Jangan Menunggu Mood

posted: Mon 22nd May, 2006, categories: Bertanya Pada Laler Ijo

Berikut ini adalah surat yang dimuat di salah satu milis kepenulisan. Sudah sedikit lama, tapi menurut saya tetap relevan untuk dibahas.

Hai semua,

Saya Bagus, Bali, saya punya masalah nih.

Di otak saya selalu ada ide dan inspirasi, tapi untuk menuangkannya ke dalam tulisan saya perlu mood, waktu atau tempat khusus. Sementara saya sekarang disibukkan oleh pekerjaan saya sebagai penjaga warnet.

Saya yakin bisa menuangkan isi otak saya ke atas kertas dengan catatan saya tidak disibukkan oleh pekerjaan. Tapi kalo saya tak kerja perut saya akan kelaparan.

Gimana dong, biar saya bisa aktif menulis dan juga bekerja untuk bisa survive hidup. Mungkinkah saya bisa menulis dengan perut lapar?

Bagus,

Idealnya semua penulis terkurung di dalam kamar cantik di atas gunung, dilengkapi dengan fasilitas komputer, perpustakaan, dan audio super lengkap, serta dijaga oleh tiga ekor naga raksasa di luar. Naga pertama untuk menendang boss kita yang hendak memberikan pekerjaan tambahan, naga kedua untuk menjaga agar keluarga dan teman agar tidak masuk, dan naga ketiga untuk mengusir editor kita. Dengan cara hidup seperti itu, kita –para penulis- bisa menulis dengan tenang.

Tapi sayangnya, tidak semua penulis hidup dalam kemewahan seperti itu. (Percayalah, saya juga mau punya naga seperti itu) Sebagian besar dari kita harus membanting tulang untuk bekerja, mengejar dosen, melakukan tugas sekolah hingga di akhir hari tidak ada yang tersisa kecuali badan yang rasanya mau remuk. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana Anda menemukan waktu ideal untuk menulis? Dan jika Anda hanya mau menulis saat waktu ideal datang, kapan cerita Anda mau selesai?

Mari saya beritahu sesuatu, Bagus. Ide cerita terbaik kadang-kadang muncul justru bukan di waktu ideal kita. Kalimat, ending, konflik, karakter terbaik saya tercipta justru saat saya sedang naik angkutan umum. Saat itu juga saya menuliskannya tanpa peduli tatapan orang. Anda ingin tahu di mana Stephen King menuliskan novelnya pada awal-awal karirnya? Di atas mesin cuci saat istirahat makan siang (saat itu ia bekerja di binatu).

Penulis yang baik harus bisa mengatasi mood-nya, Bagus. Ia tidak boleh dibatasi ruang dan waktu tertentu untuk menghasilkan karya. Contohlah para wartawan. Apa jadinya koran bila wartawannya hanya bisa menulis bila sedang mood?

Jadi saran saya, teruslah menulis di sela-sela pekerjaan Anda. Bila Anda sedang tidak diganggu klien, menulislah. Bila Anda punya waktu senggang saat makan siang, menulislah sambil makan. Bila Anda berada dalam perjalanan pulang, menulislah saat menunggu angkutan umum. Mungkin yang lahir adalah coretan-coretan kasar yang tidak terbentuk. Tapi hal ini jauh lebih baik daripada Anda menulis hanya pada saat ideal Anda.

Menulis bukanlah proses sulap yang sekali abrakadabra jadi. Dia harus dipoles, dipotong, ditambal, disulam hingga akhirnya menjadi karya yang cantik. Kalau Anda hanya menulis saat-saat tertentu saja, Anda yang rugi. Keajaiban ide itu tidak terjadi dengan sendirinya, Bagus. Buatlah keajaiban itu datang.

NB: Lagipula kalau Anda bisa menulis cerita sembari menjaga warnet, itu akan jadi cerita yang bagus untuk biografi Anda kelak. Ya, kan?

Kala Ide Kamu Mirip Ide Orang Lain

posted: Thu 13th Apr, 2006, categories: Bertanya Pada Laler Ijo
Saya Windy, mahasiswi 21 th. saya lagi menggarap novel, belum selesai dan belum diajuin ke penerbit. Sembari belum selseai saya baca-baca buku kan buat referensi. novel saya udah nyampe bab 14 ketika saya baca novel yang berjudul ‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro, penerbit Grasindo.
Dan saya kaget mampus! Banyak kemiripan novel ‘5cm’ ini dengan novel yang sedang saya buat!BT abis! Dari mulai gaya nulis trus hal-hal kecil yang sifatnya sekedar lelucon, juga tipe tokoh di mana tokoh utamanya bukan 1 tapi kumpulan(bedanya saya bukan geng-an tapi band) terus belum lagi ada unsur filsafat dan minat baca yang ditekenin di novel ini, hanya saja pada novel saya penekanannya lebih tajam karena itu yang mau difokusin. paling2 bedanya juga kalo dia ada unsur2 puitis, kalo saya ngga…karena dibuat seringan mungkin, tapi isinya filsafat dan sekalian berkamapanye ‘minat baca’.
Plisss…saya butuh saran2 kalian terutama mungkin yg udah profesional. saya bingung koq kebetulan2 kemiripannya lumayan banyak (itupun saya baru baca setengahnya novel ‘5cm’ ini). saya jadi bertanya2 sendiri apakah kebetulan2 ini pertanda baik atau buruk buat saya? saya ngerasa kalo novel saya dibaca oleh org yang baca ‘5cm’ akan mengira saya meniru, karena masa hal2 detil aja ada yang mirip?!!!… SAYA FRUSTASII!! novel saya belum terbit,lagi!…saya belum pernah nulis buku sebelumnya….HELLPP!!!! T_T dan jangan bilang mungkin kami punya influence yg sama, ngga! saya jarang baca novel….saya lebih sering baca non fiksi justru.
 
Dear Windy, welcome to real world di mana ide yang menurut kita bagus ternyata udah diambil orang lain. It happened all the time. Justru menurut saya lebih bagus kalau kamu tahu sekarang daripada nanti sudah terbit bisa dituduh plagiat. Saya adalah tipe yang percaya sudah tidak ada yang original di dunia ini dan semua yang disebut sebagai ide baru itu sebenarnya gabungan ide-ide lama yang dicampur jadi satu. (Kalau kamu percaya masih ada karya yang original, tolong tunjukkan pada saya).
 
Jadi, sebenarnya persamaan ide adalah hal yang wajar. Jangan panik. Sekarang, kamu punya dua pilihan. Buang novel kamu, mulai sesuatu yang baru sama sekali atau modifikasi novel kamu. Kalau saya jadi kamu, saya akan pilih yang kedua.
 
Ada banyak hal yang bisa dirubah dalam novel. Mungkin karakter bisa sama. Tapi bagaimana dengan plot? Bagaimana dengan konflik? Bagaimana dengan ending? Bagaimana dengan sudut pandang? Kamu bisa merubahnya. Kalau dulu kamu pakai sudut pandang si A, mungkin kamu bisa pakai sudut pandang si B yang sudah mati dengan konflik yang sama.
 
Dalam Lovely Bones, Alice Seabold menceritakan kisah keluarga yang hancur karena tokoh utamanya meninggal. Tapi karena diceritakan dari sudut pandang si anak yang telah meninggal, hasilnya menjadi beda.
 
Meskipun demikian, kalau mau aman, buang semua detil yang menurut kamu bakal mengingatkan orang pada novel yang lain. Percayalah kamu akan menemukan 1000 ide yang lebih baik lagi.
 
NB: Mungkin kamu perlu cek toko buku sekali lagi. Kalau ada satu yang sama, bisa jadi kamu justru akan menemukan 1000 novel lain dengan ide yang sama. Bila itu terjadi, lebih baik kamu buang saja ide novelmu. Masih banyak ide novel lain yang menarik untuk dieksplorasi.