Jual Sup Laler Ijo Anda

posted: Fri 7th Apr, 2006, categories: Uncategorized

Di antara pilihan di bawah ini, film manakah yang mendapat penonton paling banyak?

a. Realita Cinta & Rock ‘n Roll

b. Rumah Pondok Indah

c. Apa Artinya Cinta

d. Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?

Bila ini adalah kuis di Internet, saya pasti akan mengklik jawaban A.(Saya suka ceritanya, suka pemainnya dan ini adalah film yang paling bagus di antara empat opsi yang ada) Lalu saya akan menunggu beberapa detik dan menemukan hasil sebagai berikut ini.

JAWABAN ANDA SALAH Urutan film dengan jumlah penonton bioskop terbanyak adalah:

1. Apa Artinya Cinta = 1, 5 juta penonton

2. Rumah Pondok Indah = 550 ribu penonton

3. Realita Cinta & Rock ‘n Roll = 300 ribu penonton. *)

‘Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?’ belum diproduksi hingga sekarang karena terakhir kali dihubungi para aktornya masih belum sanggup memakan sup laler ijo.

Demi kumis lelenya Gilbert Marciano! Kok bisa-bisanya deretan sup laler ijo ini dapat penonton paling banyak? Kok bisa-bisanya bodi Vino yang sering dipamerkan di Realita Cinta kalah dengan tukang jualan nasi goreng di Rumah Pondok Indah? Apakah penonton Indonesia buta, tuli, atau dua-duanya?

Meski syok, saya masih bisa berpikir jernih. Setidaknya dengan tampilnya sup-sup laler ijo ini sebagai peraih penonton terbanyak membuktikan satu hal. Kualitas tidak berbanding lurus dengan tingginya pendapatan. Artinya, meskipun karya Anda bagus, Anda belum tentu akan mendapat uang banyak. Artinya lagi, kalau Anda menciptakan sup laler ijo, karya Anda belum tentu jeblok di pasaran. Anda masih bisa mendapat uang. Lalu pakah semua sup laler ijo bisa menjual? Saya ingin berkata ya, tapi sayangnya tidak. Saya percaya ada beberapa syarat agar sup laler ijo Anda bisa terjual.

1. Jadilah satu-satunya produk di pasar. Ketika Rumah Pondok Indah diluncurkan, tidak ada film sejenis yang beredar di pasaran. Gue Jatuh Cinta, Realita Cinta & Rock ‘n Roll, Jomblo merupakan film drama atau drama komedi yang mengincar pangsa pasar yang sama. Rumah Pondok Indah berbeda. Ia campuran segala jenis horor yang tidak jelas tapi mengacu pada pasar yang jelas, pasar yang mencintai film semacam ini. (Saya tidak tega mengatakan pasar masyarakat kelas bawah karena ini berarti saya merendahkan selera mereka) Maka, berjayalah Rumah Pondok Indah.

2. Buat promosi seheboh mungkin. Lupakan kualitas film atau cerita Anda. Lakukan pemasaran gila-gilaan. Gunakan TV, radio, bus kota, dan semua media yang bisa Anda gunakan. Tentu saja ini membutuhkan dana yang amat besar. Tapi apa boleh buat? Anda tidak bisa menggunakan materi cerita Anda sebagai bahan jualan.

3. Jadikanlah agar semua orang membicarakan karya Anda. Peduli amat dicaci maki atau dipuji orang, yang penting semua orang membicarakan karya Anda. Maka buatlah karya Anda dengan dana yang luar biasa tinggi (45 milyar untuk Apa Artinya Cinta), atau buatlah tagline yang aneh seperti milik Rumah Pondok Indah. Film Misteri Terhoror. Adakah tagline yang lebih catchy dari itu?

4. ATM. Ambil, Tiru, Modifikasi. Saya percaya semua karya pada dasarnya memakai prinsip ini. Tapi karya yang bermutu lebih banyak bermain pada kata modifikasi, sementara sup laler ijo lebih banyak memakai prinsip ambil dan tiru. Tapi, siapa peduli dengan originalitas saat contekan bisa menjual? Karena itu Rumah Pondok Indah tidak peduli dibilang mirip dengan House of Wax. Sementara Apa Artinya Cinta menggabungkan formula Eiffel I’m In Love (dengan mempertemukan pasangan Shandy-Samuel) dan ‘terinspirasi’ oleh judul Ada Apa dengan Cinta.

5. Pilih waktu peluncuran yang tepat. Apa Artinya Cinta menggunakan momen liburan saat lebaran. Saya harus mengakui ini pilihan waktu yang tepat. Banyak waktu kosong dan banyak orang Indonesia tidak tahu harus melakukan apa setelah maaf-maafan. Coba kalau mereka memilih momen saat ujian sekolah, hasilnya tentu saja akan berbeda.

Tentu saja prinsip yang sama dapat Anda gunakan untuk tulisan Anda, bahkan bila karya Anda bagus sekalipun. Yang ingin saya tekankan adalah, Anda tidak perlu berkecil hati bila Anda membuat sup laler ijo. Toh, Anda masih dapat menjualnya dengan banyak usaha. (Mungkin sama beratnya dengan usaha mereka yang menciptakan karya yang baik) Tapi jangan salahkan siapa-siapa (termasuk saya) bila kelak Anda dipandang sebagai produsen sup laler ijo. Anda yang memilih membangun reputasi itu.

*) Data diambil dari Bintang Indonesia No 780, April 2006