Karakter Itu Harus Logis

posted: Tue 25th Apr, 2006, categories: Cara Memasak Sup

"The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.”
Tom Clancy
 
Seseorang, saya lupa siapa, pernah memberikan komentar ketika saya mengomentari jalannya sebuah cerita yang tidak logis.
 
“Namanya juga cerita,” katanya.
 
Terus terang, saya sedikit kesal ketika mendengarnya. Saya tidak suka kata ‘cerita’ dijadikan pembenaran untuk menciptakan hal-hal yang tidak logis. Seakan-akan kalau Anda membuat cerita, Anda boleh berbuat sesuka hati Anda, termasuk mengabaikan logika pihak paling penting bagi Anda —pembaca Anda. Itu sama saja dengan menganggap pembaca Anda bodoh. Dan percayalah, tidak ada orang yang mau dianggap bodoh.
 
Anda mungkin beranggapan apapun bisa terjadi dalam sebuah cerita. Bukankah seperti itu yang terjadi di dunia nyata? Dunia fiksi, sayangnya, memiliki aturan yang berbeda dengan dunia nyata. Salah satu aturannya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita itu masuk akal atau setidaknya bisa diterima oleh pembaca.
 
Ada dua hal yang cukup rawan dalam masalah logika. Pertama, karakter dan kedua, plot. Pada tulisan ini saya akan menyoroti masalah karakter.
 
Karakter adalah bagian terpenting dalam sebuah cerita karena ia adalah penggerak cerita itu. Nah, dalam rangka menggerakkan cerita seorang atau sebuah karakter harus memiliki motivasi atau alasan. Paling tidak, begitulah umumnya. Ada alasan kenapa tokoh utama memburu penjahat. Ada alasan mengapa orang baik-baik menjadi pembunuh. Dan tentu saja ada penjelasan yang baik mengapa tokoh utama perempuan menjadi gila seperti di bawah ini.
Perempuan berjilbab itu tidak dapat menahan kekecewaannya. Suaminya tidak peduli lagi padanya. Dengan air mata di pipinya, perempuan itu melepas jilbabnya, membuka botol minuman keras milik suaminya dan meminumnya sampai habis. Ia membiarkan minuman itu meracuni pikirannya hingga ia tidak melakukan apa-apa kecuali tertawa sendiri.
 
Tunggu dulu. Perhatikan adegan di atas sekali lagi. Memang ada alasan mengapa perempuan itu gila. Tapi apakah logis? Tidak juga. Kenapa tidak? Karena apa yang dilakukan tokoh tidak sesuai dengan karakter tokoh itu sendiri. Saya perlu bercerita bahwa sebelum adegan tersebut, sang tokoh digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan suka mengingatkan suaminya akan Tuhan. Karena itu menjadi tidak masuk akal ketika sang istri langsung minum-minum ketika sang suami pergi.
 
Lalu seperti apa yang logis itu? Bukankah apa yang dianggap logis menurut seseorang belum tentu logis bagi yang lain? Saran saya, pakailah logika ala masyarakat umum. Secara umum, seorang tokoh yang anggota keluarganya dibunuh akan berusaha mencari pelakunya. Biasanya, orang ditindas terus menerus akan marah dan melawan balik (atau setidaknya kita berharap demikian). Umumnya, perempuan yang ditinggalkan suami tidak akan menjadi gila hanya dalam hitungan detik
 
Kunci untuk melihat logis tidaknya perbuatan karakter adalah dengan memperhatikan karakter itu sendiri. Perhatikan sifat-sifat karakter yang sudah Anda tetapkan untuk karakter Anda. Mungkinkah si A dengan sifat seperti ini mencintai si B hanya karena B memberikan payung di bawah hujan deras? Mungkinkah pemerkosaan yang dilakukan oleh sang ayah merubah pandangan C pada laki-laki? Mungkinkah kegagalan mendapatkan cinta membuat D bunuh diri? Ingat, bisa saja tindakan D menjadi tidak logis bila D adalah sosok yang sangat tegar.
 
Tapi bila ketidakkonsistenan sifat karakter memang menjadi tujuan Anda dalam membuat cerita, berhati-hatilah. Pastikan Anda bermain secantik mungkin hingga pembaca memaklumi perbuatan karakter Anda. Pastikan materi di dalam cerita Anda memang mendukung logika ala Anda. Karena pada akhirnya, meskipun karakter Anda terkesan tidak logis, jika Anda bisa membuat pembaca berada di pihak Anda, Anda sudah menang.

Perhatikan Tanda Baca

posted: Mon 20th Mar, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Penyuntingan
Saya sebenarnya enggan membicarakan masalah tanda baca ini.
 
Pertama, karena kita sudah mempelajari tanda baca sejak SD, sehingga seharusnya semua penulis yang mengenal sekolah tidak perlu diajari.
 
Kedua, tanda baca relatif mudah dipahami. Beli saja buku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan baca semua aturan yang ada di sana. Anda bahkan tidak perlu menghafalkannya. Cukup buka saat mengedit naskah Anda. Kalau Anda berniat belajar EYD lebih lanjut, Anda juga bisa mampir ke situs polisi EYD. Saya yakin ia lebih pandai dalam menjabarkan EYD daripada saya.
 
Tapi ketika saya menemukan kesalahan –atau setidaknya kekurangakuratan- pemakaian tanda baca– dalam sebuah novel, saya jadi geregetan. Kalau satu hanya satu dua kali, saya masih bisa memaafkan. Namun ketika kesalahan itu terjadi berulangkali, saya tidak bisa menahan diri untuk membicarakan masalah tanda baca ini. Mari saya ambilkan contohnya.

Tapi Rhavi dan Deedek sekaligus!? Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari dalam hutan…! “Suara apa itu!?” “Di sana!!!” ….. membuat makhluk-makhluk itu lebih menyerupai monster daripada sekadar hewan liar biasa…!

Setahu saya, memang tidak ada aturan dalam EYD yang melarang menggunakan tanda “!” dan “?” sekaligus ataupun larangan menggunakan “…..” diikuti dengan “!” Tapi rasanya untuk menggunakan dua tanda seperti itu tidak perlu. Cukup salah satu saja. Lagipula, nada seperti apa yang diharapkan dari pembaca dengan pemakaian dua tanda sekaligus seperti itu? Menambah lebih banyak tanda baca tidak menambah apapun dan malah membuat orang kesal.
 
Ingatlah bahwa novel, cerpen, atau apapun bentuk cerita Anda, adalah sebuah media cetak. Artinya, pembaca tidak bisa melihat ekspresi kita atau mendengar nada kita saat kita menciptakan kalimat tersebut. Satu-satunya harapan ada pada tanda baca.
 
Jadi, luangkan waktu Anda untuk menengok kembali naskah Anda dan memperhatikan tanda baca yang ada. Tidak akan memakan waktu sampai seabad, kok. Lagipula, Anda tidak mau terlihat sebagai penulis (ataupun editor) yang ceroboh, bukan?
 
NB: Jika Anda berniat membeli buku EYD, jangan pelit. Jangan membeli buku EYD seharga 3.000 rupiah. Saya sudah membelinya dan malah gatal untuk mengeditnya. Lucu rasanya melihat buku EYD tapi penuh dengan kesalahan EYD.

Jangan Sempurnakan Tokoh Utama Anda

posted: Tue 7th Mar, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Karakter

Randarumi memiliki kepribadian kuat yang jarang dimiliki pemuda seusianya. Di samping cerdas, ia memiliki daya ingat kuat dan hapalan yang hebat serta kreatif, inovatif, dan memiliki leadership.

Kelebihan lain sudah terlihat sejak kecil. Pada usia 9 tahun hafal Al Qur’an secara keseluruhan. Usia 15 tahun menguasai beberapa hadits di luar kepala seperti kitab-kitab sahih 5 imam yang mansyur (mutafak alaih) yang berjumlah puluhan ribu. Hampir hapal semua puisi karya besar Homer, matsnawinya Jalaluddin Rumi, dan karya sastra Muhammad Iqbal. Berbagai prestasi juara di bidang olah raga, antara lain: menunggang kuda, menembak, arung jeram, dan memanjat tebing. Sementara bela diri yang dikuasinya adalah silat, yudo, karate dan kungfu.

Bagaimana pendapat Anda tentang paragraf di atas? Kalau saya adalah seorang bos dan mencari anak buah atau mertua yang sedang mencari menantu, dia pasti akan jadi kandidat yang sempurna. Dengan catatan kalau manusia seperti dia memang ada. Tapi saat saya menemukan karakter seperti itu di dalam novel yang saya beli, saya ingin lari ke toko buku dan meminta uang saya kembali.
 
Kenapa? Karena ia adalah tokoh utama dan tokoh utama tidak seharusnya sempurna.
 
Oke, mungkin Anda berargumentasi, apa salahnya tokoh utama yang sempurna? Tokoh fiksi itu kan rekaan, jadi seharusnya suka-suka penulis menciptakanya. Mari saya jelaskan mengapa.
 
Pertama, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Bahkan superhero seperti Superman takut pada cryptonite dan Spiderman memiliki masalah dalam pergaulan dan pekerjaan. Adalah kelemahan yang membuat tokoh utama itu menarik dan membuat konflik cerita Anda tetap hidup. Bagaimana kalau musuh Superman memiliki crytonite? Bagaimana kalau Mary Jane lebih memilih laki-laki lain dibandingkan Spiderman?
 
Kedua, tokoh utama yang sempurna itu nggak asyik. Kalau kita tahu dia perkasa, tampan, bisa melakukan dan mengatasi apa saja, lalu buat apa kita menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk membaca ceritanya? Toh kita akan tahu si tokoh ini akan baik-baik saja. Untuk apa membaca cerita yang segalanya baik-baik saja?
 
Sebaliknya, tokoh yang tidak sempurna itu yang asyik. Salah satu tokoh favorit saya adalah Frodo Baggins dalam Lord of the Ring. Mengapa? Karena ia biasa, kecil, tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi dipaksa untuk melawan Sauron yang begitu perkasa. Bayangkan kalau Frodo memiliki ibu peri pelindung atau memiliki kekuatan super yang bisa mengalahkan apapun. Konflik Frodo vs Sauron akan kurang menarik bukan?
 
Ya, Tolkien memang menciptakan sekutu yang kuat bagi Frodo, tapi ingat, mereka adalah pemeran pembantu, bukan tokoh utama. Kita dibuat tetap mengkhawatirkan nasib Frodo hingga detik-detik terakhir. Apakah ia berhasil menghancurkan cincin? Apakah ia akan menang melawan Sauron atau mati? Apakah ia bisa sembuh dari ‘penyakitnya’?
 
Tapi ini bukan berarti Anda harus membuat tokoh Anda seperti bawang putih dalam sinetron yang hanya bisa menangis dan berdoa bila dianiaya. Tokoh semacam itu bahkan lebih menyebalkan daripada tokoh utama yang sempurna. Kalau dia tidak bisa membela dirinya sendiri, kenapa penonton harus simpati padanya?
 

Jadi ambil jalah tengahnya. Lempar tokoh utama Anda ke dalam neraka, berikan ia semua masalah buruk yang bisa menimpa dirinya, tapi bantu dan bekali ia dengan kemampuan untuk menyelamatkan dirinya. Dengan demikian, pembaca Anda akan bersemangat membaca perjuangannya. Perjuangan, penderitaan, dan kelemahan tokoh utamalah yang menjadi bahan bakar cerita Anda. Tanpa itu semua, cerita Anda memiliki potensi untuk menjadi hambar.

Anda masih ingin bernafsu menciptakan tokoh yang sempurna? Kalau begitu, jadikanlah ia musuh utama. Jadikanlah ia seperti Hannibal Lecter atau Sauron. Jadikan ia memiliki kemampuan yang sulit ditandingi oleh tokoh utama. Ia boleh saja memiliki kelemahan jika Anda mau, tapi sembunyikan hal itu dari tokoh utama Anda (paling tidak dalam jangka waktu tertentu). Dengan demikian, pembaca akan merasa cemas dengan nasib tokoh utama Anda. Dan jika pembaca Anda mencemaskan tokoh utama Anda, mereka akan terus membaca cerita Anda.

Pelajaran Memotong Rumput (2): Jangan Mengulangi Apa yang Sudah Dikatakan

posted: Tue 21st Feb, 2006, categories: Cara Memasak Sup
Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ada banyak jenis rumput liar di ‘taman’ tulisan Anda yang mampu membuatnya berubah menjadi hutan. Beberapa jenis, karena halus, tidak terlihat. Tapi ada juga yang terlihat jelas selama kita jeli. Nama rumput yang kali ini kita bicarakan adalah mengatakan-apa-yang-sudah-dikatakan. Rumput ini menyelip di mana-mana dan mengotori taman kita, hanya saja kita cenderung memaafkannya. Mungkin karena rumput ini tidak terlihat berbahaya atau tidak mengganggu taman secara keseluruhan. Atau terkadang, rumput itu membuat taman tulisan kita menjadi lebih kaya, lebih berwarna. Padahal, bila dibiarkan hidup, rumput-rumput ini bisa merusak gaya bahasa atau setidaknya mengganggu reputasi Anda sebagai penulis. Coba tengok kembali tulisan Anda. Apakah Anda menemukan beberapa rumput liar seperti di bawah ini?
Ia menulis otobiografinya sendiri.
Yang namanya otobiografi pasti ditulis sendiri. Jadi seharusnya:
Ia menulis biografinya sendiri.

Mereka saling menyayangi satu sama lain.

Mereka saling menyayangi atau mereka menyayangi satu sama lain. Pilih salah satu.
Ia sangat mencintai istrinya sekali.
Ubah menjadi: Ia sangat mencintai istrinya. Atau yang sangat terkenal:
Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihatnya terjun dari jembatan.
Memang bisa melihat dengan mata kepala orang lain? Bagaimana dengan ini?
Menurut pendapat pribadi saya, ia seharusnya dihukum mati.
Kecuali Anda adalah pejabat atau wakil negara yang harus memisahkan pendapat kelompok dengan pendapat pribadi, penggunaan kalimat, “Menurut pendapat saya…” sudah cukup. Kata-kata berikut ini juga sering dipakai. Sekilas tidak ada yang salah, tapi kalau dipikir baik-baik sebenarnya kita menggunakan kata-kata secara berlebihan.
Mundur ke belakang Maju ke depan Naik ke atas Turun ke bawah
Memang ada mundur ke depan, maju ke belakang, naik ke bawah atau turun ke atas? Pembaca Anda tidak bodoh. Kita semua tahu kalau namanya naik pasti ke atas.
Sangat unik Sangat umum
Suatu hal disebut unik kalau ia menjadi satu-satunya. Begitu juga dengan kata ‘umum’. Tidak perlu ditambahkan kata ‘sangat’. Setelah membaca ini, Anda mungkin berpikir, “Ih, nggak penting banget sih kaya gini!” Kalau sebagai penulis Anda berpikir demikian, cobalah untuk melihatnya dari sudut pembaca dan editor Anda. Satu dua kata yang berlebihan mungkin masih dapat dimaafkan pembaca (dan juga editor) bila tulisan Anda benar-benar bagus. Tapi bagaimana bila Anda tidak terbiasa menggunakan kata secara efektif hingga akhirnya Anda memenuhi puluhan atau bahkan ratusan kata-kata dengan kata-kata yang tidak perlu? Bagi pembaca, waktu adalah uang sedangkan bagi editor, setiap penambahan halaman adalah penambahan biaya produksi buku. Hematlah kata-kata seperti Anda menghemat listrik atau air dan dunia akan berterima kasih pada Anda.

Pelajaran Memotong Rumput (1): Buang yang Tidak Perlu

posted: Wed 25th Jan, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Penyuntingan
Whenever you can shorten a sentence, do. And one always can. The best sentence? The shortest. -
Gustave Flaubert
Seseorang mengatakan kepada saya bahwa membuat tulisan itu seperti membangun taman dari sebuah hutan. Pada awalnya, yang kita lihat adalah hutannya. Seperti itulah sebuah tulisan pada awalnya, penuh dengan rumput liar. Rumput-rumput liar itu bisa berupa kata-kata yang berlebihan, pengulangan kata, mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan, atau yang lebih parah lagi, gabungan dari semuanya. Siapa yang menciptakan hutan-hutan itu? Kita sendiri. Sebagai penulis, kita semua senang menggunakan kata-kata yang indah. Kita berpikir, semakin banyak kata indah dan semakin sering orang membuka kamus untuk mencari artinya, kita akan semakin hebat. Kita mengira telah menanam bunga, padahal sebenarnya kita tengah memenuhi taman kita dengan rumput liar. Pada saat kita sadar, taman kita telah berubah menjadi hutan. Lalu bagaimana merubah sebuah hutan menjadi taman? Mudah saja, siapkan linggis dan babat semua rumput liar di sana. Begitu juga dengan tulisan. Untuk mempercantik karya Anda, ambil pena merah dan siapkan kebesaran hati Anda untuk membuang semua kata-kata yang tidak perlu. Tapi sebelum memotong rumput liar, Anda harus tahu seperti apa bentuknya. Jangan sampai salah potong. Mari kita ambil beberapa contoh rumput liar dari sebuah novel.
Matahari terus merayap naik dengan gagahnya, tak ada siapa pun—makhluk—yang bisa menyurutkan langkahnya. Sentuhan sinarnya mampu menerangi jagad raya yang teramat luas. Sungguh begitu kuasanya. Dan matahari itu kini sudah mulai mencondongkan sinar teriknya ke arah timur menandakan tengah hari telah berlalu.
Saya menggolongkan paragraf ini sebagai rumput liar karena sebenarnya bagian paling penting kalimat di atas adalah kalimat terakhir, sedangkan tiga kalimat pertama tidak penting. Kita semua tahu tidak ada yang bisa menyurutkan langkah matahari kecuali Tuhan. Kita juga tahu matahari menerangi jagad raya. Jadi untuk apa diceritakan lagi? Kenapa tidak lebih disederhanakan seperti di bawah ini?
Matahari kini mulai mencondongkan sinar teriknya ke arah timur, menandakan tengah hari telah berlalu.
Lebih singkat, lebih padat, dan tetap sama intinya. Dari 44 kata, saya meringkasnya menjadi 14 kata (pengurangan 32%). Mari kita melangkah ke bagian lain karena rumput liar tidak hanya ada di dalam deskripsi, namun juga di dalam percakapan.
“Kan untuk belajar, tubuh kita harus kuat dan bertenaga, kenapa tidak boleh?” tanya anak lelaki gendut dengan cemberut, tangan gempalnya mengelus-elus perutnya yang buncit berlemak—mungkin khawatir bila perut lembeknya itu akan berkoar-koar menyanyikan lagu keroncongan yang paling sering dinikmati kaum miskin—Pasti!
Apakah inti kalimatnya akan berubah kalau diubah menjadi seperti ini?
“Kenapa tidak boleh? Kan untuk belajar tubuh kita harus kuat dan bertenaga,” tanya anak lelaki gendut itu cemberut sembari mengelus-elus perutnya.
Dari 43 kata, saya berhasil merevisi menjadi 21 (pengurangan 49%). Mungkin kita berpikir. Apa salahnya menggunakan kata-kata yang indah? Bukankah itu termasuk gaya bahasa penulis?
 
Tolong hati-hati membedakannya. Gaya bahasa seperti apapun sebenarnya tidak masalah selama sang penulis bisa menyampaikan pemikirannya dengan tepat dan efektif. Saya juga suka membandingkan tulisan yang bertele-tele dengan tulisan yang padat dan efektif dengan mendengarkan pidato.
 
Ya, saya tahu pidato itu membosankan. Tapi jika Anda harus mendengarkan pidato, mana yang lebih Anda sukai, pidato sepanjang sepuluh menit yang bertele-tele atau pidato yang isinya sama namun hanya 5 menit? Tentu saja yang kedua. Seperti itulah sebuah tulisan. Kalau Anda bisa menyampaikan maksud Anda dalam lima kata kenapa harus menyampaikannya dalam sepuluh kata?
 
Karena itu, jadikan setiap kata dalam tulisan Anda bermakna. Para pembaca sudah berbaik hati mau menghabiskan uang dan waktu untuk karya Anda. Tolong jangan siksa mereka untuk membaca sesuatu yang tidak perlu. Potonglah rumput-rumput liar itu agar mereka bisa menikmati keindahan taman Anda, sebagaimana Anda menikmatinya.

Buatlah Catatan

posted: Thu 29th Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup
Sebenarnya saya harus merasa malu. Sebagai orang yang mengaku suka menulis. saya baru mulai menjalani kebiasaan baru ini beberapa minggu yang lalu. Kebiasaan itu namanya mencatat.
 
Sebelumnya saya memang mencatat (walau hanya di komputer). Isinya paling-paling hanya terdiri atas empat hal: catatan ide, coretan pengembangan alur dan karakter, naskah yang sudah jadi, dan file hasil riset mengenai suatu topik di internet. Tapi, saya sedikit mengabaikan lingkungan sekitar saya yang sebenarnya penuh dengan ide dengan tidak mencatatnya.
 
Alasannya sederhana saja. Toh nanti saya juga akan ingat. Toh nanti saya akan ingat saya melihat seorang gila yang menyanyi di stasiun Tebet.
 
Yah, memang benar. Setelah sekitar lima tahun kejadian itu, saya ingat ada orang gila yang bernyanyi lagu kebangsaan di stasiun Tebet lengkap dengan para pedagang yang menertawakannya. Tapi saya sudah lupa akan detilnya. Saya lupa lagu apa yang dinyanyikannya dan seperti apa pakaiannya. Saya juga tidak ingat apa yang diteriakkan oleh para pedagang.
 
Apakah mereka menertawakan suaranya atau mereka justru ikut menyanyi bersama orang gila itu? Pada saat ini saya memang belum mengembangkan cerita yang membutuhkan informasi mengenai orang gila. Tapi seandainya ya, bukankah saya sudah membuang informasi yang sangat berharga? Padahal informasi itu pernah tersaji begitu gamblang di depan mata kita. Hanya karena saya tidak mencatatnya, saya kehilangan informasi tersebut. Kenapa nggak ingat detailnya? Ya karena otak saya (dan juga otak kamu) bukanlah disket yang kalau sekali kita menyimpan, kita tinggal dan membukanya, informasi akan tersaji. Tidak.
 
Sejalan dengan waktu, otak kita cenderung melupakan hal-hal detil. Bahkan memori kita bisa saja salah. Apakah kejadian saya bertemu dengan orang gila itu pada pagi hari atau siang hari? Apakah rambutnya panjang atau pendek? Apakah kulitnya hitam atau putih?
 
Di sinilah pentingnya membuat catatan. Jangan berpikir bahwa buku catatan Kamu harus berisi pengolahan alur, ide, karakter, dialog, adegan dan sebagainya. Hal-hal seperti itu memang sudah sewajarnya ada di dalam buku catatan Kamu.
 
Tapi, lebih jauh lagi, buku catatan penulis sebaiknya mencatat apa saja yang menarik bagi seorang penulis. Bentuknya macam-macam. Bisa dari percakapan seseorang, potongan adegan yang melintas di kepalamu, hingga foto atau artikel dari majalah. Ralph Fletcher, penulis Writer’s Notebook, membuat daftar isi apa saja yang terdapat dalam buku catatan penulis.
  1. Apa yang membuatmu takjub/kaget/ marah
  2. Apa yang membuatmu ingin tahu
  3. Apa yang kamu amati
  4. “Benih ide” atau “pemicu” untuk mengarang cerita atau puisi
  5. Detail-detail kecil yang memikatmu.
  6. Potongan pembicaraan yang kamu dengar
  7. Kenangan
  8. Daftar (daftar apa aja)
  9. Foto, artikel, potongan tiket atau artifak lain
  10. Sketsa, gambar, atau coretan yang kamu buat sendiri
  11. Kutipan dari buku atau puisi. 
Jadi, apa yang ada di dalam buku catatan saya? Sejauh ini, buku saya lebih banyak berisi apa yang saya amati, pengembangan ide cerita saya serta detail-detail kecil yang memikat saya.
Truk Sampah 18/12 05 Sebuah truk sampah melaju di jalan baru. Terpal oranyenya digulung di atas truk hingga menyerupai pita. Nggak ada kesan seram, besar, atau bau. Hanya lucu. Seperti hadiah ultah yang tidak diinginkan orang. Tak ada yang mau.

Mbak *** Kalau ditanya org tp jawabannya sebenarnya nggak, it doesn’t mean you have to say no. Misalnya. “Kamu bawa uang, nggak?” Padahal gak bawa uang. Instead of saying no, you could answer, “Ntar di depan berhenti di ATM.” Padahal sebenarnya gak bawa uang.

Asyiknya membuat buku catatan adalah kamu nggak perlu peduli dengan segala macam aturan EYD dan tata bahasa. Buat apa? Toh yang akan membaca buku ini hanya kamu. Karena itu kamu bebas menuangkan apa saja. Kebebasan ini juga yang membuat proses menulis jauh lebih mudah dan ringan. Coba aja.
 
Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa baca Writer’s Notebook karangan Ralph Fletcher dari penerbit MLC. Buku ini lumayan bagus, kok. Paling nggak buku ini sudah menggugah kesadaran saya untuk mulai rajin membuat catatan. Lha kok malah promosi? Kayak dibayar aja sama MLC.

Deskripsi: Jangan Cuma Pakai Mata!

posted: Tue 20th Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Deskripsi
Seorang teman di salah satu forum dunia maya pernah mengajukan pertanyaan seperti ini:
 Gimana caranya bikin deskripsi yang langsung menarik minat saat pertama kali baca?
Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan satu contoh deskripsi.
Angie masuk dan duduk di sebelah Reza. Ia memandang berkeliling dan memperhatikan kamar Reza yang rapih dan bernuansa merah dan hitam. Di pojok dekat pintu ada sebuah meja belajar dengan sebuah komputer. Buku-buku pelajaran dan majalah berserakan di atasnya. Di sebelahnya ada stereo set lengkap dengan TV, VCD, DVD, dan video games serta bingkai-bingkai foto. Di sebelahnya ada tempat tidur dan meja damun yang dipenuhi makanan. Tidak ada kosmetik dan alat rias, hanya ada sebuah bedak bayi berukuran besar, pembersih wajah, dan cologne. Di ujung sana ada sebuah pintu dengan tulisan Rest Room, di dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pekarangan. Di dinding, terpajang berbagai macam poster pemain sepak bola dan grup band asal Amerika, Linkin Park.
“Your room is cool!” kata Angie sambil tersenyum.
Reza tersenyum, “Makasih.”
“Mau minum apa, Gie?” tanya Reza sambil memindahkan channel TV.
“Gak usah,” jawab Anggie sambil tersenyum.
"Bener, nih?” tanya Reza dengan alis terangkat. Angie mengangguk singkat.
“Kamu suka Linkin Park?” tanya Angie begitu melihat poster besar grup band itu di dinding belakang tempat tidur Reza. Reza mengangguk,
“Suka banget. Lu pasti gak suka ya?”
“Kenapa kamu kira begitu? Saya suka sekali sama mereka.”
“Oya?” kata Reza sambil membenarkan posisi duduknya, “Serius?”
“Ya. Kenapa, apa cewek seperti saya ini nggak cocok ya untuk jadi fans mereka?” tanya Angie pura-pura marah sambil menolakkan pinggangnya dan cemberut.
Apa yang salah dengan deskripsi kamar di atas? Sederhana saja. Deskripsi tersebut datar. Saya tidak akan menyalahkan penulisan di atas karena ia membuat persis sebagaimana yang diajarkan guru Bahasa Indonesia di sekolah. Gurunya akan tersenyum puas membaca deskripsinya sementara kita sebagai pembaca akan memilih melewati paragraf tersebut.
 
Atau mungkin kita akan membacanya tapi tidak ada kesan yang berbekas. Kenapa? Karena deskripsi tersebut hanya menggunakan mata. Dengan hanya menggunakan mata, ceritamu tidak akan ada bedanya dengan film. Padahal novel bukanlah film.
 
Sebuah novel harus bisa membuat pembacanya merasa ada di sana, hadir di dalam cerita. Lagipula manusia memiliki lima indera: mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Kenapa kita hanya menggunakan satu indera untuk menggambarkan situasi? Bukankah akan jauh lebih hidup kalau kita menggunakan semuanya? Bukanlah akan jauh lebih menarik kalau saat kita masuk ke dalam kamar, kita bisa merasakan bagaimana situasi di dalam kamar? Bagaimana baunya? Bagaimana perasaanmu? Adakah hal yang menarik perhatian? Adakah benda-benda yang membuat kamu merasa yakin menggambarkan pemiliknya? Ataukah justru ada hal-hal kontras dengan kepribadian pemilik kamar? Mungkin lucu kalau seorang yang macho ternyata menyimpan koleksi makanan di kamarnya.
 
Tapi, tidak berarti kamu harus benar-benar menggunakan kelima indera Kamu dalam menulis. Bayangkan bakal sepanjang apa deskripsi kamu. Gunakan sebagai bagian dari cerita. Mungkin Kamu cukup memakai mata dan telinga saja. Atau kalau kamu sedang menggambarkan dapur, kenapa tidak menggabungkan mata dan hidung? Ada kalanya perasa dan mata saja cukup, ada kalanya penciuman dan pendengaran cukup. Kamu yang lebih tahu.
 
Seorang pembaca tidak perlu tahu dimana posisi DVD set dan di mana kamu meletakkan poster Linkin Park, kecuali kamu mau meletakkan senjata pembunuh di sana. Yang diperlukan adalah emosi yang muncul saat kamu menggambarkan ruangan tersebut. Apakah kamu ingin mengesankan ruangan yang kotor? Ruangan yang dingin? Ruangan yang baru saja dibuat? Coba baca deskripsi di bawah ini.
Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon kumashidi yang rindang, Nakamura tua memandang ke seantero taman yang luas dan penuh pengunjung itu. Berpuluh atau bahkan beratus koinobori berkibaran seperti ikan berenangan dihembus angin musim semi yang hangat. Tiang-tiangnya menancap kuat-kuat; memenuhi taman yang rindang oleh pepohon besar dan bebungaan yang ditata rapi, yang memberikan kesejukan di musim panas dan menimbulkan kesan hangat di musim dingin. — Herlino Soleman, Koinobori
Saya menyukai bagaimana penulis di atas memakai tiga indera dalam menggambarkan suasana. Saya bisa merasakan semilir angin yang hangat. Saya juga bisa mendengar ramainya pengunjung saat Herlino menuliskan kata ‘penuh pengunjung’ dan pada saat bersamaan melihat koinobori beterbangan. Saya merasa ada di sana. Bagaimana dengan kamu? Sekali lagi, perhatikan terjemahan bebas di bawah ini:
Serena Caudill mendengar langkah dari luar dan deritan pintu kabin dan ia tahu bahwa John datang. Ia terus menusuk ayam panggangnya yang semakin cokelat.
“Di mana Boone?”
“Lagi mutar, kayaknya.”
Ia mengangkat kepalanya dan melihat John menutup pintu dari hujan, melihatnya menutup pintu tanpa berbalik sementara matanya malah memperhatikan dapur yang remang-remang. Ia bersandar pada dinding, membuat ketukan tak teratur pada lantai, mulai menggantungkan mantelnya, berpikir sejenak, lantas memakainya kembali menyelimuti lehernya. Dalam kehangatan kamar, aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah mengalir dari dirinya.
–A.B. Guthrie, The Big Sky
Ini contoh deskripsi mengenai ruangan tanpa kamu harus menyebutkan posisi benda. Dari sana, kita udah mendapat gambaran tentang ruangan itu. Kamu nggak perlu capek-capek memberi tahu posisi benda-benda yang ada di sana. Cukup beritahu yang penting-penting aja. Perapian, pintu yang berderit, lantai, tempat menggantungkan mantel, dapur yang remang-remang dan bau. Hmm… kamu bisa membayangkan ‘aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah’, kan? Itulah yang saya maksud dengan deskripsi yang baik. Cukup citra yang ingin kamu benamkan pada pembaca saja yang kamu tampilkan. Nggak perlu bertele-tele. Jadi bagaimana merevisi tulisan seperti di atas? Saya mengusulkan seperti ini:
Angie mengira ia akan menemukan markas tentara di kamar Reza. Tapi ia salah. Tidak ada ranjau kabel yang menyandung kakinya ataupun barikade tumpukan majalah lama yang menghalangi jalannya. Dengan nuansa merah hitam dan komputer dan audio set , kamar Reza terkesan maskulin.
Meskipun begitu, Angie mulai menyukai kamar itu saat mencium wangi musk di sana. “Mau minum apa, Gie?” Reza menekan channel yang menampilkan musik rock. Bukannya menjawab, Angie malah menjerit.
"Ya ampun!” Angie langsung duduk di samping Reza.
Ini konser Linkin Park di Jepang, kan?” “Kamu suka Linkin Park?” tanya Reza heran. “Emangnya cewek seperti saya ini nggak cocok jadi fans mereka?” Angie pura-pura marah. “Saya suka sekali sama mereka, terutama yang itu,” Angie menunjuk sebuah poster di atas tempat tidur Reza, “Mike Shinoda.”
Saya menggunakan dua indera di atas: mata dan hidung. Saya juga berhasil menghemat 99 dari 224 kata paragraf aslinya. Bandingkan dengan paragraf aslinya. Adakah esensi cerita yang hilang? Kalau kamu mau, kamu bisa membuat revisinya versi kamu sendiri. Kamu mungkin bisa bikin yang lebih bagus dari saya.

Wawancarailah Karakter Anda

posted: Thu 1st Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Membentuk karakter cerita, menurut saya, adalah salah satu bagian tersulit sekaligus terpenting dalam pembentukan cerita. Biasanya, begitu sudah mengenal tokoh saya akan lebih mudah untuk mengembangkan plot karena saya bisa menggunakan berbagai sifatnya (atau sifat lain) untuk menjebloskannya ataupun mengeluarkannya dari konflik.

Seorang guru mengatakan pada saya bahwa ia menggunakan tehnik wawancara pada tokoh rekaannya. Jadi bayangkan Anda berada di dalam satu ruangan dengannya dan berbicara padanya. Seperti apa dia? Bagaimana cara ia duduk? Bagaimana cara ia memainkan rambutnya? Apakah ia terus menerus melihat jamnya? Semakin lama Anda ‘berbicara’ padanya, Anda akan semakin mengenalnya.

Cara lain yang sering saya gunakan adalah dengan mengisi tabel seperti di bawah ini. Tabel ini tentu saja tidak sempurna. Anda dapat memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan Anda.


Atribut Dasar
Nama Lengkap:
Panggilan :
Jenis Kelamin :
Gender :
Berat/Tinggi Badan :
Warna/Gaya Rambut :
Warna Mata :
Gaya Busana :
Dandanan :
Kemampuan Fisik :
Keterbatasan Fisik :

Latar Belakang
Status Sosial :
Tempat/ Tanggal Lahir :

Profil Orang Tua

Ayah
Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan anak :

Ibu

Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan anak :
Struktur Keluarga :

Saudara:
Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan tokoh :

Kisah Singkat

Bagaimana hidup tokoh sebelum cerita dimulai?

Bagaimana masa kecil tokoh?

Apa masa tersulit dalam hidup tokoh?

Apakah hidup sesuai dengan harapan tokoh?

Apakah tokoh memiliki penyesalan?

Situasi khusus apa yang membuat tokoh seperti sekarang?

Kejiwaan
Sifat :
Tujuan Hidup :
Hidup, karir, atau tujuan hidup yang keluar dari alur cerita :
Karakteristik pembeda :
Introvert? Ekstrovert? :
Pakai otak atau Pakai perasaan? :
Fobia :
Harapan dan Keinginan :
Kontradiksi terbesar dalam hidup karakter :
Seberapa Egois? :
Makanan dan Minuman Favorit :
Pendidikan Penting :
Aktivitas paling dibenci :
Aktivitas paling disukai :
Rahasia paling dalam :
Sense of humour :
Yang dipuja karakter :

Filosofi dan Moralitas
Sikap terhadap
Diri Sendiri :
Orang Lain :
Persahabatan :
Seks :
Cinta :
Keluarga :
Pernikahan :
Negara :
Dunia :
Agama :
Character’s Quotations :

Gaya Hidup
Sahabat Terbaik :
Pekerjaan :
Sikap terhadap pekerjaan :
Pencapaian :
Terkenal/Tidak Terkenal :
Organisasi :
Musik Kesukaan/Band favorit :
Hobby :

Catatan:
Daftar ini bukan milik saya. Bila Anda merasa sebagai pemilik daftar ini, silahkan hubungi saya.

Stereotip dan Penciptaan Karakter

posted: Wed 30th Nov, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Karakter seperti apa yang Anda lihat setiap hari di televisi?
 
Biasanya, daftarnya tidak jauh dari daftar seperti di bawah ini.
 
  • Tokoh utama perempuan lemah, suka menangis, manis, suci seperti malaikat, tidak berdaya, tidak bisa berjuang, kadang dibuat miskin agar lebih menderita, tapi yang pasti: selalu tertindas tanpa bisa berbuat apa-apa.
  • Kalimat favorit dimulai dengan kata, “Ya Tuhan…”
  • Tokoh utama laki-laki Tampan (harus!), kaya (harus juga!), romantis, kadang-kadang jago silat, selalu tergoda dengan saingan tokoh utama perempuan, tidak mau mendengar perkataan tokoh utam perempuan.
  • Saingan tokoh utama Cantik (harus!), selalu punya rencana jahat, penggoda, berpakaian seksi, mata melotot. Kalimat favorit, “Rasakan pembalasanku nanti!”
  • Ibu Tiri kejam, memiliki mata melotot, sadis, suka memukuli anak tiri tapi bersikap manis di depan sang ayah.Tidak ada kalimat favorit karena mereka lebih suka melotot.
  • Ayah bodoh karena tidak bisa melihat penderitaan anaknya, tidak mau mendengarkan anaknya, suka membentak bahkan untuk kesalahan kecil.
  • Penjahat Karakter penjahat biasanya terbagi menjadi dua, mereka yang bodoh dan mereka yang suka melotot dan tertawa keras-keras. Mereka juga kejam, punya anak buah yang bodoh. Kalimat favorit mereka, “Ayo! Hajar dia! Ha..ha..ha..ha….”
  • Polisi datang terlambat. Ustadz
  • Ustadz tukang usir hantu, suci, tidak memiliki dosa.
Apa pendapat Anda tentang karakter-karakter tersebut? Josip Novakovich, pengarang Berguru kepada Sastrawan Dunia (Mizan, 2003) menyebutnya sebagai tokoh rata. Saya cukup menyebutnya sebagai tokoh yang membosankan.
 
Kenapa? Karena mereka tidak seperti manusia nyata. Rasanya begitu tokoh di atas muncul, kita sudah langsung dapat menebak sifatnya. Seorang tokoh yang baik memiliki sifat seperti manusia. Itu artinya ia memiliki sifat baik dan sifat buruk. Sifat-sifat tokoh itulah yang akan menggerakkan cerita.
 
Katakan, apa asyiknya melihat ibu tiri yang terus-terusan kejam dari episode 1 sampai 1000? Apa asyiknya melihat tokoh utama terus-terusan menderita dan hanya bisa berdoa? Apa asyiknya juga melihat semua penjahat selalu tertawa seusai berbicara?
 
Tokoh ibu tiri favorit saya, sampai sekarang adalah ibu tiri Cinderella di dalam kisah Ever After yang diperankan dengan bagus oleh Angelica Houston. Ya, ia kejam hingga menjual pelayan sebagai budak demi mendapatkan uang. Tapi ia perlu memukuli anak tirinya hanya untuk menunjukkan ia kejam. Ia bahkan anggun, berkelas meskipun memiliki sifat licik.
 
Ketika anak tirinya bertanya mengapa sang ibu tidak pernah mencintainya, ia hanya menjawab, “Bagaimana mungkin seseorang mencintai kerikil dalam sepatunya?
 
Jadi, buatlah tokoh Anda memiliki sifat yang kompleks. Pikirkan berbagai macam perpaduan. Bagaimana dengan penjahat yang berjuang menjadi ayah yang baik dan melindungi keluarganya? Bagaimana kalau tokoh utama kita cantik, anggun, sedikit latah, sedikit suka berbohong, sedikit suka berpura-pura dan menyembunyikan fakta kalau dia suka sekali mengupil kalau tidak ada orang? Bagaimana kalau kita menampilkan saingannya yang sangat menyenangkan hingga kita akan sulit membencinya? Bagaimana kalau tokoh utama laki-laki kita ini baik, memiliki sifat kekanak-kanakan namun membenci anak-anak, memiliki selera baju yang buruk serta cara tawa yang aneh? Bagaimana kalau mereka semua bertemu dalam satu cerita? Saya percaya karakter yang unik akan membentuk plot cerita yang unik pula. Dan cerita yang unik akan tinggal lebih lama di dalam hati pembaca.