Tips untuk Penulis Supaya Disayang Editor *

posted: Tue 26th Sep, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Penyuntingan
  1. Perhatikan karakter penerbit yang dituju. Mengirim naskah ke penerbit yang tidak sesuai sama dengan menyumbang uang perangko kepada kantor pos.
  2. Ketik naskah pakai komputer, jangan pakai mesin ketik apalagi tulis tangan. Hare gene masih tulis tangan?
  3. Tulis naskah dengan rapi dan lengkap. Jangan berantakan, jangan ngirim separuh bab kecuali permintaan khusus dari saya editor.
  4. Naskah harus orisinil. Kalau nyontek, mengakulah. Biaya mengubah naskah lebih murah daripada membayar pengacara.
  5. Perhatikan EYD dalam penulisan naskah. Bahkan bahasa gaul juga tetap memperhatikan EYD.
  6. Jangan pakai bahasa SMS kecuali kamu bikin buku tentang SMS. Gue nggak boleh disingkat ‘gw’, apalagi cuma ‘g’. Cb bc nskah mdl gn, ngti gak?
  7. Perhatikan penggunaan gaya bahasa. Nulis naskah untuk anak umur lima tahun tidak sama dengan tulisan untuk anak kelas satu SD.
  8. Selipkan proposal penerbitan atau paling nggak gambaran kira-kira siapa yang akan membeli buku kamu. Penerbit mencari buku yang laris, bukan buku yang ‘tiada duanya di pasaran’.
  9. Jangan kirim lewat email karena akan memudahkan pencuri mengambil naskahmu. Lebih baik pakai CD saja.
  10. Jangan ngambek kalau dikritik editor. Editor mengedit naskah, bukan dirimu.
  11. Jangan putus asa kalau naskah dikembalikan editor. Editor membenci naskahmu, bukan kamu.
  12. Naskah yang baik biasanya tidak memerlukan banyak sentuhan editor. Jadi, kalau naskah kamu lama dikutak-katik editor, pertanyakanlah kualitas naskahmu. Tapi, lihat juga sisi baiknya. Naskah yang lama dikutak-katik editor itu lebih baik daripada naskah yang dilempar ke tempat sampah.
  13. Segera artinya segera. Kalau editor minta dikirimi perbaikan naskah itu segera, artinya ya kirim perbaikannya dalam waktu cepat. Bukan sebulan atau bahkan tiga bulan.
  14. Nggak perlu telpon tiap hari untuk nanyain naskahnya sudah dikerjain belum. Emang cuma naskah loe doang yang gue garap?
  15. Nggak perlu telpon tiap hari untuk nanyain naskahnya sudah dicetak belum. Emang cuma buku loe doang yang masuk percetakan?
  16. Kalau buku sudah selesai, lakukan promosi tanpa diminta editor. Emang kalau bukunya laku, yang dapat royalti besar itu siapa?
  17. Penulis yang baik adalah penulis yang menjadi sahabat terbaik editor. Jadi, baik-baiklah terhadap editormu. Jangan tersinggung karena tulisan di atas, oke?

 

*) kalau editornya adalah saya.