Ciptakan Chemistry Pada Tokoh Pasanganmu

posted: Thu 1st Mar, 2007, categories: Cara Memasak Sup, Karakter

Apa persamaan antara Scarlett O’Hara dan Rhett Butler, Tom dan Jerry, serta Sherlock Holmes dan Dr. Watson? Oke. Mereka semua memang pasangan fiktif. Tapi mereka semua memiliki satu hal yang lebih dari sekedar karakter fiktif. Mereka semua memiliki chemistry dengan pasangannya. Ketika kamu ingat kata Scarlett, kamu akan ingat Rhett. Ketika kamu ingat Tom, kamu langsung ingat Jerry. Bagaimana dengan Sherlock Holmes dan Dr. Watson? Tentu saja mereka adalah salah satu pasangan detektif paling terkenal di dunia fiksi.

Menjelaskan chemistry, saya kira, sama susahnya dengan menceritakan mengapa kita menyukai atau membenci seseorang. Namun satu hal yang bisa saya katakan adalah ketika satu tokohmu tidak mungkin menarik tanpa adanya karakter yang lain, itulah chemistry. Apakah tokoh Jerry yang cerdas akan menarik kalau ia tidak bertemu dengan Tom yang bodoh dan kekeuh dalam mengejar Jerry? Apakah sifat Scarlett yang keras kepala akan menarik kalau Rhett tidak memiliki sifat sama kerasnya?

Kita bisa mengenali adanya chemistry pada kedua tokoh cerita bila pembaca (atau penonton) merasa senang melihat dua tokoh tersebut berinteraksi. Kita yakin cerita ini akan kehilangan nyawa bila karakter pasangannya dihapus atau diganti dengan karakter lain. Ibaratnya jodoh, kedua pasangan itu harus ada (dan harus seperti itu) atau cerita itu tidak akan hidup.

Tentu saja chemistry ini tidak harus muncul dalam bentuk hubungan romantis (walaupun itu yang paling mudah untuk dimunculkan). Kamu bisa memunculkan chemistry ini dalam hubungan pertemanan, orang tua-anak, kakak-adik, kakek-cucu, atau bahkan musuh. Ada banyak contoh di mana tokoh utama memiliki keterikatan dengan musuhnya. Bagaimana dengan Batman dan Catwoman atau Hannibal Lecter dan Clarice Starling? 

Jika kamu sudah membuat karakter, coba tambahkan ini ke dalam dua tokoh utamamu. Jika belum, pikirkan dua karakter yang saling bertolak belakang mungkin secara fisik, finansial, usia, atau bahkan latar belakang. Apa yang terjadi kalau mereka bertemu? Konflik apa yang mungkin muncul? Bagaimana keduanya bisa saling tertarik? Apa yang membuat keduanya dekat? Apa yang membuat mereka membutuhkan yang lain? Cobalah menambah chemistry dan perhatikan, daya tarik ceritamu akan semakin kuat.

Editor: Seperti Apa Sih Yang Dicari Penerbit?

posted: Tue 3rd Oct, 2006, categories: Penyuntingan

Pertanyaan ini diposting di milis penulis lepas.

Halo,
Saya Lia, selama ini jadi pengamat milist. Kagum dengan semangat teman-teman
di sini.

Seiring dengan akan dibentuknya FEI, kemaren saya baca ada teman-teman editor lepas.

Saya mau tanya, kualifikasi seperti apa yang dicari oleh media/penerbit?


Dear Lia,

Sebenarnya, blog ini khusus menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kepenulisan. Tapi, kehidupan editor sebenarnya berhubungan erat dengan penulis dan bahkan banyak penulis yang juga menjadi editor (atau sebaliknya). Saya juga merasa dulu sebelum saya menjadi editor, saya ingin seseorang menceritakan pada saya, makhluk seperti apa editor itu dan bagaimana saya bisa menjadi mereka.

Karena itu, saya akan menjawabnya di sini. Semoga kamu tidak keberatan. Oh ya, karena pertanyaanmu banyak sekali (dan jawabannya akan panjang sekali), saya memecahnya menjadi beberapa bagian.

Lia, untuk mencari tahu kualifikasi apa yang dicari media, caranya mudah saja. Kumpulkan iklan yang mencari editor dan baca apa persyaratannya. Tapi saya mengerti tidak setiap minggu kamu menemukan penerbit atau media yang mencari editor. Jadi, saya akan coba jelaskan sedikit.

Pada dasarnya, seorang editor dituntut tidak hanya mengerti mengenai bahasa, tetapi memahami bidang ilmu buku yang dipegangnya. Kalau dia editor buku anak-anak, ia harus tahu dunia anak-anak, bagaimana bahasa yang dipakai anak-anak dan buku apa yang disukai anak-anak. Kecuali kalau kita bicara tentang editor bahasa atau editor foto, ya. Hal ini berlaku baik editor lepas maupun editor tetap.

Ini karena editor tidak hanya bertanggung jawab masalah ejaan, tata bahasa, dan sebagainya, tetapi ia juga harus mampu mengkritisi setiap naskah yang baik. Apakah naskah ini baik untuk diterbitkan? Bagaimana potensinya di pasar? Apakah naskah ini orisinil atau menjiplak dari karya lain?

Karena tanggung jawab ini, semua media punya kualifikasi sendiri-sendiri dalam mencari editor —tergantung pada jenis media itu sendiri. Sebuah majalah arsitektur misalnya, akan mencari editor dengan latar belakang arsitektur. Penerbit yang mengeluarkan buku kedokteran juga akan lebih memilih calon editor dari kedokteran. Ini karena menguasai ilmunya lebih susah daripada memahami bagaimana cara mengedit buku yang baik.

Tapi kalau kamu tetap berniat menjadi editor, setidaknya kuasailah EYD. Bacalah banyak buku dan asah kemampuanmu mengkritisi buku baik dari segi teknis dan bahasa. Setiap kali kamu membaca buku, pertanyakanlah. Apa yang dikatakan benar? Apa ada dasarnya si penulis mengklaim begitu? Apakah kalimat yang dipakainya baik dan sesuai dengan pembacanya?

Mungkin kedengarannya ini standar, tapi kuasai juga bahasa asing dan komputer. Nggak harus bahasa Inggris, lho karena ada beberapa editor yang mengerjakan buku terjemahan dari bahasa Arab, Jepang, bahkan Korea. Semakin tinggi kemampuan berbahasamu, semakin baik. Biar nggak dikibuli penerjemah, gitu.

Kalau calon editor termasuk pemula bagaimana mengukur kemampuan profesinya?

Kebanyakan dari editor Indonesia, untungnya, belajar dadakan. Dan proses ini yang masih saya jalani sampai sekarang. Saat bertemu dengan calon editor, saya memberinya naskah untuk melihat pemahamannya akan EYD, mengetes kemampuannya menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia serta melihat kemampuan mengarangnya. Bila dia bisa menulis dengan baik, diharapkan ia juga bisa mengedit dengan baik.
(bersambung)

Tips untuk Penulis Supaya Disayang Editor *

posted: Tue 26th Sep, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Penyuntingan
  1. Perhatikan karakter penerbit yang dituju. Mengirim naskah ke penerbit yang tidak sesuai sama dengan menyumbang uang perangko kepada kantor pos.
  2. Ketik naskah pakai komputer, jangan pakai mesin ketik apalagi tulis tangan. Hare gene masih tulis tangan?
  3. Tulis naskah dengan rapi dan lengkap. Jangan berantakan, jangan ngirim separuh bab kecuali permintaan khusus dari saya editor.
  4. Naskah harus orisinil. Kalau nyontek, mengakulah. Biaya mengubah naskah lebih murah daripada membayar pengacara.
  5. Perhatikan EYD dalam penulisan naskah. Bahkan bahasa gaul juga tetap memperhatikan EYD.
  6. Jangan pakai bahasa SMS kecuali kamu bikin buku tentang SMS. Gue nggak boleh disingkat ‘gw’, apalagi cuma ‘g’. Cb bc nskah mdl gn, ngti gak?
  7. Perhatikan penggunaan gaya bahasa. Nulis naskah untuk anak umur lima tahun tidak sama dengan tulisan untuk anak kelas satu SD.
  8. Selipkan proposal penerbitan atau paling nggak gambaran kira-kira siapa yang akan membeli buku kamu. Penerbit mencari buku yang laris, bukan buku yang ‘tiada duanya di pasaran’.
  9. Jangan kirim lewat email karena akan memudahkan pencuri mengambil naskahmu. Lebih baik pakai CD saja.
  10. Jangan ngambek kalau dikritik editor. Editor mengedit naskah, bukan dirimu.
  11. Jangan putus asa kalau naskah dikembalikan editor. Editor membenci naskahmu, bukan kamu.
  12. Naskah yang baik biasanya tidak memerlukan banyak sentuhan editor. Jadi, kalau naskah kamu lama dikutak-katik editor, pertanyakanlah kualitas naskahmu. Tapi, lihat juga sisi baiknya. Naskah yang lama dikutak-katik editor itu lebih baik daripada naskah yang dilempar ke tempat sampah.
  13. Segera artinya segera. Kalau editor minta dikirimi perbaikan naskah itu segera, artinya ya kirim perbaikannya dalam waktu cepat. Bukan sebulan atau bahkan tiga bulan.
  14. Nggak perlu telpon tiap hari untuk nanyain naskahnya sudah dikerjain belum. Emang cuma naskah loe doang yang gue garap?
  15. Nggak perlu telpon tiap hari untuk nanyain naskahnya sudah dicetak belum. Emang cuma buku loe doang yang masuk percetakan?
  16. Kalau buku sudah selesai, lakukan promosi tanpa diminta editor. Emang kalau bukunya laku, yang dapat royalti besar itu siapa?
  17. Penulis yang baik adalah penulis yang menjadi sahabat terbaik editor. Jadi, baik-baiklah terhadap editormu. Jangan tersinggung karena tulisan di atas, oke?

 

*) kalau editornya adalah saya.

Kala Kamu Pesimis

posted: Wed 9th Aug, 2006, categories: Uncategorized

Di dalam sebuah forum, seorang user bernama juniorisasi mengajukan pertanyaan. Karena masih berhubungan dengan penulisan, saya rasa tidak ada salahnya saya pajang di sini. Semoga berguna

kemaren……tgl…..pokoknya kemaren deh…

gw baca dealova(kmn aje loe ??)
trus gw hanyut pas dira mati……(ta elah!!!)

dan gw merasa pesimis gitu….kyknya novel ini jauh lebih baik dari novel yang sedang gw buat.

pernaHKAH kk merasa spt itu??

apa yang kk lakukan??
Nang Ning Ning Nang Ning Nung

Juniorisasi,
Semua orang pasti pernah merasa pesimis. Termasuk saya. Saya merasa sangat pesimis ketika menonton Lord of the Ring. Saya bahkan ingin menggali lubang di pasir dan mengubur kepala saya saat mengingat karya-karya Agatha Christie. Mungkin dalam hati saya tahu, mau reinkarnasi sepuluh kalipun, saya sulit mencapai level mereka.

Pesimis, meskipun terdengar jelek sebenarnya ada baiknya buat kita. Pesimis itu membantu kita untuk tetap waspada, untuk tetap belajar, untuk tetap merasa tidak mudah puas pada karya sendiri.

Tentu saja pesimis itu harus diimbangi dengan optimis. Saya beri tahu mengapa kita harus tetap optimis.

1. Nggak ada karya yang sempurna. Tapi hidup harus terus jalan dan naskah harus diterbitin. Bahkan kalau kita menganggap naskah kita sempurna, selalu saja ada orang yang menganggap naskah kita nggak sempurna. Kamu nggak bisa menyenangkan semua orang, kan? So, terima aja kekurangan karya kita. Ntar kalau ada kritik dari pembaca, masukin untuk naskah berikutnya.

2. Menulis itu pengalaman, pembelajaran. Dia bukan proses menceplok telur yang sekali masak, ya begitu jadinya. Kita berkembang setiap kali kita menulis. Kita belajar sesuatu yang baru. Semakin sering kita nulis, semakin kaya pengalaman kita menulis. Siapa tahu, suatu hari justru penulis yang kamu irikan itu balik iri sama kamu.

3. Selalu ada yang langit lebih tinggi. Selalu ada penulis yang lebih baik dari kamu. Kamu nggak akan bisa mengalahkan Shakespeare atau Dickens (yah mungkin aja sih, tapi kita semua tahu berapa persentasenya). Tapi bukan berarti karya kamu nggak akan laku.

4. Ada banyak hal yang dapat membuat sebuah buku itu laku. Meski isinya biasa-biasa aja. Dan bagusnya isi buku, cuma sebagian aja.

Jadi, kita letakkan pesimis dan optimis di sisi koin yang berbeda dan kita gunakan. Yang satu untuk mendukung kita agar maju (optimis). Dan yang satu menahan kita untuk tidak sombong (pesimis). Jangan dipakai salah satu aja. Tapi pakai lebih banyak optimis, ya.

Bila Naskah Kamu Ditolak

posted: Wed 2nd Aug, 2006, categories: Uncategorized

BitMaP
1:02 PM Jul 25, 2006 IP 149:93

Alo, mbak Laler… gmn ya ngatasin rasa Eneg ngerevisi naskah yang ditolak? Rasanya pengen bikin cerita yg baru aja daripada ngebenerin yg dah ada. TQ

BitMap,
Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah pergi ke toko kayu. Beli atau pesanlah sebuah peti kayu. Tidak perlu sebesar badanmu, karena tidak akan dipakai untuk mengubur kamu. Setelah itu pergilah ke pulau terpencil dan gunakan peti kayu itu untuk memendam naskahmu.

Biarkan naskahmu terpendam selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Jangan pikirkan naskahmu itu. Anggap itu dosa masa lalu yang perlu dihapus. Pikirkan naskah yang lain. Cari ide lain. Tulis naskah baru.

Bila setelah naskah baru itu sudah selesai dan kamu masih memikirkan naskah lamamu, mungkin sudah saatnya kamu kembali ke pulau itu. Pada saat itu, hatimu sudah siap dan terbuka untuk melihat kesalahan yang ada. Kamu melihat naskah lamamu seperti sebuah naskah yang belum pernah kamu baca sebelumnya.

Selama ini, mungkin kamu memandang naskah lamamu itu sempurna karena kamu terlalu sering melihatnya. Kamu jadi tidak bisa melihat kesalahan sudut pandang, keanehan logika, atau bahkan kesalahan penggunaan tanda baca. Tapi bila kamu meninggalkannya selama beberapa bulan, kamu akan melihat kesalahan-kesalahan yang kamu buat. Dan bila kamu mengerjakannya kembali, kamu akan merasa seperti bertemu dengan sahabat lama, bukan musuh lama yang perlu ditaklukkan.

Mulailah Cerita Dengan Penggambaran Tokoh

posted: Tue 18th Jul, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Deskripsi

Salah satu teknik yang sering digunakan oleh penulis untuk memulai cerita adalah dengan memperkenalkan tokoh cerita. Ini mungkin merupakan salah satu teknik yang paling mudah. Setiap kali Anda membuat draft cerita biasanya kita memulainya dengan menceritakan tokoh kita, latar belakang kehidupan tokoh kita, kemudian barulah masalah yang dihadapi tokoh kita. Misalnya seperti ini.

Ada seorang gadis kecil bernama Susie. Anaknya biasa banget. Pokoknya tipe yang kita lihat setiap hari. Umurnya masih 14 tahun. Dia punya banyak teman, punya keluarga yang bahagia. Hidupnya biasa-biasa aja. Terus suatu hari si Susie main ke rumah tetangganya. Terus ia meninggal. Hmm… Gimana keluarganya, ya?

 

Di tangan Alice Seabold, draft seperti di atas bisa diubah menjadi sebuah pembukaan yang manis seperti ini.

 

My name was Salmon, like the fish; first name, Susie. I was fourteen when I was murdered on December 1973.

(Alice Seabold, The Lovely Bones)

Ketika kita membacanya, tidakkah kita tergelitik untuk ingin tahu kenapa gadis muda itu dibunuh pada usia 14 tahun? Kalau memang ia sudah mati, bagaimana mungkin dia bercerita kepada kita, pembaca? Dari dua kalimat ini saja, kita bisa merasakan bahwa ini bukan cerita biasa-biasa saja. Dan akhirnya perasaan saya benar karena saya mendapatkan cerita tentang kehidupan sebuah keluarga setelah kematian si tokoh utama yang dilihat dari sudut pandang tokoh utama yang telah terbunuh.

Contoh lain yang menarik adalah seperti berikut ini.

Lolita, light of my life, fire of my loins. —Vladimir Nabokov, Lolita (1955)

He was an old man who fished alone in a skiff in the Gulf Stream and he had gone eighty-four days now without taking a fish. —Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea (1952)

When Dick Gibson was a little boy he was not Dick Gibson. —Stanley Elkin, The Dick Gibson Show (1971)

Triknya adalah bagaimana saat kita menggambarkan tokoh itu, kita membuat pembaca merasa ada masalah dengan hidup tokoh itu. Ada sesuatu yang membuat pembaca Anda penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang cerita Anda.

Meski teknik seperti ini memberikan izin bagi Anda untuk menceritakan tokoh Anda, pastikan Anda tidak menghambur-hamburkan kalimat untuk memasukkan informasi yang tidak begitu penting. Anda dapat melakukan di bagian yang lain.

Anda juga perlu mempertimbangkan ini. Jika kekuatan cerita Anda ada pada konflik, bukan pada tokoh Anda, mungkin sebaiknya Anda mempertimbangkan penggunaan teknik lain.

Gaet Pembaca Dengan Aksi Pembuka

posted: Mon 3rd Jul, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Pil Anti Sup Laler Ijo

Ian Randall Strock dari Artemis menjelaskan kiat menggaet pembaca sejak kalimat awal, “Kamu harus menggaet saya dalam kalimat pembuka cerita.”. Masalahnya, tentu saja, bagaimana kita tahu apa yang kita tulis itu menggaet pembaca? Bagaimana kalau yang kita tulis justru membuat orang muntah darah?

Salah satu teknik yang dapat kita gunakan adalah langsung menampilkan aksi di dalam cerita. Kita tidak perlu menceritakan betapa hangatnya sinar matahari, bagaimana segarnya udara pagi, namun langsung ke titik sasaran. Kalau kamu membuat adegan orang tertabrak mobil, langsung ceritakan. Tidak perlu mengawalinya dengan menceritakan panasnya Jakarta, atau betapa gilanya para pengemudi bis kota.

Mari saya berikan contohnya:

Hanya setahun setelah menikah, Caska dan Berto berhenti bercinta.

(Punggung) Caska dan Berto, Tamara Geraldine (2005)

Kalimat pembuka ini langsung membawa kita masuk ke dalam inti cerita. Kamu tidak perlu menggambarkan suasana kamar yang dingin atau keengganan keduanya untuk bercinta. Dan yang lebih baik lagi, kita jadi ingin tahu kenapa mereka berhenti bercinta padahal baru satu tahun menikah. Itu adalah alat penggiring pembaca untuk terus mengikuti cerita kita. Begitu juga dengan yang ini:

Satu mayat perempuan cantik berbaju merah dengan banyak tetesan darah segar di kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya tertatih-tatih menyusuri koridor sebuah ruang tunggu umum yang berada di persimpangan jalan. Ia benar-benar bingung.

 

Maaf, kita harus kenalan dengan cara seperti ini, Tamara Geraldine (2005)

Tidakkah kamu jadi ingin tahu kenapa mayat itu bingung?

Beberapa contoh kalimat pembuka lain yang menarik dengan menggunakan teknik yang sama.

We were about to give up and call it a night when somebody dropped the girl off the bridge.

 - Darker Than Amber John D MacDonald  (1966)

As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect.

 - The Metamorphosis oleh Franz Kafka (1916) -

They shoot the white girl first.

- Paradise oleh Toni Morrison (1997)-

Masih belum cukup? Kenapa nggak belajar langsung dari 100 kalimat pembuka terbaik di:
http://www.litline.org/ABR/100bestfirstlines.html
http://openingsentences.com/

Kamu juga bisa belajar menghindari kalimat pembuka yang buruk dari  The Worst Novel Opening Line http://www.gsapio.com/3_Funnies/3Worst.htm

Gaet Pembaca Sejak Paragraf Pertama

posted: Mon 3rd Jul, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Pil Anti Sup Laler Ijo
Suatu saat, saya didatangi oleh salah satu rekan kerja saya. Ia menyodorkan sebuah buku pada saya.
 
“Kasih pendapat perlu nggak kita ambil hak ciptanya.”
 
Ketika pertama kali melihatnya, saya sudah menarik nafas panjang. Buku itu adalah sebuah novel chicklit. Bukan saya anti chicklit, tapi sudah lama saya tidak menemukan chicklit yang bagus dan saya tidak yakin buku ini akan mematahkan pendapat saya itu.
 
Sepuluh menit kemudian, saya kembali kepadanya dan menyerahkan buku itu kepadanya. Ia kaget.
 
“Cepat amat!”
 
“Cukup satu bab pertama aja.”
 
“Satu bab untuk menentukan nasib seluruh buku?”
 
“Yup.”
 
Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi menahannya.
 
“Jadi gimana?”
 
“Nggak usah. Nggak bagus. Sampai akhir bab, saya masih nggak tahu cerita ini tentang apa dan mau di bawa ke mana.”
 
Mungkin kamu akan menganggap saya kejam. Bagaimana bisa saya menentukan nasib seorang penulis hanya dalam satu bab? Bagaimana kalau bagian yang bagus-bagus ada di tengah? Bagaimana kalau ternyata cerita itu memiliki ending yang sangat tidak biasa? Bagaimana kalau cerita itu memiliki karakter yang sangat menarik? Bukankah itu artinya mungkin saja saya melewatkan sebuah permata?
 
Kalau kamu menganggap saya kejam, mari saya beritahu. Saya lebih kejam saat membaca cerita pendek dan menonton film. Kalau sebuah cerita pendek gagal menarik saya dalam satu paragraf pertama atau lima belas menit untuk sebuah film, saya tidak akan menggunakan waktu saya yang tidak akan terulang untuk meneruskannya film atau cerita itu (kecuali kalau saya sedang dalam mood untuk membantai).
 
Dan saya tidak sendirian, lho. Stephen King melakukannya saat membeli novel dan saya yakin banyak editor yang melakukan hal yang serupa? Kenapa? Karena begitu banyak cerita yang masuk sementara waktu yang dimiliki editor terbatas. Belum lagi tenggat waktu yang terbatas. Kalau dipaksa membaca keseluruhan cerita, kapan selesainya? Jadi, gaetlah pembaca sejak paragraf pertama. Lalu bagaimana caranya? Cara yang paling mudah adalah menyontek gaya penulis yang menarik perhatian kamu. Baca saja paragraf pertama sebuah novel (atau satu halaman pertama). Kalau kamu tertarik untuk meneruskan halaman berikutnya, novel itu sudah termasuk karya yang saya maksud.
 
Tapi supaya kamu dapat gambaran yang lebih jelas, saya akan menjelaskan beberapa teknik yang saya tahu pada postingan berikutnya.

Simpan Yang Terbaik Di Bagian Akhir

posted: Fri 16th Jun, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Sup Laler Ijo, Alur, Film
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya seusai menyaksikan Mission Impossible: III (MI:3). Padahal ceritanya nggak jelek-jelek amat. Alur cerita juga mengalir dengan cukup baik. Tapi tetap saja perasaan tidak puas itu ada setelah saya keluar dari bioskop.
 
Cukup lama saya memikirkan hal ini hingga akhirnya sebuah percakapan dengan teman saya membuat saya menyadari rantai yang salah dalam MI:3, ia tidak mengikuti pembabakan konflik yang baik.
 
Sebuah cerita, terutama cerita aksi seperti MI:3 seharusnya membangun konflik seperti seorang jagoan yang pergi membasmi gerombolan penjahat yang mendiami sebuah gunung. Di dasar gunung paling bawah, ia akan melawan keroco, lalu secara bertahap ia akan melawan kepalanya keroco, kepalanya kepalanya keroco, hingga akhirnya di puncak gunung ia akan melawan sang jenderal (atau istilahnya, the big bad guy) dan menyelamatkan gadis yang ditawan.
 
Formula sederhana inilah yang dipakai hampir semua pembuat cerita aksi di seluruh dunia selama berabad-abad dengan beragam variasi. Anda boleh memulai cerita dari tengah, boleh memulai dari sepertiga akhir cerita, tapi intinya tetap sama, semakin lama cerita harus semakin seru.
 
Dan formula inilah yang tidak ditaati oleh MI:3. Cerita dibuka dengan menampilkan Ethan diikat dan dipaksa untuk memberi tahu di mana Kaki Kelinci. Untuk sesaat cerita menurun ketika cerita memasuki hubungan Ethan dengan Katie Holmes seorang gadis. Tapi ketegangan cerita naik lagi saat saat Ethan diberi misi penyelamatan agen Lindsay.
 
Kita semakin berdebar-debar saat Ethan dan teman-temannya berusaha menculik Davian ataupun saat ia berusaha agar Davian tidak diselamatkan. Dengan tingkat ketegangan yang semakin memuncak, adalah suatu hal yang wajar kalau penonton menginginkan sesuatu yang wah saat akhirnya Ethan berhadapan dengan Davian. Kita semua ingin melihat pertarungan yang dasyat antara jagoan kampung kita dengan kepala penjahat.
 
Tapi apa yang kita dapatkan? Davian berakhir dengan tertabrak truk. Persis akhir nasib Bawang Merah dalam sinetronnya. Ini seperti mendapatkan foreplay yang hebat, tapi tidak memuaskan di bagian klimaks. Menyebalkan, bukan?
 
Satu hal yang bisa dipelajari dari kesalahan MI:3 adalah jangan terlalu banyak mengumbar ketegangan pada awal dan tengah cerita. Saat saya mengingat kembali film MI:3, saya merasa bagian paling seru adalah saat adegan penyelamatan agen Lidsay, lengkap dengan adegan pertempuran helikopternya. Setelah itu, tidak ada adegan yang memiliki intensitas ketegangan yang sama.
 
Bukan berarti Anda tidak boleh mengubar ketegangan. Bagaimanapun juga ini adalah cerita aksi. Apa yang akan dijual kalau bukan konflik? Silahkan saja. Tapi, pastikan bagian terakhir merupakan bagian yang paling seru, paling tegang, dan paling mengasyikkan. Buatlah pembaca atau penonton tersenyum saat Anda menutup cerita Anda. Buatlah agar semua usaha Anda membangun cerita tidak menjadi kesia-siaan karena klimaks yang biasa-biasa saja. Karena pada akhirnya, bagaimana Anda membuat klimakslah yang paling penting (ya, sama dengan jenis klimaks yang ada di otak Anda sekarang).

Inspirasi atau Plagiat?

posted: Tue 6th Jun, 2006, categories: Cara Memasak Sup

Masalah ini pernah saya singgung sedikit di salah satu postingan saya. Meskipun demikian, masalah ini menjadi menarik untuk dibahas lebih lanjut setelah menjadi salah satu topik panas di forum ini.

Salah satu pertanyaan yang muncul dalam forum tersebut adalah bagaimana membedakan antara inspirasi dengan plagiat?

Terus terang, ini adalah pertanyaan yang gampang sekaligus sulit untuk dijawab. Kenapa? Karena bentuk plagiat itu sendiri bermacam-macam dan orang bisa memberikan banyak argumentasi untuk menuduh ataupun berkelit dari plagiat.

Inspirasi bisa dijadikan senjata untuk menepis plagiarisme. Sebaliknya cap plagiat bisa dijatuhkan kepada orang yang memang ingin dihancurkan. Akhirnya, garis antara plagiat dan inspirasi bisa setebal tembok China atau setipis benang.

Tapi mari kita berusaha membuat batasnya.

Plagiat itu mengambil pemikiran orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Mau semuanya, mau sebagian, asal kamu mencomot punya orang dan kamu tidak memberi tahu bahwa itu punya orang lain, itu namanya plagiatisme. Kalau kamu mengambil alur cerita orang lain dan cuma mengganti nama dan settingnya, itu plagiat. Kalau kamu memungut satu tokoh utuh yang khas dari cerita orang lain, kamu dapat dituduh sebagai plagiator. Kalau kamu mengambil kalimat, paragraf, atau adegan khas dari cerita orang lain, kamu juga dapat dianggap sebagai tukang contek.

Ini salah satu contohnya:

Ningrum membuka lebar pintu almari itu. Ternyata almari pakaian. Ia melihat beberapa mantel yang terbuat dari bulu tergantung di dalam almari…. Ia merasa dapat masuk lebih ke dalam. Ia terus melangkah…. Sembari berharap tangannya akan menyentuh suatu seperti papan kayu. Tetapi, heran ia, tidak pernah ia menyentuhnya.
Tidak lama kemudian, ia merasakan sesuatu menerpa wajahnya… “He, sepertinya cabang-cabang pohon!” seru Ningrum…. Tidak berselang lama, ia menyadari dirinya berada di tengah-tengah hutan, pada waktu malam hari, dan sedang turun hujan salju.
 
dikutip dari deetopia.multiply.com

 

Sudah tahu kan, karya apa yang diconteknya?

Lalu bagaimana dengan terinspirasi? Nah, ini bagian yang sedikit sulit. Apa yang dianggap satu penulis sebagai terinspirasi, bisa jadi dianggap sebagai plagiat bagi orang lain. Tapi tenang saja. Ada trik untuk mengatasinya.

Bagi saya, suatu naskah   dapat disebut terinspirasi ketika ia memungut sebagian kecil ide penulis lain dan mengembangkannya sendiri dengan gayanya sendiri.

Kalau saya membuat tokoh bocah laki-laki pemburu sundel bolong tapi settingnya saya pindah ke tahun 1820 di Indonesia (zaman Perang Diponegoro), kemudian saya buat dia memiliki kepribadian ganda, dan memiliki kisah cinta ala Cinderella, apakah Anda akan menuduh saya menyontek karakter Buffy the Vampire Slayer? Tidak, kan?

Kalaupun saya sial dan ada orang yang menuduh saya menyontek karakter Buffy,  saya bisa mengelak karena saya mencampurkan banyak ide pada tokoh Buffy tersebut.  Begitu kecil ide yang saya pinjam dari penulis lain sehingga ide dari penulis awalnya tidak terlihat. Saya tetap harus berpikir tentang banyak hal: latar belakangnya kehidupannya, hubungannya dengan keluarga, hubungannya dengan penjajah Belanda saat itu, dan lain-lain. Dengan sendirinya, karakter saya akan beda sekali dengan karakter Buffy yang menjadi inspirasi saya.

Tuduhan plagiarisme bisa saja dituduhkan kepada saya kalau saya membuat karakter sahabat yang mirip dengan karakter teman-teman Buffy ataupun saya menggunakan plot yang akan mengingatkan orang pada cerita Buffy. Bahkan saya juga bisa dianggap plagiat kalau saya membuat adegan yang yang mengingatkan orang pada cerita Buffy. (Karena inilah saya tidak mengerti mengapa Matrix tidak dituntut oleh pihak pembuat Ghost in the Shell)

Jadi, perbedaan antara plagiat dan inspirasi sebenarnya adalah sejauh mana Anda mengolah ide itu. Semakin banyak hal yang Anda modifikasi dari ide tersebut, semakin besar senjata Anda untuk mengelak dari tuduhan plagiat. Lebih bagus lagi kalau karya Anda lebih hebat dari ide awalnya. (Logikanya, di mana-mana hasil fotokopi itu lebih buruk daripada aslinya)

Namun di atas semua ini, demi reputasi Anda sendiri, bersikaplah jujurlah. Kalau ide itu memang milik orang lain, beri tahu pemilik ide tersebut. Masukkan namanya di daftar pustaka ataupun daftar ucapan terima kasih. Sebut namanya berkali-kali saat Anda diwawancarai. Sebagai informasi. hal inilah yang dilakukan oleh Yann Martel, pengarang Life of Pi, serta Wachowski bersaudara, pencipta Matrix. Anda juga bisa mengirim sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih (baca: kalau Anda takut pengarang aslinya berkoar-koar). Percayalah, usaha kecil ini akan membantu menyelamatkan Anda kalau ada orang iseng yang ingin menuduh Anda plagiat. Anda tidak akan pernah tahu kapan Anda akan terkenal, kan?

Sumber (daripada nanti ada yang menuduh saya plagiat):
http://in.rediff.com/getahead/2006/may/09pla.htm
http://www2.ups.edu/CWL/Plagiarism.htm

Masih ingin belajar banyak untuk membedakan plagiarisme dan inspirasi? Coba ini.