Mulailah Cerita Dengan Penggambaran Tokoh

posted: Tue 18th Jul, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Deskripsi

Salah satu teknik yang sering digunakan oleh penulis untuk memulai cerita adalah dengan memperkenalkan tokoh cerita. Ini mungkin merupakan salah satu teknik yang paling mudah. Setiap kali Anda membuat draft cerita biasanya kita memulainya dengan menceritakan tokoh kita, latar belakang kehidupan tokoh kita, kemudian barulah masalah yang dihadapi tokoh kita. Misalnya seperti ini.

Ada seorang gadis kecil bernama Susie. Anaknya biasa banget. Pokoknya tipe yang kita lihat setiap hari. Umurnya masih 14 tahun. Dia punya banyak teman, punya keluarga yang bahagia. Hidupnya biasa-biasa aja. Terus suatu hari si Susie main ke rumah tetangganya. Terus ia meninggal. Hmm… Gimana keluarganya, ya?

 

Di tangan Alice Seabold, draft seperti di atas bisa diubah menjadi sebuah pembukaan yang manis seperti ini.

 

My name was Salmon, like the fish; first name, Susie. I was fourteen when I was murdered on December 1973.

(Alice Seabold, The Lovely Bones)

Ketika kita membacanya, tidakkah kita tergelitik untuk ingin tahu kenapa gadis muda itu dibunuh pada usia 14 tahun? Kalau memang ia sudah mati, bagaimana mungkin dia bercerita kepada kita, pembaca? Dari dua kalimat ini saja, kita bisa merasakan bahwa ini bukan cerita biasa-biasa saja. Dan akhirnya perasaan saya benar karena saya mendapatkan cerita tentang kehidupan sebuah keluarga setelah kematian si tokoh utama yang dilihat dari sudut pandang tokoh utama yang telah terbunuh.

Contoh lain yang menarik adalah seperti berikut ini.

Lolita, light of my life, fire of my loins. —Vladimir Nabokov, Lolita (1955)

He was an old man who fished alone in a skiff in the Gulf Stream and he had gone eighty-four days now without taking a fish. —Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea (1952)

When Dick Gibson was a little boy he was not Dick Gibson. —Stanley Elkin, The Dick Gibson Show (1971)

Triknya adalah bagaimana saat kita menggambarkan tokoh itu, kita membuat pembaca merasa ada masalah dengan hidup tokoh itu. Ada sesuatu yang membuat pembaca Anda penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang cerita Anda.

Meski teknik seperti ini memberikan izin bagi Anda untuk menceritakan tokoh Anda, pastikan Anda tidak menghambur-hamburkan kalimat untuk memasukkan informasi yang tidak begitu penting. Anda dapat melakukan di bagian yang lain.

Anda juga perlu mempertimbangkan ini. Jika kekuatan cerita Anda ada pada konflik, bukan pada tokoh Anda, mungkin sebaiknya Anda mempertimbangkan penggunaan teknik lain.

Gaet Pembaca Dengan Aksi Pembuka

posted: Mon 3rd Jul, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Pil Anti Sup Laler Ijo

Ian Randall Strock dari Artemis menjelaskan kiat menggaet pembaca sejak kalimat awal, “Kamu harus menggaet saya dalam kalimat pembuka cerita.”. Masalahnya, tentu saja, bagaimana kita tahu apa yang kita tulis itu menggaet pembaca? Bagaimana kalau yang kita tulis justru membuat orang muntah darah?

Salah satu teknik yang dapat kita gunakan adalah langsung menampilkan aksi di dalam cerita. Kita tidak perlu menceritakan betapa hangatnya sinar matahari, bagaimana segarnya udara pagi, namun langsung ke titik sasaran. Kalau kamu membuat adegan orang tertabrak mobil, langsung ceritakan. Tidak perlu mengawalinya dengan menceritakan panasnya Jakarta, atau betapa gilanya para pengemudi bis kota.

Mari saya berikan contohnya:

Hanya setahun setelah menikah, Caska dan Berto berhenti bercinta.

(Punggung) Caska dan Berto, Tamara Geraldine (2005)

Kalimat pembuka ini langsung membawa kita masuk ke dalam inti cerita. Kamu tidak perlu menggambarkan suasana kamar yang dingin atau keengganan keduanya untuk bercinta. Dan yang lebih baik lagi, kita jadi ingin tahu kenapa mereka berhenti bercinta padahal baru satu tahun menikah. Itu adalah alat penggiring pembaca untuk terus mengikuti cerita kita. Begitu juga dengan yang ini:

Satu mayat perempuan cantik berbaju merah dengan banyak tetesan darah segar di kepala dan beberapa bagian tubuh lainnya tertatih-tatih menyusuri koridor sebuah ruang tunggu umum yang berada di persimpangan jalan. Ia benar-benar bingung.

 

Maaf, kita harus kenalan dengan cara seperti ini, Tamara Geraldine (2005)

Tidakkah kamu jadi ingin tahu kenapa mayat itu bingung?

Beberapa contoh kalimat pembuka lain yang menarik dengan menggunakan teknik yang sama.

We were about to give up and call it a night when somebody dropped the girl off the bridge.

 - Darker Than Amber John D MacDonald  (1966)

As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect.

 - The Metamorphosis oleh Franz Kafka (1916) -

They shoot the white girl first.

- Paradise oleh Toni Morrison (1997)-

Masih belum cukup? Kenapa nggak belajar langsung dari 100 kalimat pembuka terbaik di:
http://www.litline.org/ABR/100bestfirstlines.html
http://openingsentences.com/

Kamu juga bisa belajar menghindari kalimat pembuka yang buruk dari  The Worst Novel Opening Line http://www.gsapio.com/3_Funnies/3Worst.htm

Gaet Pembaca Sejak Paragraf Pertama

posted: Mon 3rd Jul, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Pil Anti Sup Laler Ijo
Suatu saat, saya didatangi oleh salah satu rekan kerja saya. Ia menyodorkan sebuah buku pada saya.
 
“Kasih pendapat perlu nggak kita ambil hak ciptanya.”
 
Ketika pertama kali melihatnya, saya sudah menarik nafas panjang. Buku itu adalah sebuah novel chicklit. Bukan saya anti chicklit, tapi sudah lama saya tidak menemukan chicklit yang bagus dan saya tidak yakin buku ini akan mematahkan pendapat saya itu.
 
Sepuluh menit kemudian, saya kembali kepadanya dan menyerahkan buku itu kepadanya. Ia kaget.
 
“Cepat amat!”
 
“Cukup satu bab pertama aja.”
 
“Satu bab untuk menentukan nasib seluruh buku?”
 
“Yup.”
 
Ia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi menahannya.
 
“Jadi gimana?”
 
“Nggak usah. Nggak bagus. Sampai akhir bab, saya masih nggak tahu cerita ini tentang apa dan mau di bawa ke mana.”
 
Mungkin kamu akan menganggap saya kejam. Bagaimana bisa saya menentukan nasib seorang penulis hanya dalam satu bab? Bagaimana kalau bagian yang bagus-bagus ada di tengah? Bagaimana kalau ternyata cerita itu memiliki ending yang sangat tidak biasa? Bagaimana kalau cerita itu memiliki karakter yang sangat menarik? Bukankah itu artinya mungkin saja saya melewatkan sebuah permata?
 
Kalau kamu menganggap saya kejam, mari saya beritahu. Saya lebih kejam saat membaca cerita pendek dan menonton film. Kalau sebuah cerita pendek gagal menarik saya dalam satu paragraf pertama atau lima belas menit untuk sebuah film, saya tidak akan menggunakan waktu saya yang tidak akan terulang untuk meneruskannya film atau cerita itu (kecuali kalau saya sedang dalam mood untuk membantai).
 
Dan saya tidak sendirian, lho. Stephen King melakukannya saat membeli novel dan saya yakin banyak editor yang melakukan hal yang serupa? Kenapa? Karena begitu banyak cerita yang masuk sementara waktu yang dimiliki editor terbatas. Belum lagi tenggat waktu yang terbatas. Kalau dipaksa membaca keseluruhan cerita, kapan selesainya? Jadi, gaetlah pembaca sejak paragraf pertama. Lalu bagaimana caranya? Cara yang paling mudah adalah menyontek gaya penulis yang menarik perhatian kamu. Baca saja paragraf pertama sebuah novel (atau satu halaman pertama). Kalau kamu tertarik untuk meneruskan halaman berikutnya, novel itu sudah termasuk karya yang saya maksud.
 
Tapi supaya kamu dapat gambaran yang lebih jelas, saya akan menjelaskan beberapa teknik yang saya tahu pada postingan berikutnya.