Apa itu Sup Laler Ijo?

Sup laler ijo merupakan istilah yang diberikan situs Sinema Indonesia untuk film-film yang jelek sehingga membuat muak. Saya nggak sejahat itu. Saya cukup menerapkan istilah sup laler ijo untuk karya (buku, sinetron, film) yang merendahkan selera, meremehkan logika, serta  menurunkan IQ secara drastis. Persis seperti rasa sup laler ijo itu sendiri. Ini bukan berarti saya pernah makan sup laler ijo. Orang tidak harus makan sampah untuk mengetahui betapa nggak enaknya sampah, kan?

Nggak berarti juga semua karya yang saya pajang begitu jelek sehingga nggak tertolong lagi Ada yang melakukan kesalahan yang tidak perlu (ini jenis sup enak yang nggak sengaja tercampur sedikit sup laler ijo), ada yang melakukan kesalahan kecil yang fatal (nah kalau ini jenis sup bagus yang sengaja dicampur sup laler ijo), tapi ada juga jenis karya yang dengan senang hati terjun bebas ke dalam sup laler ijo dari ketinggian 50m. Sudah begitu, ia berpikir sup laler ijo adalah kolam renang susu sehingga menolak untuk keluar. Apa boleh buat, kita nggak bisa menolong orang yang nggak mau ditolong, kan?

Kenapa Sup Laler Ijo?
 
Nah, kamu pasti bertanya, ngapain sih belajar dari karya sup laler ijo? Jawabannya ada pada Stephen King.

Dengan membaca cerita yang buruk…… seseorang dapat dengan jelas belajar tentang apa yang tidak boleh dilakukan, proses belajar ini sama dengan waktu belajar satu semester di sekolah menulis yang bagus….

Sebaliknya, tulisan yang bagus….dapat membuat penulis baru dipenuhi perasaaan putus asa dan kecemburuan gaya lama—“Aku tidak akan mampu menulis bagus seperti itu, bahkan jika aku hidup ribuan tahun.”

Jadi kita membaca agar mengenali tulisan yang agak buruk dan sangat buruk; pengalaman seperti itu membantu kita mengenali hal-hal buruk tersebut saat mereka pelan-pelan masuk ke dalam karya kita sendiri; dan dengan mengenali kita dapat menghalau mereka sampai bersih.
 
Stephen King, On Writing.
Sudah jelas, kan?
 
Siapa Sup Laler Ijo?

Sup laler ijo bukan siapa-siapa, cuma makhluk yang kebetulan harus menelan naskah sup laler ijo setiap hari  dan setiap kali menyalakan televisi selalu disuguhi tayangan sup laler ijo. Karena saya tidak diperbolehkan membakar naskah atau membanting televisi, saya memutuskan untuk menulis, membagi apa yang saya tahu pada orang lain.
 
Saya memang tidak bisa membuat orang lain menulis seperti Shakespeare atau Tolkien, tapi setidaknya saya bisa memberi sedikit resep agar sup-sup yang dibuat tidak berubah menjadi sup laler ijo.
 
Resep yang saya tawarkan, tentu saja, tidak berlalu secara umum. Selalu saja ada perkecualian di mana-mana. Jika Anda menyukainya, editor Anda setuju, dan pembaca Anda bersedia membeli karya Anda, untuk apa mendengarkan pendapat saya?

Jika ada yang tersinggung, saya minta maaf. Sungguh, saya tidak berniat menyinggung siapapun. Hanya saja, dengan hormat saya mohon, jangan buat sup laler ijo lagi.

 
Gimana Menghubungi Sup Laler Ijo?

Sup Laler Ijo dengan senang hati menerima pujian, saran, dukungan, sumbangan, masukan, caci maki, doa, santet, pelet, jimat, atau apa saja melalui email:

email suplalerijo. gak usah diklik.

Hanya satu hal yang saya minta tidak dikirim, sup laler ijo beneran.