Karakter Itu Harus Logis

posted: Tue 25th Apr, 2006, categories: Cara Memasak Sup

"The difference between fiction and reality? Fiction has to make sense.”
Tom Clancy
 
Seseorang, saya lupa siapa, pernah memberikan komentar ketika saya mengomentari jalannya sebuah cerita yang tidak logis.
 
“Namanya juga cerita,” katanya.
 
Terus terang, saya sedikit kesal ketika mendengarnya. Saya tidak suka kata ‘cerita’ dijadikan pembenaran untuk menciptakan hal-hal yang tidak logis. Seakan-akan kalau Anda membuat cerita, Anda boleh berbuat sesuka hati Anda, termasuk mengabaikan logika pihak paling penting bagi Anda —pembaca Anda. Itu sama saja dengan menganggap pembaca Anda bodoh. Dan percayalah, tidak ada orang yang mau dianggap bodoh.
 
Anda mungkin beranggapan apapun bisa terjadi dalam sebuah cerita. Bukankah seperti itu yang terjadi di dunia nyata? Dunia fiksi, sayangnya, memiliki aturan yang berbeda dengan dunia nyata. Salah satu aturannya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam cerita itu masuk akal atau setidaknya bisa diterima oleh pembaca.
 
Ada dua hal yang cukup rawan dalam masalah logika. Pertama, karakter dan kedua, plot. Pada tulisan ini saya akan menyoroti masalah karakter.
 
Karakter adalah bagian terpenting dalam sebuah cerita karena ia adalah penggerak cerita itu. Nah, dalam rangka menggerakkan cerita seorang atau sebuah karakter harus memiliki motivasi atau alasan. Paling tidak, begitulah umumnya. Ada alasan kenapa tokoh utama memburu penjahat. Ada alasan mengapa orang baik-baik menjadi pembunuh. Dan tentu saja ada penjelasan yang baik mengapa tokoh utama perempuan menjadi gila seperti di bawah ini.
Perempuan berjilbab itu tidak dapat menahan kekecewaannya. Suaminya tidak peduli lagi padanya. Dengan air mata di pipinya, perempuan itu melepas jilbabnya, membuka botol minuman keras milik suaminya dan meminumnya sampai habis. Ia membiarkan minuman itu meracuni pikirannya hingga ia tidak melakukan apa-apa kecuali tertawa sendiri.
 
Tunggu dulu. Perhatikan adegan di atas sekali lagi. Memang ada alasan mengapa perempuan itu gila. Tapi apakah logis? Tidak juga. Kenapa tidak? Karena apa yang dilakukan tokoh tidak sesuai dengan karakter tokoh itu sendiri. Saya perlu bercerita bahwa sebelum adegan tersebut, sang tokoh digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan suka mengingatkan suaminya akan Tuhan. Karena itu menjadi tidak masuk akal ketika sang istri langsung minum-minum ketika sang suami pergi.
 
Lalu seperti apa yang logis itu? Bukankah apa yang dianggap logis menurut seseorang belum tentu logis bagi yang lain? Saran saya, pakailah logika ala masyarakat umum. Secara umum, seorang tokoh yang anggota keluarganya dibunuh akan berusaha mencari pelakunya. Biasanya, orang ditindas terus menerus akan marah dan melawan balik (atau setidaknya kita berharap demikian). Umumnya, perempuan yang ditinggalkan suami tidak akan menjadi gila hanya dalam hitungan detik
 
Kunci untuk melihat logis tidaknya perbuatan karakter adalah dengan memperhatikan karakter itu sendiri. Perhatikan sifat-sifat karakter yang sudah Anda tetapkan untuk karakter Anda. Mungkinkah si A dengan sifat seperti ini mencintai si B hanya karena B memberikan payung di bawah hujan deras? Mungkinkah pemerkosaan yang dilakukan oleh sang ayah merubah pandangan C pada laki-laki? Mungkinkah kegagalan mendapatkan cinta membuat D bunuh diri? Ingat, bisa saja tindakan D menjadi tidak logis bila D adalah sosok yang sangat tegar.
 
Tapi bila ketidakkonsistenan sifat karakter memang menjadi tujuan Anda dalam membuat cerita, berhati-hatilah. Pastikan Anda bermain secantik mungkin hingga pembaca memaklumi perbuatan karakter Anda. Pastikan materi di dalam cerita Anda memang mendukung logika ala Anda. Karena pada akhirnya, meskipun karakter Anda terkesan tidak logis, jika Anda bisa membuat pembaca berada di pihak Anda, Anda sudah menang.

Kala Ide Kamu Mirip Ide Orang Lain

posted: Thu 13th Apr, 2006, categories: Bertanya Pada Laler Ijo
Saya Windy, mahasiswi 21 th. saya lagi menggarap novel, belum selesai dan belum diajuin ke penerbit. Sembari belum selseai saya baca-baca buku kan buat referensi. novel saya udah nyampe bab 14 ketika saya baca novel yang berjudul ‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro, penerbit Grasindo.
Dan saya kaget mampus! Banyak kemiripan novel ‘5cm’ ini dengan novel yang sedang saya buat!BT abis! Dari mulai gaya nulis trus hal-hal kecil yang sifatnya sekedar lelucon, juga tipe tokoh di mana tokoh utamanya bukan 1 tapi kumpulan(bedanya saya bukan geng-an tapi band) terus belum lagi ada unsur filsafat dan minat baca yang ditekenin di novel ini, hanya saja pada novel saya penekanannya lebih tajam karena itu yang mau difokusin. paling2 bedanya juga kalo dia ada unsur2 puitis, kalo saya ngga…karena dibuat seringan mungkin, tapi isinya filsafat dan sekalian berkamapanye ‘minat baca’.
Plisss…saya butuh saran2 kalian terutama mungkin yg udah profesional. saya bingung koq kebetulan2 kemiripannya lumayan banyak (itupun saya baru baca setengahnya novel ‘5cm’ ini). saya jadi bertanya2 sendiri apakah kebetulan2 ini pertanda baik atau buruk buat saya? saya ngerasa kalo novel saya dibaca oleh org yang baca ‘5cm’ akan mengira saya meniru, karena masa hal2 detil aja ada yang mirip?!!!… SAYA FRUSTASII!! novel saya belum terbit,lagi!…saya belum pernah nulis buku sebelumnya….HELLPP!!!! T_T dan jangan bilang mungkin kami punya influence yg sama, ngga! saya jarang baca novel….saya lebih sering baca non fiksi justru.
 
Dear Windy, welcome to real world di mana ide yang menurut kita bagus ternyata udah diambil orang lain. It happened all the time. Justru menurut saya lebih bagus kalau kamu tahu sekarang daripada nanti sudah terbit bisa dituduh plagiat. Saya adalah tipe yang percaya sudah tidak ada yang original di dunia ini dan semua yang disebut sebagai ide baru itu sebenarnya gabungan ide-ide lama yang dicampur jadi satu. (Kalau kamu percaya masih ada karya yang original, tolong tunjukkan pada saya).
 
Jadi, sebenarnya persamaan ide adalah hal yang wajar. Jangan panik. Sekarang, kamu punya dua pilihan. Buang novel kamu, mulai sesuatu yang baru sama sekali atau modifikasi novel kamu. Kalau saya jadi kamu, saya akan pilih yang kedua.
 
Ada banyak hal yang bisa dirubah dalam novel. Mungkin karakter bisa sama. Tapi bagaimana dengan plot? Bagaimana dengan konflik? Bagaimana dengan ending? Bagaimana dengan sudut pandang? Kamu bisa merubahnya. Kalau dulu kamu pakai sudut pandang si A, mungkin kamu bisa pakai sudut pandang si B yang sudah mati dengan konflik yang sama.
 
Dalam Lovely Bones, Alice Seabold menceritakan kisah keluarga yang hancur karena tokoh utamanya meninggal. Tapi karena diceritakan dari sudut pandang si anak yang telah meninggal, hasilnya menjadi beda.
 
Meskipun demikian, kalau mau aman, buang semua detil yang menurut kamu bakal mengingatkan orang pada novel yang lain. Percayalah kamu akan menemukan 1000 ide yang lebih baik lagi.
 
NB: Mungkin kamu perlu cek toko buku sekali lagi. Kalau ada satu yang sama, bisa jadi kamu justru akan menemukan 1000 novel lain dengan ide yang sama. Bila itu terjadi, lebih baik kamu buang saja ide novelmu. Masih banyak ide novel lain yang menarik untuk dieksplorasi.

Jual Sup Laler Ijo Anda

posted: Fri 7th Apr, 2006, categories: Uncategorized

Di antara pilihan di bawah ini, film manakah yang mendapat penonton paling banyak?

a. Realita Cinta & Rock ‘n Roll

b. Rumah Pondok Indah

c. Apa Artinya Cinta

d. Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?

Bila ini adalah kuis di Internet, saya pasti akan mengklik jawaban A.(Saya suka ceritanya, suka pemainnya dan ini adalah film yang paling bagus di antara empat opsi yang ada) Lalu saya akan menunggu beberapa detik dan menemukan hasil sebagai berikut ini.

JAWABAN ANDA SALAH Urutan film dengan jumlah penonton bioskop terbanyak adalah:

1. Apa Artinya Cinta = 1, 5 juta penonton

2. Rumah Pondok Indah = 550 ribu penonton

3. Realita Cinta & Rock ‘n Roll = 300 ribu penonton. *)

‘Inikah Rasanya Sup Laler Ijo?’ belum diproduksi hingga sekarang karena terakhir kali dihubungi para aktornya masih belum sanggup memakan sup laler ijo.

Demi kumis lelenya Gilbert Marciano! Kok bisa-bisanya deretan sup laler ijo ini dapat penonton paling banyak? Kok bisa-bisanya bodi Vino yang sering dipamerkan di Realita Cinta kalah dengan tukang jualan nasi goreng di Rumah Pondok Indah? Apakah penonton Indonesia buta, tuli, atau dua-duanya?

Meski syok, saya masih bisa berpikir jernih. Setidaknya dengan tampilnya sup-sup laler ijo ini sebagai peraih penonton terbanyak membuktikan satu hal. Kualitas tidak berbanding lurus dengan tingginya pendapatan. Artinya, meskipun karya Anda bagus, Anda belum tentu akan mendapat uang banyak. Artinya lagi, kalau Anda menciptakan sup laler ijo, karya Anda belum tentu jeblok di pasaran. Anda masih bisa mendapat uang. Lalu pakah semua sup laler ijo bisa menjual? Saya ingin berkata ya, tapi sayangnya tidak. Saya percaya ada beberapa syarat agar sup laler ijo Anda bisa terjual.

1. Jadilah satu-satunya produk di pasar. Ketika Rumah Pondok Indah diluncurkan, tidak ada film sejenis yang beredar di pasaran. Gue Jatuh Cinta, Realita Cinta & Rock ‘n Roll, Jomblo merupakan film drama atau drama komedi yang mengincar pangsa pasar yang sama. Rumah Pondok Indah berbeda. Ia campuran segala jenis horor yang tidak jelas tapi mengacu pada pasar yang jelas, pasar yang mencintai film semacam ini. (Saya tidak tega mengatakan pasar masyarakat kelas bawah karena ini berarti saya merendahkan selera mereka) Maka, berjayalah Rumah Pondok Indah.

2. Buat promosi seheboh mungkin. Lupakan kualitas film atau cerita Anda. Lakukan pemasaran gila-gilaan. Gunakan TV, radio, bus kota, dan semua media yang bisa Anda gunakan. Tentu saja ini membutuhkan dana yang amat besar. Tapi apa boleh buat? Anda tidak bisa menggunakan materi cerita Anda sebagai bahan jualan.

3. Jadikanlah agar semua orang membicarakan karya Anda. Peduli amat dicaci maki atau dipuji orang, yang penting semua orang membicarakan karya Anda. Maka buatlah karya Anda dengan dana yang luar biasa tinggi (45 milyar untuk Apa Artinya Cinta), atau buatlah tagline yang aneh seperti milik Rumah Pondok Indah. Film Misteri Terhoror. Adakah tagline yang lebih catchy dari itu?

4. ATM. Ambil, Tiru, Modifikasi. Saya percaya semua karya pada dasarnya memakai prinsip ini. Tapi karya yang bermutu lebih banyak bermain pada kata modifikasi, sementara sup laler ijo lebih banyak memakai prinsip ambil dan tiru. Tapi, siapa peduli dengan originalitas saat contekan bisa menjual? Karena itu Rumah Pondok Indah tidak peduli dibilang mirip dengan House of Wax. Sementara Apa Artinya Cinta menggabungkan formula Eiffel I’m In Love (dengan mempertemukan pasangan Shandy-Samuel) dan ‘terinspirasi’ oleh judul Ada Apa dengan Cinta.

5. Pilih waktu peluncuran yang tepat. Apa Artinya Cinta menggunakan momen liburan saat lebaran. Saya harus mengakui ini pilihan waktu yang tepat. Banyak waktu kosong dan banyak orang Indonesia tidak tahu harus melakukan apa setelah maaf-maafan. Coba kalau mereka memilih momen saat ujian sekolah, hasilnya tentu saja akan berbeda.

Tentu saja prinsip yang sama dapat Anda gunakan untuk tulisan Anda, bahkan bila karya Anda bagus sekalipun. Yang ingin saya tekankan adalah, Anda tidak perlu berkecil hati bila Anda membuat sup laler ijo. Toh, Anda masih dapat menjualnya dengan banyak usaha. (Mungkin sama beratnya dengan usaha mereka yang menciptakan karya yang baik) Tapi jangan salahkan siapa-siapa (termasuk saya) bila kelak Anda dipandang sebagai produsen sup laler ijo. Anda yang memilih membangun reputasi itu.

*) Data diambil dari Bintang Indonesia No 780, April 2006