Kala Kamu Pesimis

posted: Wed 9th Aug, 2006, categories: Uncategorized

Di dalam sebuah forum, seorang user bernama juniorisasi mengajukan pertanyaan. Karena masih berhubungan dengan penulisan, saya rasa tidak ada salahnya saya pajang di sini. Semoga berguna

kemaren……tgl…..pokoknya kemaren deh…

gw baca dealova(kmn aje loe ??)
trus gw hanyut pas dira mati……(ta elah!!!)

dan gw merasa pesimis gitu….kyknya novel ini jauh lebih baik dari novel yang sedang gw buat.

pernaHKAH kk merasa spt itu??

apa yang kk lakukan??
Nang Ning Ning Nang Ning Nung

Juniorisasi,
Semua orang pasti pernah merasa pesimis. Termasuk saya. Saya merasa sangat pesimis ketika menonton Lord of the Ring. Saya bahkan ingin menggali lubang di pasir dan mengubur kepala saya saat mengingat karya-karya Agatha Christie. Mungkin dalam hati saya tahu, mau reinkarnasi sepuluh kalipun, saya sulit mencapai level mereka.

Pesimis, meskipun terdengar jelek sebenarnya ada baiknya buat kita. Pesimis itu membantu kita untuk tetap waspada, untuk tetap belajar, untuk tetap merasa tidak mudah puas pada karya sendiri.

Tentu saja pesimis itu harus diimbangi dengan optimis. Saya beri tahu mengapa kita harus tetap optimis.

1. Nggak ada karya yang sempurna. Tapi hidup harus terus jalan dan naskah harus diterbitin. Bahkan kalau kita menganggap naskah kita sempurna, selalu saja ada orang yang menganggap naskah kita nggak sempurna. Kamu nggak bisa menyenangkan semua orang, kan? So, terima aja kekurangan karya kita. Ntar kalau ada kritik dari pembaca, masukin untuk naskah berikutnya.

2. Menulis itu pengalaman, pembelajaran. Dia bukan proses menceplok telur yang sekali masak, ya begitu jadinya. Kita berkembang setiap kali kita menulis. Kita belajar sesuatu yang baru. Semakin sering kita nulis, semakin kaya pengalaman kita menulis. Siapa tahu, suatu hari justru penulis yang kamu irikan itu balik iri sama kamu.

3. Selalu ada yang langit lebih tinggi. Selalu ada penulis yang lebih baik dari kamu. Kamu nggak akan bisa mengalahkan Shakespeare atau Dickens (yah mungkin aja sih, tapi kita semua tahu berapa persentasenya). Tapi bukan berarti karya kamu nggak akan laku.

4. Ada banyak hal yang dapat membuat sebuah buku itu laku. Meski isinya biasa-biasa aja. Dan bagusnya isi buku, cuma sebagian aja.

Jadi, kita letakkan pesimis dan optimis di sisi koin yang berbeda dan kita gunakan. Yang satu untuk mendukung kita agar maju (optimis). Dan yang satu menahan kita untuk tidak sombong (pesimis). Jangan dipakai salah satu aja. Tapi pakai lebih banyak optimis, ya.

Bila Naskah Kamu Ditolak

posted: Wed 2nd Aug, 2006, categories: Uncategorized

BitMaP
1:02 PM Jul 25, 2006 IP 149:93

Alo, mbak Laler… gmn ya ngatasin rasa Eneg ngerevisi naskah yang ditolak? Rasanya pengen bikin cerita yg baru aja daripada ngebenerin yg dah ada. TQ

BitMap,
Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah pergi ke toko kayu. Beli atau pesanlah sebuah peti kayu. Tidak perlu sebesar badanmu, karena tidak akan dipakai untuk mengubur kamu. Setelah itu pergilah ke pulau terpencil dan gunakan peti kayu itu untuk memendam naskahmu.

Biarkan naskahmu terpendam selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Jangan pikirkan naskahmu itu. Anggap itu dosa masa lalu yang perlu dihapus. Pikirkan naskah yang lain. Cari ide lain. Tulis naskah baru.

Bila setelah naskah baru itu sudah selesai dan kamu masih memikirkan naskah lamamu, mungkin sudah saatnya kamu kembali ke pulau itu. Pada saat itu, hatimu sudah siap dan terbuka untuk melihat kesalahan yang ada. Kamu melihat naskah lamamu seperti sebuah naskah yang belum pernah kamu baca sebelumnya.

Selama ini, mungkin kamu memandang naskah lamamu itu sempurna karena kamu terlalu sering melihatnya. Kamu jadi tidak bisa melihat kesalahan sudut pandang, keanehan logika, atau bahkan kesalahan penggunaan tanda baca. Tapi bila kamu meninggalkannya selama beberapa bulan, kamu akan melihat kesalahan-kesalahan yang kamu buat. Dan bila kamu mengerjakannya kembali, kamu akan merasa seperti bertemu dengan sahabat lama, bukan musuh lama yang perlu ditaklukkan.