Buatlah Catatan
Sebenarnya saya harus merasa malu. Sebagai orang yang mengaku suka menulis. saya baru mulai menjalani kebiasaan baru ini beberapa minggu yang lalu. Kebiasaan itu namanya mencatat.
Sebelumnya saya memang mencatat (walau hanya di komputer). Isinya paling-paling hanya terdiri atas empat hal: catatan ide, coretan pengembangan alur dan karakter, naskah yang sudah jadi, dan file hasil riset mengenai suatu topik di internet. Tapi, saya sedikit mengabaikan lingkungan sekitar saya yang sebenarnya penuh dengan ide dengan tidak mencatatnya.
Alasannya sederhana saja. Toh nanti saya juga akan ingat. Toh nanti saya akan ingat saya melihat seorang gila yang menyanyi di stasiun Tebet.
Yah, memang benar. Setelah sekitar lima tahun kejadian itu, saya ingat ada orang gila yang bernyanyi lagu kebangsaan di stasiun Tebet lengkap dengan para pedagang yang menertawakannya. Tapi saya sudah lupa akan detilnya. Saya lupa lagu apa yang dinyanyikannya dan seperti apa pakaiannya. Saya juga tidak ingat apa yang diteriakkan oleh para pedagang.
Apakah mereka menertawakan suaranya atau mereka justru ikut menyanyi bersama orang gila itu? Pada saat ini saya memang belum mengembangkan cerita yang membutuhkan informasi mengenai orang gila. Tapi seandainya ya, bukankah saya sudah membuang informasi yang sangat berharga? Padahal informasi itu pernah tersaji begitu gamblang di depan mata kita. Hanya karena saya tidak mencatatnya, saya kehilangan informasi tersebut. Kenapa nggak ingat detailnya? Ya karena otak saya (dan juga otak kamu) bukanlah disket yang kalau sekali kita menyimpan, kita tinggal dan membukanya, informasi akan tersaji. Tidak.
Sejalan dengan waktu, otak kita cenderung melupakan hal-hal detil. Bahkan memori kita bisa saja salah. Apakah kejadian saya bertemu dengan orang gila itu pada pagi hari atau siang hari? Apakah rambutnya panjang atau pendek? Apakah kulitnya hitam atau putih?
Di sinilah pentingnya membuat catatan. Jangan berpikir bahwa buku catatan Kamu harus berisi pengolahan alur, ide, karakter, dialog, adegan dan sebagainya. Hal-hal seperti itu memang sudah sewajarnya ada di dalam buku catatan Kamu.
Tapi, lebih jauh lagi, buku catatan penulis sebaiknya mencatat apa saja yang menarik bagi seorang penulis. Bentuknya macam-macam. Bisa dari percakapan seseorang, potongan adegan yang melintas di kepalamu, hingga foto atau artikel dari majalah. Ralph Fletcher, penulis Writer’s Notebook, membuat daftar isi apa saja yang terdapat dalam buku catatan penulis.
- Apa yang membuatmu takjub/kaget/ marah
- Apa yang membuatmu ingin tahu
- Apa yang kamu amati
- “Benih ide” atau “pemicu” untuk mengarang cerita atau puisi
- Detail-detail kecil yang memikatmu.
- Potongan pembicaraan yang kamu dengar
- Kenangan
- Daftar (daftar apa aja)
- Foto, artikel, potongan tiket atau artifak lain
- Sketsa, gambar, atau coretan yang kamu buat sendiri
- Kutipan dari buku atau puisi.
Jadi, apa yang ada di dalam buku catatan saya? Sejauh ini, buku saya lebih banyak berisi apa yang saya amati, pengembangan ide cerita saya serta detail-detail kecil yang memikat saya.
Truk Sampah 18/12 05 Sebuah truk sampah melaju di jalan baru. Terpal oranyenya digulung di atas truk hingga menyerupai pita. Nggak ada kesan seram, besar, atau bau. Hanya lucu. Seperti hadiah ultah yang tidak diinginkan orang. Tak ada yang mau.
Asyiknya membuat buku catatan adalah kamu nggak perlu peduli dengan segala macam aturan EYD dan tata bahasa. Buat apa? Toh yang akan membaca buku ini hanya kamu. Karena itu kamu bebas menuangkan apa saja. Kebebasan ini juga yang membuat proses menulis jauh lebih mudah dan ringan. Coba aja.Mbak *** Kalau ditanya org tp jawabannya sebenarnya nggak, it doesn’t mean you have to say no. Misalnya. “Kamu bawa uang, nggak?” Padahal gak bawa uang. Instead of saying no, you could answer, “Ntar di depan berhenti di ATM.” Padahal sebenarnya gak bawa uang.
Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa baca Writer’s Notebook karangan Ralph Fletcher dari penerbit MLC. Buku ini lumayan bagus, kok. Paling nggak buku ini sudah menggugah kesadaran saya untuk mulai rajin membuat catatan. Lha kok malah promosi? Kayak dibayar aja sama MLC.




