Perhatikan Tanda Baca

posted: Mon 20th Mar, 2006, categories: Uncategorized, Cara Memasak Sup, Penyuntingan
Saya sebenarnya enggan membicarakan masalah tanda baca ini.
 
Pertama, karena kita sudah mempelajari tanda baca sejak SD, sehingga seharusnya semua penulis yang mengenal sekolah tidak perlu diajari.
 
Kedua, tanda baca relatif mudah dipahami. Beli saja buku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan baca semua aturan yang ada di sana. Anda bahkan tidak perlu menghafalkannya. Cukup buka saat mengedit naskah Anda. Kalau Anda berniat belajar EYD lebih lanjut, Anda juga bisa mampir ke situs polisi EYD. Saya yakin ia lebih pandai dalam menjabarkan EYD daripada saya.
 
Tapi ketika saya menemukan kesalahan –atau setidaknya kekurangakuratan- pemakaian tanda baca– dalam sebuah novel, saya jadi geregetan. Kalau satu hanya satu dua kali, saya masih bisa memaafkan. Namun ketika kesalahan itu terjadi berulangkali, saya tidak bisa menahan diri untuk membicarakan masalah tanda baca ini. Mari saya ambilkan contohnya.

Tapi Rhavi dan Deedek sekaligus!? Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari dalam hutan…! “Suara apa itu!?” “Di sana!!!” ….. membuat makhluk-makhluk itu lebih menyerupai monster daripada sekadar hewan liar biasa…!

Setahu saya, memang tidak ada aturan dalam EYD yang melarang menggunakan tanda “!” dan “?” sekaligus ataupun larangan menggunakan “…..” diikuti dengan “!” Tapi rasanya untuk menggunakan dua tanda seperti itu tidak perlu. Cukup salah satu saja. Lagipula, nada seperti apa yang diharapkan dari pembaca dengan pemakaian dua tanda sekaligus seperti itu? Menambah lebih banyak tanda baca tidak menambah apapun dan malah membuat orang kesal.
 
Ingatlah bahwa novel, cerpen, atau apapun bentuk cerita Anda, adalah sebuah media cetak. Artinya, pembaca tidak bisa melihat ekspresi kita atau mendengar nada kita saat kita menciptakan kalimat tersebut. Satu-satunya harapan ada pada tanda baca.
 
Jadi, luangkan waktu Anda untuk menengok kembali naskah Anda dan memperhatikan tanda baca yang ada. Tidak akan memakan waktu sampai seabad, kok. Lagipula, Anda tidak mau terlihat sebagai penulis (ataupun editor) yang ceroboh, bukan?
 
NB: Jika Anda berniat membeli buku EYD, jangan pelit. Jangan membeli buku EYD seharga 3.000 rupiah. Saya sudah membelinya dan malah gatal untuk mengeditnya. Lucu rasanya melihat buku EYD tapi penuh dengan kesalahan EYD.

1 Comment »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by Simadibrata, June 25, 2006 @ 3:37 pm

    Anda bicara EYD, tapi Anda selalu menggunakan kata “rubah” (dirubah dsb). Emangnya ada kata dasar “rubah”? Harusnya diubah donk.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>