Mulailah Cerita Dengan Penggambaran Tokoh
Salah satu teknik yang sering digunakan oleh penulis untuk memulai cerita adalah dengan memperkenalkan tokoh cerita. Ini mungkin merupakan salah satu teknik yang paling mudah. Setiap kali Anda membuat draft cerita biasanya kita memulainya dengan menceritakan tokoh kita, latar belakang kehidupan tokoh kita, kemudian barulah masalah yang dihadapi tokoh kita. Misalnya seperti ini.
Ada seorang gadis kecil bernama Susie. Anaknya biasa banget. Pokoknya tipe yang kita lihat setiap hari. Umurnya masih 14 tahun. Dia punya banyak teman, punya keluarga yang bahagia. Hidupnya biasa-biasa aja. Terus suatu hari si Susie main ke rumah tetangganya. Terus ia meninggal. Hmm… Gimana keluarganya, ya?
Di tangan Alice Seabold, draft seperti di atas bisa diubah menjadi sebuah pembukaan yang manis seperti ini.
My name was Salmon, like the fish; first name, Susie. I was fourteen when I was murdered on December 1973.
(Alice Seabold, The Lovely Bones)
Ketika kita membacanya, tidakkah kita tergelitik untuk ingin tahu kenapa gadis muda itu dibunuh pada usia 14 tahun? Kalau memang ia sudah mati, bagaimana mungkin dia bercerita kepada kita, pembaca? Dari dua kalimat ini saja, kita bisa merasakan bahwa ini bukan cerita biasa-biasa saja. Dan akhirnya perasaan saya benar karena saya mendapatkan cerita tentang kehidupan sebuah keluarga setelah kematian si tokoh utama yang dilihat dari sudut pandang tokoh utama yang telah terbunuh.
Contoh lain yang menarik adalah seperti berikut ini.
Lolita, light of my life, fire of my loins. —Vladimir Nabokov, Lolita (1955)
He was an old man who fished alone in a skiff in the Gulf Stream and he had gone eighty-four days now without taking a fish. —Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea (1952)
When Dick Gibson was a little boy he was not Dick Gibson. —Stanley Elkin, The Dick Gibson Show (1971)
Triknya adalah bagaimana saat kita menggambarkan tokoh itu, kita membuat pembaca merasa ada masalah dengan hidup tokoh itu. Ada sesuatu yang membuat pembaca Anda penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang cerita Anda.
Meski teknik seperti ini memberikan izin bagi Anda untuk menceritakan tokoh Anda, pastikan Anda tidak menghambur-hamburkan kalimat untuk memasukkan informasi yang tidak begitu penting. Anda dapat melakukan di bagian yang lain.
Anda juga perlu mempertimbangkan ini. Jika kekuatan cerita Anda ada pada konflik, bukan pada tokoh Anda, mungkin sebaiknya Anda mempertimbangkan penggunaan teknik lain.




