Jangan Sempurnakan Tokoh Utama Anda

posted: Tue 7th Mar, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Karakter

Randarumi memiliki kepribadian kuat yang jarang dimiliki pemuda seusianya. Di samping cerdas, ia memiliki daya ingat kuat dan hapalan yang hebat serta kreatif, inovatif, dan memiliki leadership.

Kelebihan lain sudah terlihat sejak kecil. Pada usia 9 tahun hafal Al Qur’an secara keseluruhan. Usia 15 tahun menguasai beberapa hadits di luar kepala seperti kitab-kitab sahih 5 imam yang mansyur (mutafak alaih) yang berjumlah puluhan ribu. Hampir hapal semua puisi karya besar Homer, matsnawinya Jalaluddin Rumi, dan karya sastra Muhammad Iqbal. Berbagai prestasi juara di bidang olah raga, antara lain: menunggang kuda, menembak, arung jeram, dan memanjat tebing. Sementara bela diri yang dikuasinya adalah silat, yudo, karate dan kungfu.

Bagaimana pendapat Anda tentang paragraf di atas? Kalau saya adalah seorang bos dan mencari anak buah atau mertua yang sedang mencari menantu, dia pasti akan jadi kandidat yang sempurna. Dengan catatan kalau manusia seperti dia memang ada. Tapi saat saya menemukan karakter seperti itu di dalam novel yang saya beli, saya ingin lari ke toko buku dan meminta uang saya kembali.
 
Kenapa? Karena ia adalah tokoh utama dan tokoh utama tidak seharusnya sempurna.
 
Oke, mungkin Anda berargumentasi, apa salahnya tokoh utama yang sempurna? Tokoh fiksi itu kan rekaan, jadi seharusnya suka-suka penulis menciptakanya. Mari saya jelaskan mengapa.
 
Pertama, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Bahkan superhero seperti Superman takut pada cryptonite dan Spiderman memiliki masalah dalam pergaulan dan pekerjaan. Adalah kelemahan yang membuat tokoh utama itu menarik dan membuat konflik cerita Anda tetap hidup. Bagaimana kalau musuh Superman memiliki crytonite? Bagaimana kalau Mary Jane lebih memilih laki-laki lain dibandingkan Spiderman?
 
Kedua, tokoh utama yang sempurna itu nggak asyik. Kalau kita tahu dia perkasa, tampan, bisa melakukan dan mengatasi apa saja, lalu buat apa kita menghabiskan berlembar-lembar halaman untuk membaca ceritanya? Toh kita akan tahu si tokoh ini akan baik-baik saja. Untuk apa membaca cerita yang segalanya baik-baik saja?
 
Sebaliknya, tokoh yang tidak sempurna itu yang asyik. Salah satu tokoh favorit saya adalah Frodo Baggins dalam Lord of the Ring. Mengapa? Karena ia biasa, kecil, tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi dipaksa untuk melawan Sauron yang begitu perkasa. Bayangkan kalau Frodo memiliki ibu peri pelindung atau memiliki kekuatan super yang bisa mengalahkan apapun. Konflik Frodo vs Sauron akan kurang menarik bukan?
 
Ya, Tolkien memang menciptakan sekutu yang kuat bagi Frodo, tapi ingat, mereka adalah pemeran pembantu, bukan tokoh utama. Kita dibuat tetap mengkhawatirkan nasib Frodo hingga detik-detik terakhir. Apakah ia berhasil menghancurkan cincin? Apakah ia akan menang melawan Sauron atau mati? Apakah ia bisa sembuh dari ‘penyakitnya’?
 
Tapi ini bukan berarti Anda harus membuat tokoh Anda seperti bawang putih dalam sinetron yang hanya bisa menangis dan berdoa bila dianiaya. Tokoh semacam itu bahkan lebih menyebalkan daripada tokoh utama yang sempurna. Kalau dia tidak bisa membela dirinya sendiri, kenapa penonton harus simpati padanya?
 

Jadi ambil jalah tengahnya. Lempar tokoh utama Anda ke dalam neraka, berikan ia semua masalah buruk yang bisa menimpa dirinya, tapi bantu dan bekali ia dengan kemampuan untuk menyelamatkan dirinya. Dengan demikian, pembaca Anda akan bersemangat membaca perjuangannya. Perjuangan, penderitaan, dan kelemahan tokoh utamalah yang menjadi bahan bakar cerita Anda. Tanpa itu semua, cerita Anda memiliki potensi untuk menjadi hambar.

Anda masih ingin bernafsu menciptakan tokoh yang sempurna? Kalau begitu, jadikanlah ia musuh utama. Jadikanlah ia seperti Hannibal Lecter atau Sauron. Jadikan ia memiliki kemampuan yang sulit ditandingi oleh tokoh utama. Ia boleh saja memiliki kelemahan jika Anda mau, tapi sembunyikan hal itu dari tokoh utama Anda (paling tidak dalam jangka waktu tertentu). Dengan demikian, pembaca akan merasa cemas dengan nasib tokoh utama Anda. Dan jika pembaca Anda mencemaskan tokoh utama Anda, mereka akan terus membaca cerita Anda.