Karakter Itu Harus Logis
"The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.”
Tom Clancy
Seseorang, saya lupa siapa, pernah memberikan komentar ketika saya mengomentari jalannya sebuah cerita yang tidak logis.
“Namanya juga cerita,” katanya.
Terus terang, saya sedikit kesal ketika mendengarnya. Saya tidak suka kata ‘cerita’ dijadikan pembenaran untuk menciptakan hal-hal yang tidak logis. Seakan-akan kalau Anda membuat cerita, Anda boleh berbuat sesuka hati Anda, termasuk mengabaikan logika pihak paling penting bagi Anda —pembaca Anda. Itu sama saja dengan menganggap pembaca Anda bodoh. Dan percayalah, tidak ada orang yang mau dianggap bodoh.
Anda mungkin beranggapan apapun bisa terjadi dalam sebuah cerita. Bukankah seperti itu yang terjadi di dunia nyata? Dunia fiksi, sayangnya, memiliki aturan yang berbeda dengan dunia nyata. Salah satu aturannya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita itu masuk akal atau setidaknya bisa diterima oleh pembaca.
“Namanya juga cerita,” katanya.
Terus terang, saya sedikit kesal ketika mendengarnya. Saya tidak suka kata ‘cerita’ dijadikan pembenaran untuk menciptakan hal-hal yang tidak logis. Seakan-akan kalau Anda membuat cerita, Anda boleh berbuat sesuka hati Anda, termasuk mengabaikan logika pihak paling penting bagi Anda —pembaca Anda. Itu sama saja dengan menganggap pembaca Anda bodoh. Dan percayalah, tidak ada orang yang mau dianggap bodoh.
Anda mungkin beranggapan apapun bisa terjadi dalam sebuah cerita. Bukankah seperti itu yang terjadi di dunia nyata? Dunia fiksi, sayangnya, memiliki aturan yang berbeda dengan dunia nyata. Salah satu aturannya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita itu masuk akal atau setidaknya bisa diterima oleh pembaca.
Ada dua hal yang cukup rawan dalam masalah logika. Pertama, karakter dan kedua, plot. Pada tulisan ini saya akan menyoroti masalah karakter.
Karakter adalah bagian terpenting dalam sebuah cerita karena ia adalah penggerak cerita itu. Nah, dalam rangka menggerakkan cerita seorang atau sebuah karakter harus memiliki motivasi atau alasan. Paling tidak, begitulah umumnya. Ada alasan kenapa tokoh utama memburu penjahat. Ada alasan mengapa orang baik-baik menjadi pembunuh. Dan tentu saja ada penjelasan yang baik mengapa tokoh utama perempuan menjadi gila seperti di bawah ini.
Perempuan berjilbab itu tidak dapat menahan kekecewaannya. Suaminya tidak peduli lagi padanya. Dengan air mata di pipinya, perempuan itu melepas jilbabnya, membuka botol minuman keras milik suaminya dan meminumnya sampai habis. Ia membiarkan minuman itu meracuni pikirannya hingga ia tidak melakukan apa-apa kecuali tertawa sendiri.
Tunggu dulu. Perhatikan adegan di atas sekali lagi. Memang ada alasan mengapa perempuan itu gila. Tapi apakah logis? Tidak juga. Kenapa tidak? Karena apa yang dilakukan tokoh tidak sesuai dengan karakter tokoh itu sendiri. Saya perlu bercerita bahwa sebelum adegan tersebut, sang tokoh digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan suka mengingatkan suaminya akan Tuhan. Karena itu menjadi tidak masuk akal ketika sang istri langsung minum-minum ketika sang suami pergi.
Lalu seperti apa yang logis itu? Bukankah apa yang dianggap logis menurut seseorang belum tentu logis bagi yang lain? Saran saya, pakailah logika ala masyarakat umum. Secara umum, seorang tokoh yang anggota keluarganya dibunuh akan berusaha mencari pelakunya. Biasanya, orang ditindas terus menerus akan marah dan melawan balik (atau setidaknya kita berharap demikian). Umumnya, perempuan yang ditinggalkan suami tidak akan menjadi gila hanya dalam hitungan detik
Kunci untuk melihat logis tidaknya perbuatan karakter adalah dengan memperhatikan karakter itu sendiri. Perhatikan sifat-sifat karakter yang sudah Anda tetapkan untuk karakter Anda. Mungkinkah si A dengan sifat seperti ini mencintai si B hanya karena B memberikan payung di bawah hujan deras? Mungkinkah pemerkosaan yang dilakukan oleh sang ayah merubah pandangan C pada laki-laki? Mungkinkah kegagalan mendapatkan cinta membuat D bunuh diri? Ingat, bisa saja tindakan D menjadi tidak logis bila D adalah sosok yang sangat tegar.
Tapi bila ketidakkonsistenan sifat karakter memang menjadi tujuan Anda dalam membuat cerita, berhati-hatilah. Pastikan Anda bermain secantik mungkin hingga pembaca memaklumi perbuatan karakter Anda. Pastikan materi di dalam cerita Anda memang mendukung logika ala Anda. Karena pada akhirnya, meskipun karakter Anda terkesan tidak logis, jika Anda bisa membuat pembaca berada di pihak Anda, Anda sudah menang.




