Simpan Yang Terbaik Di Bagian Akhir

posted: Fri 16th Jun, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Sup Laler Ijo, Alur, Film
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya seusai menyaksikan Mission Impossible: III (MI:3). Padahal ceritanya nggak jelek-jelek amat. Alur cerita juga mengalir dengan cukup baik. Tapi tetap saja perasaan tidak puas itu ada setelah saya keluar dari bioskop.
 
Cukup lama saya memikirkan hal ini hingga akhirnya sebuah percakapan dengan teman saya membuat saya menyadari rantai yang salah dalam MI:3, ia tidak mengikuti pembabakan konflik yang baik.
 
Sebuah cerita, terutama cerita aksi seperti MI:3 seharusnya membangun konflik seperti seorang jagoan yang pergi membasmi gerombolan penjahat yang mendiami sebuah gunung. Di dasar gunung paling bawah, ia akan melawan keroco, lalu secara bertahap ia akan melawan kepalanya keroco, kepalanya kepalanya keroco, hingga akhirnya di puncak gunung ia akan melawan sang jenderal (atau istilahnya, the big bad guy) dan menyelamatkan gadis yang ditawan.
 
Formula sederhana inilah yang dipakai hampir semua pembuat cerita aksi di seluruh dunia selama berabad-abad dengan beragam variasi. Anda boleh memulai cerita dari tengah, boleh memulai dari sepertiga akhir cerita, tapi intinya tetap sama, semakin lama cerita harus semakin seru.
 
Dan formula inilah yang tidak ditaati oleh MI:3. Cerita dibuka dengan menampilkan Ethan diikat dan dipaksa untuk memberi tahu di mana Kaki Kelinci. Untuk sesaat cerita menurun ketika cerita memasuki hubungan Ethan dengan Katie Holmes seorang gadis. Tapi ketegangan cerita naik lagi saat saat Ethan diberi misi penyelamatan agen Lindsay.
 
Kita semakin berdebar-debar saat Ethan dan teman-temannya berusaha menculik Davian ataupun saat ia berusaha agar Davian tidak diselamatkan. Dengan tingkat ketegangan yang semakin memuncak, adalah suatu hal yang wajar kalau penonton menginginkan sesuatu yang wah saat akhirnya Ethan berhadapan dengan Davian. Kita semua ingin melihat pertarungan yang dasyat antara jagoan kampung kita dengan kepala penjahat.
 
Tapi apa yang kita dapatkan? Davian berakhir dengan tertabrak truk. Persis akhir nasib Bawang Merah dalam sinetronnya. Ini seperti mendapatkan foreplay yang hebat, tapi tidak memuaskan di bagian klimaks. Menyebalkan, bukan?
 
Satu hal yang bisa dipelajari dari kesalahan MI:3 adalah jangan terlalu banyak mengumbar ketegangan pada awal dan tengah cerita. Saat saya mengingat kembali film MI:3, saya merasa bagian paling seru adalah saat adegan penyelamatan agen Lidsay, lengkap dengan adegan pertempuran helikopternya. Setelah itu, tidak ada adegan yang memiliki intensitas ketegangan yang sama.
 
Bukan berarti Anda tidak boleh mengubar ketegangan. Bagaimanapun juga ini adalah cerita aksi. Apa yang akan dijual kalau bukan konflik? Silahkan saja. Tapi, pastikan bagian terakhir merupakan bagian yang paling seru, paling tegang, dan paling mengasyikkan. Buatlah pembaca atau penonton tersenyum saat Anda menutup cerita Anda. Buatlah agar semua usaha Anda membangun cerita tidak menjadi kesia-siaan karena klimaks yang biasa-biasa saja. Karena pada akhirnya, bagaimana Anda membuat klimakslah yang paling penting (ya, sama dengan jenis klimaks yang ada di otak Anda sekarang).

Hindari Kebetulan

posted: Thu 1st Jun, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Alur
Seberapa banyak kita menemukan adegan kehidupan kita yang kita anggap sebagai kebetulan? Saat kita tidak punya uang, kebetulan orang tua kita memberikan uang. Saat kita tidak mendapat kendaraan umum pas pulang kerja larut malam, tiba-tiba saja BMW bos kita menawarkan tumpangan. Saat kita butuh alasan untuk kabur dari kantor, kebetulan bos juga tidak masuk kantor. Kalau dipikir-pikir, hidup ini penuh kebetulan, bukan?
 
Memang. Tapi sayangnya, aturan serupa tidak berlaku di dunia fiksi.
 
Kenapa? Sederhana saja. Karena kebetulan itu tidak asyik. Apa Anda mau menonton atau membaca hanya untuk menemukan musuh tokoh Anda akhirnya mati tertabrak truk yang kebetulan lewat? (Maaf, saya menggunakan ending Mission Impossible III sebagai contoh.)
 
Mungkin jawabannya iya bila Anda memiliki tokoh dan alur yang kuat pada awal dan pertengahan cerita. Meskipun demikian, tetap saja unsur kebetulan membuat cerita jadi kurang kuat. Kesannya malah Anda sebagai penulis nggak kreatif atau malah sudah putus asa menyelesaikan cerita. Bagaimana cara agar tokoh kita tahu sahabatnya selingkuh dengan kekasihanya? Buat saja agar tokoh kita kebetulan memergoki kekasihnya mencium sahabat tokoh kita.  Selesai deh masalahnya.
 
Tapi tunggu sebentar. Masalah memang selesai menurut Anda, tapi apakah cukup asyik bagi pembaca? Apakah cara penyelesaian masalah yang kebetulan seperti ini akan terus diingat pembaca? Sayangnya jawabannya tidak.
 
Kalau kita mau rajin berpikir, ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah si tokoh. Bagaimana kalau kita buat tokoh kita menyadari bahwa lagu yang dibuat kekasihnya bukan ditujukan bagi dirinya, tetapi untuk sahabatnya? Bagaimana kalau kita buat tokoh kita menyadari bahwa sang kekasih dan sahabat sering menghilang pada saat yang bersamaan?
 
Biarkan tokoh Anda berpikir, mengaitkan banyak pertanda yang Anda jatuhkan sepanjang cerita, dan akhirnya berhasil mengambil satu kesimpulan bahwa kekasihnya selingkuh. Bukankah hal ini akan lebih diingat pembaca daripada sekedar membuat adegan ciuman untuk memecahkan masalah?