Simpan Yang Terbaik Di Bagian Akhir
Ada sesuatu yang mengganjal di pikiran saya seusai menyaksikan Mission Impossible: III (MI:3). Padahal ceritanya nggak jelek-jelek amat. Alur cerita juga mengalir dengan cukup baik. Tapi tetap saja perasaan tidak puas itu ada setelah saya keluar dari bioskop.
Cukup lama saya memikirkan hal ini hingga akhirnya sebuah percakapan dengan teman saya membuat saya menyadari rantai yang salah dalam MI:3, ia tidak mengikuti pembabakan konflik yang baik.
Sebuah cerita, terutama cerita aksi seperti MI:3 seharusnya membangun konflik seperti seorang jagoan yang pergi membasmi gerombolan penjahat yang mendiami sebuah gunung. Di dasar gunung paling bawah, ia akan melawan keroco, lalu secara bertahap ia akan melawan kepalanya keroco, kepalanya kepalanya keroco, hingga akhirnya di puncak gunung ia akan melawan sang jenderal (atau istilahnya, the big bad guy) dan menyelamatkan gadis yang ditawan.
Formula sederhana inilah yang dipakai hampir semua pembuat cerita aksi di seluruh dunia selama berabad-abad dengan beragam variasi. Anda boleh memulai cerita dari tengah, boleh memulai dari sepertiga akhir cerita, tapi intinya tetap sama, semakin lama cerita harus semakin seru.
Dan formula inilah yang tidak ditaati oleh MI:3. Cerita dibuka dengan menampilkan Ethan diikat dan dipaksa untuk memberi tahu di mana Kaki Kelinci. Untuk sesaat cerita menurun ketika cerita memasuki hubungan Ethan dengan Katie Holmes seorang gadis. Tapi ketegangan cerita naik lagi saat saat Ethan diberi misi penyelamatan agen Lindsay.
Kita semakin berdebar-debar saat Ethan dan teman-temannya berusaha menculik Davian ataupun saat ia berusaha agar Davian tidak diselamatkan. Dengan tingkat ketegangan yang semakin memuncak, adalah suatu hal yang wajar kalau penonton menginginkan sesuatu yang wah saat akhirnya Ethan berhadapan dengan Davian. Kita semua ingin melihat pertarungan yang dasyat antara jagoan kampung kita dengan kepala penjahat.
Tapi apa yang kita dapatkan? Davian berakhir dengan tertabrak truk. Persis akhir nasib Bawang Merah dalam sinetronnya. Ini seperti mendapatkan foreplay yang hebat, tapi tidak memuaskan di bagian klimaks. Menyebalkan, bukan?
Satu hal yang bisa dipelajari dari kesalahan MI:3 adalah jangan terlalu banyak mengumbar ketegangan pada awal dan tengah cerita. Saat saya mengingat kembali film MI:3, saya merasa bagian paling seru adalah saat adegan penyelamatan agen Lidsay, lengkap dengan adegan pertempuran helikopternya. Setelah itu, tidak ada adegan yang memiliki intensitas ketegangan yang sama.
Bukan berarti Anda tidak boleh mengubar ketegangan. Bagaimanapun juga ini adalah cerita aksi. Apa yang akan dijual kalau bukan konflik? Silahkan saja. Tapi, pastikan bagian terakhir merupakan bagian yang paling seru, paling tegang, dan paling mengasyikkan. Buatlah pembaca atau penonton tersenyum saat Anda menutup cerita Anda. Buatlah agar semua usaha Anda membangun cerita tidak menjadi kesia-siaan karena klimaks yang biasa-biasa saja. Karena pada akhirnya, bagaimana Anda membuat klimakslah yang paling penting (ya, sama dengan jenis klimaks yang ada di otak Anda sekarang).




