menjaga agar keluarga dan teman agar tidak masuk, dan naga ketiga untuk mengusir editor kita. Dengan cara hidup seperti itu, kita –para penulis- bisa menulis dengan tenang.

Tapi sayangnya, tidak semua penulis hidup dalam kemewahan seperti itu. (Percayalah, saya juga mau punya naga seperti itu) Sebagian besar dari kita harus membanting tulang untuk bekerja, mengejar dosen, melakukan tugas sekolah hingga di akhir hari tidak ada yang tersisa kecuali badan yang rasanya mau remuk. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Anda menemukan waktu ideal untuk menulis? Dan jika Anda hanya mau menulis saat waktu ideal datang, kapan cerita Anda mau selesai?

Mari saya beritahu sesuatu, Bagus. Ide cerita terbaik kadang-kadang muncul justru bukan di waktu ideal kita. Kalimat, ending, konflik, karakter terbaik saya tercipta justru saat saya sedang naik angkutan umum. Saat itu juga saya menuliskannya tanpa peduli tatapan orang. Anda ingin tahu di mana Stephen King menuliskan novelnya pada awal-awal karirnya? Di atas mesin cuci saat istirahat makan siang (saat itu ia bekerja di binatu).

Penulis yang baik harus bisa mengatasi mood-nya, Bagus. Ia tidak boleh dibatasi ruang dan waktu tertentu untuk menghasilkan karya. Contohlah para wartawan. Apa jadinya koran bila wartawannya hanya bisa menulis bila sedang mood?

Jadi saran saya, teruslah menulis di sela-sela pekerjaan Anda. Bila Anda sedang tidak diganggu klien, menulislah. Bila Anda punya waktu senggang saat makan siang, menulislah sambil makan. Bila Anda berada dalam perjalanan pulang, menulislah saat menunggu angkutan umum. Mungkin yang lahir adalah coretan-coretan kasar yang tidak terbentuk. Tapi hal ini jauh lebih baik daripada Anda menulis hanya pada saat ideal Anda.

Menulis bukanlah proses sulap yang sekali abrakadabra jadi. Dia harus dipoles, dipotong, ditambal, disulam hingga akhirnya menjadi karya yang cantik. Kalau Anda hanya menulis saat-saat tertentu saja, Anda yang rugi. Keajaiban ide itu tidak terjadi dengan sendirinya, Bagus. Buatlah keajaiban itu datang.

NB: Lagipula kalau Anda bisa menulis cerita sembari menjaga warnet, itu akan jadi cerita yang bagus untuk biografi Anda kelak. Ya, kan?

Iman: Bule Punya Anak Hitam

posted: Thu 11th May, 2006, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron
Judul Sinetron      : Iman (41): Bule Punya Anak Hitam
Tanggal Tayang   : 6 Mei 2006 di SCTV
Pemain               : Suti Karno, Aminah Cendrakasih, dan lain-lain yang gak penting.
Produksi             : MD Entertainment
 
Ketika pertama kali melihat iklannya, terus terang, saya tertarik. Paling tidak konsepnya menarik bagi saya. Cowok bule, tinggi, putih (meski tidak cakep-cakep amat) mau menikah dengan perempuan Indonesia yang hitam, pendek, gendut (baca: Suti Karno). Ini adalah kisah Cinderella dalam takaran ekstrim.
 
Karena itulah, saya mau merelakan sedikit waktu saya untuk menikmatinya, sambil berharap ini adalah awal dari perbaikan kualitas sinetron. Pada awalnya, saya menyukai sinetron ini. Saya ikut tertawa ketika melihat kikuknya komunikasi seks antara suami istri ajaib ini hingga harus dibicarakan dengan gaya seperti ini.
“Istriku, istriku, mobilnya mau masuk ke dalam garasi.”
“Suamiku, mobilnya silahkan masuk. Garasi sudah dibuka.”
 
Hal yang lucu kembali terjadi saat ketahuan, sang suami ternyata belum disunat. Kebayang kan lucunya sang bule harus menghadapi pisau sunat?
 
Karena kelucuan dan kesegaran ide sinetron ini, saya tidak tega untuk memasukkan cerita ini ke dalam situs ini. Saya harus memberikan penghargaan kepada sinetron yang berusaha untuk memperbaiki diri, bukan? Bahkan saya memaafkan si bule (entah siapa namanya) yang berakting pas-pasan. Tidak apa-apa. Toh target utama situs ini adalah cerita, bukan akting.
 
Tapi, kebaikan hati saya malah disalahgunakan oleh MD Entertainment. Alih-alih berusaha memanjat keluar dari sup laler ijo, ia malah memilih menyelam tanpa napas dengan batu satu ton di kaki. Bahkan ia melakukannya tanpa disuruh atau terpaksa!
 
Kengawuran cerita mulai terasa ketika ada tetangga yang juga suka pada si bule melaporkan kalau Tuti (Suti Karno) selingkuh.  Waduh, pikir saya, alamat sup laler ijo, nih. Dugaan saya jadi nyata ketika sang suami memergoki ada lelaki tidur di samping Tuti.  Mau tahu bagaimana cara Tuti dijebak? Dengan cara memasukkan obat tidur ke dalam minuman Tuti! Di mana ya saya pernah melihat adegan seperti ini? Oh, iya. Di semua sinetron sup laler ijo.
 
Bau sup laler ijo semakin mengental ketika ketika sang suami dideportasi karena tidak punya izin kerja. Tebak apa yang dilakukan para tetangga. Yup! Mereka membakar rumah Tuti karena dianggap melakukan kumpul kebo dengan si bule. Pelajaran logika mana yang mengajarkan bahwa kalau suamimu kembali ke kampung halamannya itu artinya kamu kumpul kebo?
 
Saya semakin tidak bisa memaafkan cerita ini ketika Tuti ternyata hamil dan melahirkan anak yang hitam. Tunggu, dulu bukan di situ bagian anehnya. Anehnya adalah ketika besar, sang anak dihina orang karena hitam.
 
Saya tidak menyukai penggambaran seperti itu. Tapi rasanya sungguh aneh kalau orang dihina hanya karena hitam. Di Indonesia yang berada di garis khatulistiwa lagi! Memangnya tidak ada orang hitam di Indonesia, apa? Apa kata orang Papua atau Ambon kalau melihat adegan ini? Bahwa semua orang Jawa itu diskriminatif? Atau justru sinetron ini hendak membuktikan keminderan kita? Bahwa menikah dengan bule itu hebat dan sebaliknya kita yang berkulit gelap ini lebih rendah dari mereka? 
 
Oke. Mari kita berhenti marah-marah. Apa boleh buat. Toh sup sudah berubah menjadi sup laler ijo. Lebih baik kita ambil apa yang bisa kita pelajari dari sinetron ini.
 
Pertama-tama, ide cerita yang menarik belum tentu jadi jaminan akan bagusnya keseluruhan cerita. Bahkan meskipun Anda membuka cerita dengan cukup menarik. Anda harus menjaga ide itu dari awal hingga akhir. Anda harus memastikan sup Anda tetap hangat dan enak dinikmati hingga tetes terakhir.
 
Kedua, sekali Anda terbiasa menciptakan sup laler ijo, Anda akan sulit keluar dari sana. Punjabi adalah bukti hidupnya.

Buatlah Karakter Yang Tak Terlupakan

posted: Wed 3rd May, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Ada dua kunci sukses untuk menciptakan novel yang bagus, yaitu plot yang menarik dan karakter yang tak terlupakan.
 
Sepanjang sejarah fiksi dan film, ada banyak tokoh yang tak terlupakan. Kita takkan pernah lupa akan tokoh Scarlet O’Hara dalam Gone With The Wind yang begitu berapi-api, bersemangat, namun memiliki obsesi terhadap laki-laki lain yang bukan suaminya (Ashley Wilkes) hingga melakukan hal-hal yang bodoh.
 
Lalu, bagaimana kita bisa lupa akan kapten Jack Sparrow (Pirates of Carribean) yang aneh, suka bercanda, angkuh, tapi pada saat yang bersamaan juga bisa terlihat menarik dan lucu. Bagaimana kita bisa melupakan gayanya yang berdiri angkuh saat kapalnya yang tenggelam perlahan-lahan tiba di pelabuhan?
 
GollumMenariknya, untuk menjadi yang tak terlupakan, karakter Anda tidak perlu menjadi tokoh utama. Bagaimana dengan Gollum dari Lord of the Ring? (Ya, saya tahu saya sering menggunakan Lord of the Ring sebagai contoh. Tapi memang banyak hal yang bisa dipelajari dari karya satu ini, bukan?) Gollum adalah karakter yang unik. Kelihatan lemah, sakit jiwa, tapi terobsesi pada cincin. Lagipula di mana lagi kita akan menemukan tokoh fantasi yang punya kepribadian ganda?
 
Tapi membuat tokoh yang tak terlupakan juga memiliki sisi pedang lain. Ketika mereka tidak melakukan apapun untuk mengembangkan cerita, ketika mereka hanya diciptakan untuk memenuhi layar kaca, dan ketika Anda malah merasa keunikan mereka membuat Anda ingin mengganti saluran atau membuang buku, pada saat itulah karakter Anda menjadi menyebalkan.
 
ugly pinoccioAnda tahu tokoh Pinokio yang disinetronkan? Ia adalah salah satu tokoh yang menyebalkan menurut saya. Ia memang berusaha untuk unik. Bahkan tanpa berusah untuk menjadi unikpun, ia memang sudah unik. Seberapa sering Anda bertemu tokoh yang berasal dari boneka kayu? Alih-alih menjadi unik dan tak terlupakan, ia justru menjadi salah satu tokoh favorit sup laler ijo. Kenapa? Karena gerak gerik mulutnya justru seperti orang kena stroke! Dan karena ia melakukan hal itu sepanjang sinetron, ia pantas masuk daftar tokoh laler ijo.
 
Lalu bagaimana bila kata menyebalkan itu justru yang Anda inginkan? Kalau sudah begitu saya saya hanya bisa memberi nasihat. Berhati-hatilah. Bisa jadi karakter itu menjadi tiket Anda untuk memperoleh sup laler ijo.
 
NB: Seperti apa karakter unik dan tak terlupakan? Anda bisa belajar dari daftar 100 karakter film tak terlupakan sepanjang masa dari sini.

Karakter Itu Harus Logis

posted: Tue 25th Apr, 2006, categories: Cara Memasak Sup

"The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.”
Tom Clancy
 
Seseorang, saya lupa siapa, pernah memberikan komentar ketika saya mengomentari jalannya sebuah cerita yang tidak logis.
 
“Namanya juga cerita,” katanya.
 
Terus terang, saya sedikit kesal ketika mendengarnya. Saya tidak suka kata ‘cerita’ dijadikan pembenaran untuk menciptakan hal-hal yang tidak logis. Seakan-akan kalau Anda membuat cerita, Anda boleh berbuat sesuka hati Anda, termasuk mengabaikan logika pihak paling penting bagi Anda —pembaca Anda. Itu sama saja dengan menganggap pembaca Anda bodoh. Dan percayalah, tidak ada orang yang mau dianggap bodoh.
 
Anda mungkin beranggapan apapun bisa terjadi dalam sebuah cerita. Bukankah seperti itu yang terjadi di dunia nyata? Dunia fiksi, sayangnya, memiliki aturan yang berbeda dengan dunia nyata. Salah satu aturannya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita itu masuk akal atau setidaknya bisa diterima oleh pembaca.
 
Ada dua hal yang cukup rawan dalam masalah logika. Pertama, karakter dan kedua, plot. Pada tulisan ini saya akan menyoroti masalah karakter.
 
Karakter adalah bagian terpenting dalam sebuah cerita karena ia adalah penggerak cerita itu. Nah, dalam rangka menggerakkan cerita seorang atau sebuah karakter harus memiliki motivasi atau alasan. Paling tidak, begitulah umumnya. Ada alasan kenapa tokoh utama memburu penjahat. Ada alasan mengapa orang baik-baik menjadi pembunuh. Dan tentu saja ada penjelasan yang baik mengapa tokoh utama perempuan menjadi gila seperti di bawah ini.
Perempuan berjilbab itu tidak dapat menahan kekecewaannya. Suaminya tidak peduli lagi padanya. Dengan air mata di pipinya, perempuan itu melepas jilbabnya, membuka botol minuman keras milik suaminya dan meminumnya sampai habis. Ia membiarkan minuman itu meracuni pikirannya hingga ia tidak melakukan apa-apa kecuali tertawa sendiri.
 
Tunggu dulu. Perhatikan adegan di atas sekali lagi. Memang ada alasan mengapa perempuan itu gila. Tapi apakah logis? Tidak juga. Kenapa tidak? Karena apa yang dilakukan tokoh tidak sesuai dengan karakter tokoh itu sendiri. Saya perlu bercerita bahwa sebelum adegan tersebut, sang tokoh digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan suka mengingatkan suaminya akan Tuhan. Karena itu menjadi tidak masuk akal ketika sang istri langsung minum-minum ketika sang suami pergi.
 
Lalu seperti apa yang logis itu? Bukankah apa yang dianggap logis menurut seseorang belum tentu logis bagi yang lain? Saran saya, pakailah logika ala masyarakat umum. Secara umum, seorang tokoh yang anggota keluarganya dibunuh akan berusaha mencari pelakunya. Biasanya, orang ditindas terus menerus akan marah dan melawan balik (atau setidaknya kita berharap demikian). Umumnya, perempuan yang ditinggalkan suami tidak akan menjadi gila hanya dalam hitungan detik
 
Kunci untuk melihat logis tidaknya perbuatan karakter adalah dengan memperhatikan karakter itu sendiri. Perhatikan sifat-sifat karakter yang sudah Anda tetapkan untuk karakter Anda. Mungkinkah si A dengan sifat seperti ini mencintai si B hanya karena B memberikan payung di bawah hujan deras? Mungkinkah pemerkosaan yang dilakukan oleh sang ayah merubah pandangan C pada laki-laki? Mungkinkah kegagalan mendapatkan cinta membuat D bunuh diri? Ingat, bisa saja tindakan D menjadi tidak logis bila D adalah sosok yang sangat tegar.
 
Tapi bila ketidakkonsistenan sifat karakter memang menjadi tujuan Anda dalam membuat cerita, berhati-hatilah. Pastikan Anda bermain secantik mungkin hingga pembaca memaklumi perbuatan karakter Anda. Pastikan materi di dalam cerita Anda memang mendukung logika ala Anda. Karena pada akhirnya, meskipun karakter Anda terkesan tidak logis, jika Anda bisa membuat pembaca berada di pihak Anda, Anda sudah menang.

Kala Ide Kamu Mirip Ide Orang Lain

posted: Thu 13th Apr, 2006, categories: Bertanya Pada Laler Ijo
Saya Windy, mahasiswi 21 th. saya lagi menggarap novel, belum selesai dan belum diajuin ke penerbit. Sembari belum selseai saya baca-baca buku kan buat referensi. novel saya udah nyampe bab 14 ketika saya baca novel yang berjudul ‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro, penerbit Grasindo.
Dan saya kaget mampus! Banyak kemiripan novel ‘5cm’ ini dengan novel yang sedang saya buat!BT abis! Dari mulai gaya nulis trus hal-hal kecil yang sifatnya sekedar lelucon, juga tipe tokoh di mana tokoh utamanya bukan 1 tapi kumpulan(bedanya saya bukan geng-an tapi band) terus belum lagi ada unsur filsafat dan minat baca yang ditekenin di novel ini, hanya saja pada novel saya penekanannya lebih tajam karena itu yang mau difokusin. paling2 bedanya juga kalo dia ada unsur2 puitis, kalo saya ngga…karena dibuat seringan mungkin, tapi isinya filsafat dan sekalian berkamapanye ‘minat baca’.
Plisss…saya butuh saran2 kalian terutama mungkin yg udah profesional. saya bingung koq kebetulan2 kemiripannya lumayan banyak (itupun saya baru baca setengahnya novel ‘5cm’ ini). saya jadi bertanya2 sendiri apakah kebetulan2 ini pertanda baik atau buruk buat saya? saya ngerasa kalo novel saya dibaca oleh org yang baca ‘5cm’ akan mengira saya meniru, karena masa hal2 detil aja ada yang mirip?!!!… SAYA FRUSTASII!! novel saya belum terbit,lagi!…saya belum pernah nulis buku sebelumnya….HELLPP!!!! T_T dan jangan bilang mungkin kami punya influence yg sama, ngga! saya jarang baca novel….saya lebih sering baca non fiksi justru.
 
Dear Windy, welcome to real world di mana ide yang menurut kita bagus ternyata udah diambil orang lain. It happened all the time. Justru menurut saya lebih bagus kalau kamu tahu sekarang daripada nanti sudah terbit bisa dituduh plagiat. Saya adalah tipe yang percaya sudah tidak ada yang original di dunia ini dan semua yang disebut sebagai ide baru itu sebenarnya gabungan ide-ide lama yang dicampur jadi satu. (Kalau kamu percaya masih ada karya yang original, tolong tunjukkan pada saya).
 
Jadi, sebenarnya persamaan ide adalah hal yang wajar. Jangan panik. Sekarang, kamu punya dua pilihan. Buang novel kamu, mulai sesuatu yang baru sama sekali atau modifikasi novel kamu. Kalau saya jadi kamu, saya akan pilih yang kedua.
 
Ada banyak hal yang bisa dirubah dalam novel. Mungkin karakter bisa sama. Tapi bagaimana dengan plot? Bagaimana dengan konflik? Bagaimana dengan ending? Bagaimana dengan sudut pandang? Kamu bisa merubahnya. Kalau dulu kamu pakai sudut pandang si A, mungkin kamu bisa pakai sudut pandang si B yang sudah mati dengan konflik yang sama.
 
Dalam Lovely Bones, Alice Seabold menceritakan kisah keluarga yang hancur karena tokoh utamanya meninggal. Tapi karena diceritakan dari sudut pandang si anak yang telah meninggal, hasilnya menjadi beda.
 
Meskipun demikian, kalau mau aman, buang semua detil yang menurut kamu bakal mengingatkan orang pada novel yang lain. Percayalah kamu akan menemukan 1000 ide yang lebih baik lagi.
 
NB: Mungkin kamu perlu cek toko buku sekali lagi. Kalau ada satu yang sama, bisa jadi kamu justru akan menemukan 1000 novel lain dengan ide yang sama. Bila itu terjadi, lebih baik kamu buang saja ide novelmu. Masih banyak ide novel lain yang menarik untuk dieksplorasi.

Jual Sup Laler Ijo Anda

posted: Fri 7th Apr, 2006, categories: Uncategorized

Di antara pilihan di bawah ini, film manakah yang mendapat penonton paling banyak?

a. Realita Cinta & Rock ‘n Roll

b. Rumah Pondok Indah

c. Apa Artinya Cinta

d. Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?

Bila ini adalah kuis di Internet, saya pasti akan mengklik jawaban A.(Saya suka ceritanya, suka pemainnya dan ini adalah film yang paling bagus di antara empat opsi yang ada) Lalu saya akan menunggu beberapa detik dan menemukan hasil sebagai berikut ini.

JAWABAN ANDA SALAH Urutan film dengan jumlah penonton bioskop terbanyak adalah:

1. Apa Artinya Cinta = 1, 5 juta penonton

2. Rumah Pondok Indah = 550 ribu penonton

3. Realita Cinta & Rock ‘n Roll = 300 ribu penonton. *)

‘Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?’ belum diproduksi hingga sekarang karena terakhir kali dihubungi para aktornya masih belum sanggup memakan sup laler ijo.

Demi kumis lelenya Gilbert Marciano! Kok bisa-bisanya deretan sup laler ijo ini dapat penonton paling banyak? Kok bisa-bisanya bodi Vino yang sering dipamerkan di Realita Cinta kalah dengan tukang jualan nasi goreng di Rumah Pondok Indah? Apakah penonton Indonesia buta, tuli, atau dua-duanya?

Meski syok, saya masih bisa berpikir jernih. Setidaknya dengan tampilnya sup-sup laler ijo ini sebagai peraih penonton terbanyak membuktikan satu hal. Kualitas tidak berbanding lurus dengan tingginya pendapatan. Artinya, meskipun karya Anda bagus, Anda belum tentu akan mendapat uang banyak. Artinya lagi, kalau Anda menciptakan sup laler ijo, karya Anda belum tentu jeblok di pasaran. Anda masih bisa mendapat uang. Lalu pakah semua sup laler ijo bisa menjual? Saya ingin berkata ya, tapi sayangnya tidak. Saya percaya ada beberapa syarat agar sup laler ijo Anda bisa terjual.

1. Jadilah satu-satunya produk di pasar. Ketika Rumah Pondok Indah diluncurkan, tidak ada film sejenis yang beredar di pasaran. Gue Jatuh Cinta, Realita Cinta & Rock ‘n Roll, Jomblo merupakan film drama atau drama komedi yang mengincar pangsa pasar yang sama. Rumah Pondok Indah berbeda. Ia campuran segala jenis horor yang tidak jelas tapi mengacu pada pasar yang jelas, pasar yang mencintai film semacam ini. (Saya tidak tega mengatakan pasar masyarakat kelas bawah karena ini berarti saya merendahkan selera mereka) Maka, berjayalah Rumah Pondok Indah.

2. Buat promosi seheboh mungkin. Lupakan kualitas film atau cerita Anda. Lakukan pemasaran gila-gilaan. Gunakan TV, radio, bus kota, dan semua media yang bisa Anda gunakan. Tentu saja ini membutuhkan dana yang amat besar. Tapi apa boleh buat? Anda tidak bisa menggunakan materi cerita Anda sebagai bahan jualan.

3. Jadikanlah agar semua orang membicarakan karya Anda. Peduli amat dicaci maki atau dipuji orang, yang penting semua orang membicarakan karya Anda. Maka buatlah karya Anda dengan dana yang luar biasa tinggi (45 milyar untuk Apa Artinya Cinta), atau buatlah tagline yang aneh seperti milik Rumah Pondok Indah. Film Misteri Terhoror. Adakah tagline yang lebih catchy dari itu?

4. ATM. Ambil, Tiru, Modifikasi. Saya percaya semua karya pada dasarnya memakai prinsip ini. Tapi karya yang bermutu lebih banyak bermain pada kata modifikasi, sementara sup laler ijo lebih banyak memakai prinsip ambil dan tiru. Tapi, siapa peduli dengan originalitas saat contekan bisa menjual? Karena itu Rumah Pondok Indah tidak peduli dibilang mirip dengan House of Wax. Sementara Apa Artinya Cinta menggabungkan formula Eiffel I’m In Love (dengan mempertemukan pasangan Shandy-Samuel) dan ‘terinspirasi’ oleh judul Ada Apa dengan Cinta.

5. Pilih waktu peluncuran yang tepat. Apa Artinya Cinta menggunakan momen liburan saat lebaran. Saya harus mengakui ini pilihan waktu yang tepat. Banyak waktu kosong dan banyak orang Indonesia tidak tahu harus melakukan apa setelah maaf-maafan. Coba kalau mereka memilih momen saat ujian sekolah, hasilnya tentu saja akan berbeda.

Tentu saja prinsip yang sama dapat Anda gunakan untuk tulisan Anda, bahkan bila karya Anda bagus sekalipun. Yang ingin saya tekankan adalah, Anda tidak perlu berkecil hati bila Anda membuat sup laler ijo. Toh, Anda masih dapat menjualnya dengan banyak usaha. (Mungkin sama beratnya dengan usaha mereka yang menciptakan karya yang baik) Tapi jangan salahkan siapa-siapa (termasuk saya) bila kelak Anda dipandang sebagai produsen sup laler ijo. Anda yang memilih membangun reputasi itu.

*) Data diambil dari Bintang Indonesia No 780, April 2006

Perhatikan Tanda Baca

posted: Mon 20th Mar, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Penyuntingan
Saya sebenarnya enggan membicarakan masalah tanda baca ini.
 
Pertama, karena kita sudah mempelajari tanda baca sejak SD, sehingga seharusnya semua penulis yang mengenal sekolah tidak perlu diajari.
 
Kedua, tanda baca relatif mudah dipahami. Beli saja buku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan baca semua aturan yang ada di sana. Anda bahkan tidak perlu menghafalkannya. Cukup buka saat mengedit naskah Anda. Kalau Anda berniat belajar EYD lebih lanjut, Anda juga bisa mampir ke situs polisi EYD. Saya yakin ia lebih pandai dalam menjabarkan EYD daripada saya.
 
Tapi ketika saya menemukan kesalahan –atau setidaknya kekurangakuratan- pemakaian tanda baca– dalam sebuah novel, saya jadi geregetan. Kalau satu hanya satu dua kali, saya masih bisa memaafkan. Namun ketika kesalahan itu terjadi berulangkali, saya tidak bisa menahan diri untuk membicarakan masalah tanda baca ini. Mari saya ambilkan contohnya.

Tapi Rhavi dan Deedek sekaligus!? Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari dalam hutan…! “Suara apa itu!?” “Di sana!!!” ….. membuat makhluk-makhluk itu lebih menyerupai monster daripada sekadar hewan liar biasa…!

Setahu saya, memang tidak ada aturan dalam EYD yang melarang menggunakan tanda “!” dan “?” sekaligus ataupun larangan menggunakan “…..” diikuti dengan “!” Tapi rasanya untuk menggunakan dua tanda seperti itu tidak perlu. Cukup salah satu saja. Lagipula, nada seperti apa yang diharapkan dari pembaca dengan pemakaian dua tanda sekaligus seperti itu? Menambah lebih banyak tanda baca tidak menambah apapun dan malah membuat orang kesal.
 
Ingatlah bahwa novel, cerpen, atau apapun bentuk cerita Anda, adalah sebuah media cetak. Artinya, pembaca tidak bisa melihat ekspresi kita atau mendengar nada kita saat kita menciptakan kalimat tersebut. Satu-satunya harapan ada pada tanda baca.
 
Jadi, luangkan waktu Anda untuk menengok kembali naskah Anda dan memperhatikan tanda baca yang ada. Tidak akan memakan waktu sampai seabad, kok. Lagipula, Anda tidak mau terlihat sebagai penulis (ataupun editor) yang ceroboh, bukan?
 
NB: Jika Anda berniat membeli buku EYD, jangan pelit. Jangan membeli buku EYD seharga 3.000 rupiah. Saya sudah membelinya dan malah gatal untuk mengeditnya. Lucu rasanya melihat buku EYD tapi penuh dengan kesalahan EYD.

Jangan Sempurnakan Tokoh Utama Anda

posted: Tue 7th Mar, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Karakter

Randarumi memiliki kepribadian kuat yang jarang dimiliki pemuda seusianya. Di samping cerdas, ia memiliki daya ingat kuat dan hapalan yang hebat serta kreatif, inovatif, dan memiliki leadership.

Kelebihan lain sudah terlihat sejak kecil. Pada usia 9 tahun hafal Al Qur’an secara keseluruhan. Usia 15 tahun menguasai beberapa hadits di luar kepala seperti kitab-kitab sahih 5 imam yang mansyur (mutafak alaih) yang berjumlah puluhan ribu. Hampir hapal semua puisi karya besar Homer, matsnawinya Jalaluddin Rumi, dan karya sastra Muhammad Iqbal. Berbagai prestasi juara di bidang olah raga, antara lain: menunggang kuda, menembak, arung jeram, dan memanjat tebing. Sementara bela diri yang dikuasinya adalah silat, yudo, karate dan kungfu.

Bagaimana pendapat Anda tentang paragraf di atas? Kalau saya adalah seorang bos dan mencari anak buah atau mertua yang sedang mencari menantu, dia pasti akan jadi kandidat yang sempurna. Dengan catatan kalau manusia seperti dia memang ada. Tapi saat saya menemukan karakter seperti itu di dalam novel yang saya beli, saya ingin lari ke toko buku dan meminta uang saya kembali.
 
Kenapa? Karena ia adalah tokoh utama dan tokoh utama tidak seharusnya sempurna.
 
Oke, mungkin Anda berargumentasi, apa salahnya tokoh utama yang sempurna? Tokoh fiksi itu kan rekaan, jadi seharusnya suka-suka penulis menciptakanya. Mari saya jelaskan mengapa.
 
Pertama, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Bahkan superhero seperti Superman takut pada cryptonite dan Spiderman memiliki masalah dalam pergaulan dan pekerjaan. Adalah kelemahan yang membuat tokoh utama itu menarik dan membuat konflik cerita Anda tetap hidup. Bagaimana kalau musuh Superman memiliki crytonite? Bagaimana kalau Mary Jane lebih memilih laki-laki lain dibandingkan Spiderman?
 
Kedua, tokoh utama yang sempurna itu nggak asyik. Kalau kita tahu dia perkasa, tampan, bisa melakukan dan mengatasi apa saja, lalu buat apa kita menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk membaca ceritanya? Toh kita akan tahu si tokoh ini akan baik-baik saja. Untuk apa membaca cerita yang segalanya baik-baik saja?
 
Sebaliknya, tokoh yang tidak sempurna itu yang asyik. Salah satu tokoh favorit saya adalah Frodo Baggins dalam Lord of the Ring. Mengapa? Karena ia biasa, kecil, tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi dipaksa untuk melawan Sauron yang begitu perkasa. Bayangkan kalau Frodo memiliki ibu peri pelindung atau memiliki kekuatan super yang bisa mengalahkan apapun. Konflik Frodo vs Sauron akan kurang menarik bukan?
 
Ya, Tolkien memang menciptakan sekutu yang kuat bagi Frodo, tapi ingat, mereka adalah pemeran pembantu, bukan tokoh utama. Kita dibuat tetap mengkhawatirkan nasib Frodo hingga detik-detik terakhir. Apakah ia berhasil menghancurkan cincin? Apakah ia akan menang melawan Sauron atau mati? Apakah ia bisa sembuh dari ‘penyakitnya’?
 
Tapi ini bukan berarti Anda harus membuat tokoh Anda seperti bawang putih dalam sinetron yang hanya bisa menangis dan berdoa bila dianiaya. Tokoh semacam itu bahkan lebih menyebalkan daripada tokoh utama yang sempurna. Kalau dia tidak bisa membela dirinya sendiri, kenapa penonton harus simpati padanya?
 

Jadi ambil jalah tengahnya. Lempar tokoh utama Anda ke dalam neraka, berikan ia semua masalah buruk yang bisa menimpa dirinya, tapi bantu dan bekali ia dengan kemampuan untuk menyelamatkan dirinya. Dengan demikian, pembaca Anda akan bersemangat membaca perjuangannya. Perjuangan, penderitaan, dan kelemahan tokoh utamalah yang menjadi bahan bakar cerita Anda. Tanpa itu semua, cerita Anda memiliki potensi untuk menjadi hambar.

Anda masih ingin bernafsu menciptakan tokoh yang sempurna? Kalau begitu, jadikanlah ia musuh utama. Jadikanlah ia seperti Hannibal Lecter atau Sauron. Jadikan ia memiliki kemampuan yang sulit ditandingi oleh tokoh utama. Ia boleh saja memiliki kelemahan jika Anda mau, tapi sembunyikan hal itu dari tokoh utama Anda (paling tidak dalam jangka waktu tertentu). Dengan demikian, pembaca akan merasa cemas dengan nasib tokoh utama Anda. Dan jika pembaca Anda mencemaskan tokoh utama Anda, mereka akan terus membaca cerita Anda.

Pelajaran Memotong Rumput (2): Jangan Mengulangi Apa yang Sudah Dikatakan

posted: Tue 21st Feb, 2006, categories: Cara Memasak Sup
Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ada banyak jenis rumput liar di ‘taman’ tulisan Anda yang mampu membuatnya berubah menjadi hutan. Beberapa jenis, karena halus, tidak terlihat. Tapi ada juga yang terlihat jelas selama kita jeli. Nama rumput yang kali ini kita bicarakan adalah mengatakan-apa-yang-sudah-dikatakan. Rumput ini menyelip di mana-mana dan mengotori taman kita, hanya saja kita cenderung memaafkannya. Mungkin karena rumput ini tidak terlihat berbahaya atau tidak mengganggu taman secara keseluruhan. Atau terkadang, rumput itu membuat taman tulisan kita menjadi lebih kaya, lebih berwarna. Padahal, bila dibiarkan hidup, rumput-rumput ini bisa merusak gaya bahasa atau setidaknya mengganggu reputasi Anda sebagai penulis. Coba tengok kembali tulisan Anda. Apakah Anda menemukan beberapa rumput liar seperti di bawah ini?
Ia menulis otobiografinya sendiri.
Yang namanya otobiografi pasti ditulis sendiri. Jadi seharusnya:
Ia menulis biografinya sendiri.

Mereka saling menyayangi satu sama lain.

Mereka saling menyayangi atau mereka menyayangi satu sama lain. Pilih salah satu.
Ia sangat mencintai istrinya sekali.
Ubah menjadi: Ia sangat mencintai istrinya. Atau yang sangat terkenal:
Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatnya terjun dari jembatan.
Memang bisa melihat dengan mata kepala orang lain? Bagaimana dengan ini?
Menurut pendapat pribadi saya, ia seharusnya dihukum mati.
Kecuali Anda adalah pejabat atau wakil negara yang harus memisahkan pendapat kelompok dengan pendapat pribadi, penggunaan kalimat, “Menurut pendapat saya…” sudah cukup. Kata-kata berikut ini juga sering dipakai. Sekilas tidak ada yang salah, tapi kalau dipikir baik-baik sebenarnya kita menggunakan kata-kata secara berlebihan.
Mundur ke belakang Maju ke depan Naik ke atas Turun ke bawah
Memang ada mundur ke depan, maju ke belakang, naik ke bawah atau turun ke atas? Pembaca Anda tidak bodoh. Kita semua tahu kalau namanya naik pasti ke atas.
Sangat unik Sangat umum
Suatu hal disebut unik kalau ia menjadi satu-satunya. Begitu juga dengan kata ‘umum’. Tidak perlu ditambahkan kata ‘sangat’. Setelah membaca ini, Anda mungkin berpikir, “Ih, nggak penting banget sih kaya gini!” Kalau sebagai penulis Anda berpikir demikian, cobalah untuk melihatnya dari sudut pembaca dan editor Anda. Satu dua kata yang berlebihan mungkin masih dapat dimaafkan pembaca (dan juga editor) bila tulisan Anda benar-benar bagus. Tapi bagaimana bila Anda tidak terbiasa menggunakan kata secara efektif hingga akhirnya Anda memenuhi puluhan atau bahkan ratusan kata-kata dengan kata-kata yang tidak perlu? Bagi pembaca, waktu adalah uang sedangkan bagi editor, setiap penambahan halaman adalah penambahan biaya produksi buku. Hematlah kata-kata seperti Anda menghemat listrik atau air dan dunia akan berterima kasih pada Anda.