Jangan Menunggu Mood
Berikut ini adalah surat yang dimuat di salah satu milis kepenulisan. Sudah sedikit lama, tapi menurut saya tetap relevan untuk dibahas.
Hai semua,
Saya Bagus, Bali, saya punya masalah nih.
Di otak saya selalu ada ide dan inspirasi, tapi untuk menuangkannya ke dalam tulisan saya perlu mood, waktu atau tempat khusus. Sementara saya sekarang disibukkan oleh pekerjaan saya sebagai penjaga warnet.
Saya yakin bisa menuangkan isi otak saya ke atas kertas dengan catatan saya tidak disibukkan oleh pekerjaan. Tapi kalo saya tak kerja perut saya akan kelaparan.
Gimana dong, biar saya bisa aktif menulis dan juga bekerja untuk bisa survive hidup. Mungkinkah saya bisa menulis dengan perut lapar?
Bagus,
Idealnya semua penulis terkurung di dalam kamar cantik di atas gunung, dilengkapi dengan fasilitas komputer, perpustakaan, dan audio super lengkap, serta dijaga oleh tiga ekor naga raksasa di luar. Naga pertama untuk menendang boss kita yang hendak memberikan pekerjaan tambahan, naga kedua untuk menjaga agar keluarga dan teman agar tidak masuk, dan naga ketiga untuk mengusir editor kita. Dengan cara hidup seperti itu, kita –para penulis- bisa menulis dengan tenang.
Tapi sayangnya, tidak semua penulis hidup dalam kemewahan seperti itu. (Percayalah, saya juga mau punya naga seperti itu) Sebagian besar dari kita harus membanting tulang untuk bekerja, mengejar dosen, melakukan tugas sekolah hingga di akhir hari tidak ada yang tersisa kecuali badan yang rasanya mau remuk. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Anda menemukan waktu ideal untuk menulis? Dan jika Anda hanya mau menulis saat waktu ideal datang, kapan cerita Anda mau selesai?
Mari saya beritahu sesuatu, Bagus. Ide cerita terbaik kadang-kadang muncul justru bukan di waktu ideal kita. Kalimat, ending, konflik, karakter terbaik saya tercipta justru saat saya sedang naik angkutan umum. Saat itu juga saya menuliskannya tanpa peduli tatapan orang. Anda ingin tahu di mana Stephen King menuliskan novelnya pada awal-awal karirnya? Di atas mesin cuci saat istirahat makan siang (saat itu ia bekerja di binatu).
Penulis yang baik harus bisa mengatasi mood-nya, Bagus. Ia tidak boleh dibatasi ruang dan waktu tertentu untuk menghasilkan karya. Contohlah para wartawan. Apa jadinya koran bila wartawannya hanya bisa menulis bila sedang mood?
Jadi saran saya, teruslah menulis di sela-sela pekerjaan Anda. Bila Anda sedang tidak diganggu klien, menulislah. Bila Anda punya waktu senggang saat makan siang, menulislah sambil makan. Bila Anda berada dalam perjalanan pulang, menulislah saat menunggu angkutan umum. Mungkin yang lahir adalah coretan-coretan kasar yang tidak terbentuk. Tapi hal ini jauh lebih baik daripada Anda menulis hanya pada saat ideal Anda.
Menulis bukanlah proses sulap yang sekali abrakadabra jadi. Dia harus dipoles, dipotong, ditambal, disulam hingga akhirnya menjadi karya yang cantik. Kalau Anda hanya menulis saat-saat tertentu saja, Anda yang rugi. Keajaiban ide itu tidak terjadi dengan sendirinya, Bagus. Buatlah keajaiban itu datang.
NB: Lagipula kalau Anda bisa menulis cerita sembari menjaga warnet, itu akan jadi cerita yang bagus untuk biografi Anda kelak. Ya, kan?
Iman: Bule Punya Anak Hitam
Tanggal Tayang : 6 Mei 2006 di SCTV
Pemain : Suti Karno, Aminah Cendrakasih, dan lain-lain yang gak penting.
Produksi : MD Entertainment
“Suamiku, mobilnya silahkan masuk. Garasi sudah dibuka.”
Buatlah Karakter Yang Tak Terlupakan
Menariknya, untuk menjadi yang tak terlupakan, karakter Anda tidak perlu menjadi tokoh utama. Bagaimana dengan Gollum dari Lord of the Ring? (Ya, saya tahu saya sering menggunakan Lord of the Ring sebagai contoh. Tapi memang banyak hal yang bisa dipelajari dari karya satu ini, bukan?) Gollum adalah karakter yang unik. Kelihatan lemah, sakit jiwa, tapi terobsesi pada cincin. Lagipula di mana lagi kita akan menemukan tokoh fantasi yang punya kepribadian ganda?
Anda tahu tokoh Pinokio yang disinetronkan? Ia adalah salah satu tokoh yang menyebalkan menurut saya. Ia memang berusaha untuk unik. Bahkan tanpa berusah untuk menjadi unikpun, ia memang sudah unik. Seberapa sering Anda bertemu tokoh yang berasal dari boneka kayu? Alih-alih menjadi unik dan tak terlupakan, ia justru menjadi salah satu tokoh favorit sup laler ijo. Kenapa? Karena gerak gerik mulutnya justru seperti orang kena stroke! Dan karena ia melakukan hal itu sepanjang sinetron, ia pantas masuk daftar tokoh laler ijo. Karakter Itu Harus Logis
"The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.”
Tom Clancy
“Namanya juga cerita,” katanya.
Terus terang, saya sedikit kesal ketika mendengarnya. Saya tidak suka kata ‘cerita’ dijadikan pembenaran untuk menciptakan hal-hal yang tidak logis. Seakan-akan kalau Anda membuat cerita, Anda boleh berbuat sesuka hati Anda, termasuk mengabaikan logika pihak paling penting bagi Anda —pembaca Anda. Itu sama saja dengan menganggap pembaca Anda bodoh. Dan percayalah, tidak ada orang yang mau dianggap bodoh.
Anda mungkin beranggapan apapun bisa terjadi dalam sebuah cerita. Bukankah seperti itu yang terjadi di dunia nyata? Dunia fiksi, sayangnya, memiliki aturan yang berbeda dengan dunia nyata. Salah satu aturannya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita itu masuk akal atau setidaknya bisa diterima oleh pembaca.
Perempuan berjilbab itu tidak dapat menahan kekecewaannya. Suaminya tidak peduli lagi padanya. Dengan air mata di pipinya, perempuan itu melepas jilbabnya, membuka botol minuman keras milik suaminya dan meminumnya sampai habis. Ia membiarkan minuman itu meracuni pikirannya hingga ia tidak melakukan apa-apa kecuali tertawa sendiri.
Kala Ide Kamu Mirip Ide Orang Lain
Saya Windy, mahasiswi 21 th. saya lagi menggarap novel, belum selesai dan belum diajuin ke penerbit. Sembari belum selseai saya baca-baca buku kan buat referensi. novel saya udah nyampe bab 14 ketika saya baca novel yang berjudul ‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro, penerbit Grasindo.
Dan saya kaget mampus! Banyak kemiripan novel ‘5cm’ ini dengan novel yang sedang saya buat!BT abis! Dari mulai gaya nulis trus hal-hal kecil yang sifatnya sekedar lelucon, juga tipe tokoh di mana tokoh utamanya bukan 1 tapi kumpulan(bedanya saya bukan geng-an tapi band) terus belum lagi ada unsur filsafat dan minat baca yang ditekenin di novel ini, hanya saja pada novel saya penekanannya lebih tajam karena itu yang mau difokusin. paling2 bedanya juga kalo dia ada unsur2 puitis, kalo saya ngga…karena dibuat seringan mungkin, tapi isinya filsafat dan sekalian berkamapanye ‘minat baca’.
Plisss…saya butuh saran2 kalian terutama mungkin yg udah profesional. saya bingung koq kebetulan2 kemiripannya lumayan banyak (itupun saya baru baca setengahnya novel ‘5cm’ ini). saya jadi bertanya2 sendiri apakah kebetulan2 ini pertanda baik atau buruk buat saya? saya ngerasa kalo novel saya dibaca oleh org yang baca ‘5cm’ akan mengira saya meniru, karena masa hal2 detil aja ada yang mirip?!!!… SAYA FRUSTASII!! novel saya belum terbit,lagi!…saya belum pernah nulis buku sebelumnya….HELLPP!!!! T_T dan jangan bilang mungkin kami punya influence yg sama, ngga! saya jarang baca novel….saya lebih sering baca non fiksi justru.
Jual Sup Laler Ijo Anda
Di antara pilihan di bawah ini, film manakah yang mendapat penonton paling banyak?
a. Realita Cinta & Rock ‘n Roll
b. Rumah Pondok Indah
c. Apa Artinya Cinta
d. Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?
Bila ini adalah kuis di Internet, saya pasti akan mengklik jawaban A.(Saya suka ceritanya, suka pemainnya dan ini adalah film yang paling bagus di antara empat opsi yang ada) Lalu saya akan menunggu beberapa detik dan menemukan hasil sebagai berikut ini.
JAWABAN ANDA SALAH Urutan film dengan jumlah penonton bioskop terbanyak adalah:
1. Apa Artinya Cinta = 1, 5 juta penonton
2. Rumah Pondok Indah = 550 ribu penonton
3. Realita Cinta & Rock ‘n Roll = 300 ribu penonton. *)
‘Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?’ belum diproduksi hingga sekarang karena terakhir kali dihubungi para aktornya masih belum sanggup memakan sup laler ijo.
Demi kumis lelenya Gilbert Marciano! Kok bisa-bisanya deretan sup laler ijo ini dapat penonton paling banyak? Kok bisa-bisanya bodi Vino yang sering dipamerkan di Realita Cinta kalah dengan tukang jualan nasi goreng di Rumah Pondok Indah? Apakah penonton Indonesia buta, tuli, atau dua-duanya?
Meski syok, saya masih bisa berpikir jernih. Setidaknya dengan tampilnya sup-sup laler ijo ini sebagai peraih penonton terbanyak membuktikan satu hal. Kualitas tidak berbanding lurus dengan tingginya pendapatan. Artinya, meskipun karya Anda bagus, Anda belum tentu akan mendapat uang banyak. Artinya lagi, kalau Anda menciptakan sup laler ijo, karya Anda belum tentu jeblok di pasaran. Anda masih bisa mendapat uang. Lalu pakah semua sup laler ijo bisa menjual? Saya ingin berkata ya, tapi sayangnya tidak. Saya percaya ada beberapa syarat agar sup laler ijo Anda bisa terjual.
1. Jadilah satu-satunya produk di pasar. Ketika Rumah Pondok Indah diluncurkan, tidak ada film sejenis yang beredar di pasaran. Gue Jatuh Cinta, Realita Cinta & Rock ‘n Roll, Jomblo merupakan film drama atau drama komedi yang mengincar pangsa pasar yang sama. Rumah Pondok Indah berbeda. Ia campuran segala jenis horor yang tidak jelas tapi mengacu pada pasar yang jelas, pasar yang mencintai film semacam ini. (Saya tidak tega mengatakan pasar masyarakat kelas bawah karena ini berarti saya merendahkan selera mereka) Maka, berjayalah Rumah Pondok Indah.
2. Buat promosi seheboh mungkin. Lupakan kualitas film atau cerita Anda. Lakukan pemasaran gila-gilaan. Gunakan TV, radio, bus kota, dan semua media yang bisa Anda gunakan. Tentu saja ini membutuhkan dana yang amat besar. Tapi apa boleh buat? Anda tidak bisa menggunakan materi cerita Anda sebagai bahan jualan.
3. Jadikanlah agar semua orang membicarakan karya Anda. Peduli amat dicaci maki atau dipuji orang, yang penting semua orang membicarakan karya Anda. Maka buatlah karya Anda dengan dana yang luar biasa tinggi (45 milyar untuk Apa Artinya Cinta), atau buatlah tagline yang aneh seperti milik Rumah Pondok Indah. Film Misteri Terhoror. Adakah tagline yang lebih catchy dari itu?
4. ATM. Ambil, Tiru, Modifikasi. Saya percaya semua karya pada dasarnya memakai prinsip ini. Tapi karya yang bermutu lebih banyak bermain pada kata modifikasi, sementara sup laler ijo lebih banyak memakai prinsip ambil dan tiru. Tapi, siapa peduli dengan originalitas saat contekan bisa menjual? Karena itu Rumah Pondok Indah tidak peduli dibilang mirip dengan House of Wax. Sementara Apa Artinya Cinta menggabungkan formula Eiffel I’m In Love (dengan mempertemukan pasangan Shandy-Samuel) dan ‘terinspirasi’ oleh judul Ada Apa dengan Cinta.
5. Pilih waktu peluncuran yang tepat. Apa Artinya Cinta menggunakan momen liburan saat lebaran. Saya harus mengakui ini pilihan waktu yang tepat. Banyak waktu kosong dan banyak orang Indonesia tidak tahu harus melakukan apa setelah maaf-maafan. Coba kalau mereka memilih momen saat ujian sekolah, hasilnya tentu saja akan berbeda.
Tentu saja prinsip yang sama dapat Anda gunakan untuk tulisan Anda, bahkan bila karya Anda bagus sekalipun. Yang ingin saya tekankan adalah, Anda tidak perlu berkecil hati bila Anda membuat sup laler ijo. Toh, Anda masih dapat menjualnya dengan banyak usaha. (Mungkin sama beratnya dengan usaha mereka yang menciptakan karya yang baik) Tapi jangan salahkan siapa-siapa (termasuk saya) bila kelak Anda dipandang sebagai produsen sup laler ijo. Anda yang memilih membangun reputasi itu.
*) Data diambil dari Bintang Indonesia No 780, April 2006
Perhatikan Tanda Baca
Pertama, karena kita sudah mempelajari tanda baca sejak SD, sehingga seharusnya semua penulis yang mengenal sekolah tidak perlu diajari.
Kedua, tanda baca relatif mudah dipahami. Beli saja buku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan baca semua aturan yang ada di sana. Anda bahkan tidak perlu menghafalkannya. Cukup buka saat mengedit naskah Anda. Kalau Anda berniat belajar EYD lebih lanjut, Anda juga bisa mampir ke situs polisi EYD. Saya yakin ia lebih pandai dalam menjabarkan EYD daripada saya.
Tapi ketika saya menemukan kesalahan –atau setidaknya kekurangakuratan- pemakaian tanda baca– dalam sebuah novel, saya jadi geregetan. Kalau satu hanya satu dua kali, saya masih bisa memaafkan. Namun ketika kesalahan itu terjadi berulangkali, saya tidak bisa menahan diri untuk membicarakan masalah tanda baca ini. Mari saya ambilkan contohnya.
Tapi Rhavi dan Deedek sekaligus!? Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari dalam hutan…! “Suara apa itu!?” “Di sana!!!” ….. membuat makhluk-makhluk itu lebih menyerupai monster daripada sekadar hewan liar biasa…!
Ingatlah bahwa novel, cerpen, atau apapun bentuk cerita Anda, adalah sebuah media cetak. Artinya, pembaca tidak bisa melihat ekspresi kita atau mendengar nada kita saat kita menciptakan kalimat tersebut. Satu-satunya harapan ada pada tanda baca.
Jadi, luangkan waktu Anda untuk menengok kembali naskah Anda dan memperhatikan tanda baca yang ada. Tidak akan memakan waktu sampai seabad, kok. Lagipula, Anda tidak mau terlihat sebagai penulis (ataupun editor) yang ceroboh, bukan?
NB: Jika Anda berniat membeli buku EYD, jangan pelit. Jangan membeli buku EYD seharga 3.000 rupiah. Saya sudah membelinya dan malah gatal untuk mengeditnya. Lucu rasanya melihat buku EYD tapi penuh dengan kesalahan EYD.
Jangan Sempurnakan Tokoh Utama Anda
Randarumi memiliki kepribadian kuat yang jarang dimiliki pemuda seusianya. Di samping cerdas, ia memiliki daya ingat kuat dan hapalan yang hebat serta kreatif, inovatif, dan memiliki leadership.
Kelebihan lain sudah terlihat sejak kecil. Pada usia 9 tahun hafal Al Qur’an secara keseluruhan. Usia 15 tahun menguasai beberapa hadits di luar kepala seperti kitab-kitab sahih 5 imam yang mansyur (mutafak alaih) yang berjumlah puluhan ribu. Hampir hapal semua puisi karya besar Homer, matsnawinya Jalaluddin Rumi, dan karya sastra Muhammad Iqbal. Berbagai prestasi juara di bidang olah raga, antara lain: menunggang kuda, menembak, arung jeram, dan memanjat tebing. Sementara bela diri yang dikuasinya adalah silat, yudo, karate dan kungfu.
Bagaimana pendapat Anda tentang paragraf di atas? Kalau saya adalah seorang bos dan mencari anak buah atau mertua yang sedang mencari menantu, dia pasti akan jadi kandidat yang sempurna. Dengan catatan kalau manusia seperti dia memang ada. Tapi saat saya menemukan karakter seperti itu di dalam novel yang saya beli, saya ingin lari ke toko buku dan meminta uang saya kembali.
Kenapa? Karena ia adalah tokoh utama dan tokoh utama tidak seharusnya sempurna.
Oke, mungkin Anda berargumentasi, apa salahnya tokoh utama yang sempurna? Tokoh fiksi itu kan rekaan, jadi seharusnya suka-suka penulis menciptakanya. Mari saya jelaskan mengapa.
Pertama, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Bahkan superhero seperti Superman takut pada cryptonite dan Spiderman memiliki masalah dalam pergaulan dan pekerjaan. Adalah kelemahan yang membuat tokoh utama itu menarik dan membuat konflik cerita Anda tetap hidup. Bagaimana kalau musuh Superman memiliki crytonite? Bagaimana kalau Mary Jane lebih memilih laki-laki lain dibandingkan Spiderman?
Kedua, tokoh utama yang sempurna itu nggak asyik. Kalau kita tahu dia perkasa, tampan, bisa melakukan dan mengatasi apa saja, lalu buat apa kita menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk membaca ceritanya? Toh kita akan tahu si tokoh ini akan baik-baik saja. Untuk apa membaca cerita yang segalanya baik-baik saja?
Sebaliknya, tokoh yang tidak sempurna itu yang asyik. Salah satu tokoh favorit saya adalah Frodo Baggins dalam Lord of the Ring. Mengapa? Karena ia biasa, kecil, tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi dipaksa untuk melawan Sauron yang begitu perkasa. Bayangkan kalau Frodo memiliki ibu peri pelindung atau memiliki kekuatan super yang bisa mengalahkan apapun. Konflik Frodo vs Sauron akan kurang menarik bukan?
Ya, Tolkien memang menciptakan sekutu yang kuat bagi Frodo, tapi ingat, mereka adalah pemeran pembantu, bukan tokoh utama. Kita dibuat tetap mengkhawatirkan nasib Frodo hingga detik-detik terakhir. Apakah ia berhasil menghancurkan cincin? Apakah ia akan menang melawan Sauron atau mati? Apakah ia bisa sembuh dari ‘penyakitnya’?
Tapi ini bukan berarti Anda harus membuat tokoh Anda seperti bawang putih dalam sinetron yang hanya bisa menangis dan berdoa bila dianiaya. Tokoh semacam itu bahkan lebih menyebalkan daripada tokoh utama yang sempurna. Kalau dia tidak bisa membela dirinya sendiri, kenapa penonton harus simpati padanya?
Anda masih ingin bernafsu menciptakan tokoh yang sempurna? Kalau begitu, jadikanlah ia musuh utama. Jadikanlah ia seperti Hannibal Lecter atau Sauron. Jadikan ia memiliki kemampuan yang sulit ditandingi oleh tokoh utama. Ia boleh saja memiliki kelemahan jika Anda mau, tapi sembunyikan hal itu dari tokoh utama Anda (paling tidak dalam jangka waktu tertentu). Dengan demikian, pembaca akan merasa cemas dengan nasib tokoh utama Anda. Dan jika pembaca Anda mencemaskan tokoh utama Anda, mereka akan terus membaca cerita Anda.
Pelajaran Memotong Rumput (2): Jangan Mengulangi Apa yang Sudah Dikatakan
Ia menulis otobiografinya sendiri.Yang namanya otobiografi pasti ditulis sendiri. Jadi seharusnya:
Ia menulis biografinya sendiri.
Mereka saling menyayangi atau mereka menyayangi satu sama lain. Pilih salah satu.Mereka saling menyayangi satu sama lain.
Ia sangat mencintai istrinya sekali.Ubah menjadi: Ia sangat mencintai istrinya. Atau yang sangat terkenal:
Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatnya terjun dari jembatan.Memang bisa melihat dengan mata kepala orang lain? Bagaimana dengan ini?
Menurut pendapat pribadi saya, ia seharusnya dihukum mati.Kecuali Anda adalah pejabat atau wakil negara yang harus memisahkan pendapat kelompok dengan pendapat pribadi, penggunaan kalimat, “Menurut pendapat saya…” sudah cukup. Kata-kata berikut ini juga sering dipakai. Sekilas tidak ada yang salah, tapi kalau dipikir baik-baik sebenarnya kita menggunakan kata-kata secara berlebihan.
Mundur ke belakang Maju ke depan Naik ke atas Turun ke bawahMemang ada mundur ke depan, maju ke belakang, naik ke bawah atau turun ke atas? Pembaca Anda tidak bodoh. Kita semua tahu kalau namanya naik pasti ke atas.
Sangat unik Sangat umumSuatu hal disebut unik kalau ia menjadi satu-satunya. Begitu juga dengan kata ‘umum’. Tidak perlu ditambahkan kata ‘sangat’. Setelah membaca ini, Anda mungkin berpikir, “Ih, nggak penting banget sih kaya gini!” Kalau sebagai penulis Anda berpikir demikian, cobalah untuk melihatnya dari sudut pembaca dan editor Anda. Satu dua kata yang berlebihan mungkin masih dapat dimaafkan pembaca (dan juga editor) bila tulisan Anda benar-benar bagus. Tapi bagaimana bila Anda tidak terbiasa menggunakan kata secara efektif hingga akhirnya Anda memenuhi puluhan atau bahkan ratusan kata-kata dengan kata-kata yang tidak perlu? Bagi pembaca, waktu adalah uang sedangkan bagi editor, setiap penambahan halaman adalah penambahan biaya produksi buku. Hematlah kata-kata seperti Anda menghemat listrik atau air dan dunia akan berterima kasih pada Anda.




