Pelajaran Memotong Rumput (1): Buang yang Tidak Perlu

posted: Wed 25th Jan, 2006, categories: Cara Memasak Sup, Penyuntingan
Whenever you can shorten a sentence, do. And one always can. The best sentence? The shortest. -
Gustave Flaubert
Seseorang mengatakan kepada saya bahwa membuat tulisan itu seperti membangun taman dari sebuah hutan. Pada awalnya, yang kita lihat adalah hutannya. Seperti itulah sebuah tulisan pada awalnya, penuh dengan rumput liar. Rumput-rumput liar itu bisa berupa kata-kata yang berlebihan, pengulangan kata, mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan, atau yang lebih parah lagi, gabungan dari semuanya. Siapa yang menciptakan hutan-hutan itu? Kita sendiri. Sebagai penulis, kita semua senang menggunakan kata-kata yang indah. Kita berpikir, semakin banyak kata indah dan semakin sering orang membuka kamus untuk mencari artinya, kita akan semakin hebat. Kita mengira telah menanam bunga, padahal sebenarnya kita tengah memenuhi taman kita dengan rumput liar. Pada saat kita sadar, taman kita telah berubah menjadi hutan. Lalu bagaimana merubah sebuah hutan menjadi taman? Mudah saja, siapkan linggis dan babat semua rumput liar di sana. Begitu juga dengan tulisan. Untuk mempercantik karya Anda, ambil pena merah dan siapkan kebesaran hati Anda untuk membuang semua kata-kata yang tidak perlu. Tapi sebelum memotong rumput liar, Anda harus tahu seperti apa bentuknya. Jangan sampai salah potong. Mari kita ambil beberapa contoh rumput liar dari sebuah novel.
Matahari terus merayap naik dengan gagahnya, tak ada siapa pun—makhluk—yang bisa menyurutkan langkahnya. Sentuhan sinarnya mampu menerangi jagad raya yang teramat luas. Sungguh begitu kuasanya. Dan matahari itu kini sudah mulai mencondongkan sinar teriknya ke arah timur menandakan tengah hari telah berlalu.
Saya menggolongkan paragraf ini sebagai rumput liar karena sebenarnya bagian paling penting kalimat di atas adalah kalimat terakhir, sedangkan tiga kalimat pertama tidak penting. Kita semua tahu tidak ada yang bisa menyurutkan langkah matahari kecuali Tuhan. Kita juga tahu matahari menerangi jagad raya. Jadi untuk apa diceritakan lagi? Kenapa tidak lebih disederhanakan seperti di bawah ini?
Matahari kini mulai mencondongkan sinar teriknya ke arah timur, menandakan tengah hari telah berlalu.
Lebih singkat, lebih padat, dan tetap sama intinya. Dari 44 kata, saya meringkasnya menjadi 14 kata (pengurangan 32%). Mari kita melangkah ke bagian lain karena rumput liar tidak hanya ada di dalam deskripsi, namun juga di dalam percakapan.
“Kan untuk belajar, tubuh kita harus kuat dan bertenaga, kenapa tidak boleh?” tanya anak lelaki gendut dengan cemberut, tangan gempalnya mengelus-elus perutnya yang buncit berlemak—mungkin khawatir bila perut lembeknya itu akan berkoar-koar menyanyikan lagu keroncongan yang paling sering dinikmati kaum miskin—Pasti!
Apakah inti kalimatnya akan berubah kalau diubah menjadi seperti ini?
“Kenapa tidak boleh? Kan untuk belajar tubuh kita harus kuat dan bertenaga,” tanya anak lelaki gendut itu cemberut sembari mengelus-elus perutnya.
Dari 43 kata, saya berhasil merevisi menjadi 21 (pengurangan 49%). Mungkin kita berpikir. Apa salahnya menggunakan kata-kata yang indah? Bukankah itu termasuk gaya bahasa penulis?
 
Tolong hati-hati membedakannya. Gaya bahasa seperti apapun sebenarnya tidak masalah selama sang penulis bisa menyampaikan pemikirannya dengan tepat dan efektif. Saya juga suka membandingkan tulisan yang bertele-tele dengan tulisan yang padat dan efektif dengan mendengarkan pidato.
 
Ya, saya tahu pidato itu membosankan. Tapi jika Anda harus mendengarkan pidato, mana yang lebih Anda sukai, pidato sepanjang sepuluh menit yang bertele-tele atau pidato yang isinya sama namun hanya 5 menit? Tentu saja yang kedua. Seperti itulah sebuah tulisan. Kalau Anda bisa menyampaikan maksud Anda dalam lima kata kenapa harus menyampaikannya dalam sepuluh kata?
 
Karena itu, jadikan setiap kata dalam tulisan Anda bermakna. Para pembaca sudah berbaik hati mau menghabiskan uang dan waktu untuk karya Anda. Tolong jangan siksa mereka untuk membaca sesuatu yang tidak perlu. Potonglah rumput-rumput liar itu agar mereka bisa menikmati keindahan taman Anda, sebagaimana Anda menikmatinya.