Deskripsi: Jangan Cuma Pakai Mata!
Seorang teman di salah satu forum dunia maya pernah mengajukan pertanyaan seperti ini:
Gimana caranya bikin deskripsi yang langsung menarik minat saat pertama kali baca?Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan satu contoh deskripsi.
Angie masuk dan duduk di sebelah Reza. Ia memandang berkeliling dan memperhatikan kamar Reza yang rapih dan bernuansa merah dan hitam. Di pojok dekat pintu ada sebuah meja belajar dengan sebuah komputer. Buku-buku pelajaran dan majalah berserakan di atasnya. Di sebelahnya ada stereo set lengkap dengan TV, VCD, DVD, dan video games serta bingkai-bingkai foto. Di sebelahnya ada tempat tidur dan meja damun yang dipenuhi makanan. Tidak ada kosmetik dan alat rias, hanya ada sebuah bedak bayi berukuran besar, pembersih wajah, dan cologne. Di ujung sana ada sebuah pintu dengan tulisan Rest Room, di dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pekarangan. Di dinding, terpajang berbagai macam poster pemain sepak bola dan grup band asal Amerika, Linkin Park.
“Your room is cool!” kata Angie sambil tersenyum.
Reza tersenyum, “Makasih.”
“Mau minum apa, Gie?” tanya Reza sambil memindahkan channel TV.
“Gak usah,” jawab Anggie sambil tersenyum.
"Bener, nih?” tanya Reza dengan alis terangkat. Angie mengangguk singkat.
“Kamu suka Linkin Park?” tanya Angie begitu melihat poster besar grup band itu di dinding belakang tempat tidur Reza. Reza mengangguk,
“Suka banget. Lu pasti gak suka ya?”
“Kenapa kamu kira begitu? Saya suka sekali sama mereka.”
“Oya?” kata Reza sambil membenarkan posisi duduknya, “Serius?”
“Ya. Kenapa, apa cewek seperti saya ini nggak cocok ya untuk jadi fans mereka?” tanya Angie pura-pura marah sambil menolakkan pinggangnya dan cemberut.
Apa yang salah dengan deskripsi kamar di atas? Sederhana saja. Deskripsi tersebut datar. Saya tidak akan menyalahkan penulisan di atas karena ia membuat persis sebagaimana yang diajarkan guru Bahasa Indonesia di sekolah. Gurunya akan tersenyum puas membaca deskripsinya sementara kita sebagai pembaca akan memilih melewati paragraf tersebut.
Atau mungkin kita akan membacanya tapi tidak ada kesan yang berbekas. Kenapa? Karena deskripsi tersebut hanya menggunakan mata. Dengan hanya menggunakan mata, ceritamu tidak akan ada bedanya dengan film. Padahal novel bukanlah film.
Sebuah novel harus bisa membuat pembacanya merasa ada di sana, hadir di dalam cerita. Lagipula manusia memiliki lima indera: mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Kenapa kita hanya menggunakan satu indera untuk menggambarkan situasi? Bukankah akan jauh lebih hidup kalau kita menggunakan semuanya? Bukanlah akan jauh lebih menarik kalau saat kita masuk ke dalam kamar, kita bisa merasakan bagaimana situasi di dalam kamar? Bagaimana baunya? Bagaimana perasaanmu? Adakah hal yang menarik perhatian? Adakah benda-benda yang membuat kamu merasa yakin menggambarkan pemiliknya? Ataukah justru ada hal-hal kontras dengan kepribadian pemilik kamar? Mungkin lucu kalau seorang yang macho ternyata menyimpan koleksi makanan di kamarnya.
Tapi, tidak berarti kamu harus benar-benar menggunakan kelima indera Kamu dalam menulis. Bayangkan bakal sepanjang apa deskripsi kamu. Gunakan sebagai bagian dari cerita. Mungkin Kamu cukup memakai mata dan telinga saja. Atau kalau kamu sedang menggambarkan dapur, kenapa tidak menggabungkan mata dan hidung? Ada kalanya perasa dan mata saja cukup, ada kalanya penciuman dan pendengaran cukup. Kamu yang lebih tahu.
Seorang pembaca tidak perlu tahu dimana posisi DVD set dan di mana kamu meletakkan poster Linkin Park, kecuali kamu mau meletakkan senjata pembunuh di sana. Yang diperlukan adalah emosi yang muncul saat kamu menggambarkan ruangan tersebut. Apakah kamu ingin mengesankan ruangan yang kotor? Ruangan yang dingin? Ruangan yang baru saja dibuat? Coba baca deskripsi di bawah ini.
Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon kumashidi yang rindang, Nakamura tua memandang ke seantero taman yang luas dan penuh pengunjung itu. Berpuluh atau bahkan beratus koinobori berkibaran seperti ikan berenangan dihembus angin musim semi yang hangat. Tiang-tiangnya menancap kuat-kuat; memenuhi taman yang rindang oleh pepohon besar dan bebungaan yang ditata rapi, yang memberikan kesejukan di musim panas dan menimbulkan kesan hangat di musim dingin. — Herlino Soleman, KoinoboriSaya menyukai bagaimana penulis di atas memakai tiga indera dalam menggambarkan suasana. Saya bisa merasakan semilir angin yang hangat. Saya juga bisa mendengar ramainya pengunjung saat Herlino menuliskan kata ‘penuh pengunjung’ dan pada saat bersamaan melihat koinobori beterbangan. Saya merasa ada di sana. Bagaimana dengan kamu? Sekali lagi, perhatikan terjemahan bebas di bawah ini:
Serena Caudill mendengar langkah dari luar dan deritan pintu kabin dan ia tahu bahwa John datang. Ia terus menusuk ayam panggangnya yang semakin cokelat.
“Di mana Boone?”
“Lagi mutar, kayaknya.”
Ia mengangkat kepalanya dan melihat John menutup pintu dari hujan, melihatnya menutup pintu tanpa berbalik sementara matanya malah memperhatikan dapur yang remang-remang. Ia bersandar pada dinding, membuat ketukan tak teratur pada lantai, mulai menggantungkan mantelnya, berpikir sejenak, lantas memakainya kembali menyelimuti lehernya. Dalam kehangatan kamar, aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah mengalir dari dirinya.
–A.B. Guthrie, The Big Sky
Angie mengira ia akan menemukan markas tentara di kamar Reza. Tapi ia salah. Tidak ada ranjau kabel yang menyandung kakinya ataupun barikade tumpukan majalah lama yang menghalangi jalannya. Dengan nuansa merah hitam dan komputer dan audio set , kamar Reza terkesan maskulin.
Meskipun begitu, Angie mulai menyukai kamar itu saat mencium wangi musk di sana. “Mau minum apa, Gie?” Reza menekan channel yang menampilkan musik rock. Bukannya menjawab, Angie malah menjerit.
"Ya ampun!” Angie langsung duduk di samping Reza.
Ini konser Linkin Park di Jepang, kan?” “Kamu suka Linkin Park?” tanya Reza heran. “Emangnya cewek seperti saya ini nggak cocok jadi fans mereka?” Angie pura-pura marah. “Saya suka sekali sama mereka, terutama yang itu,” Angie menunjuk sebuah poster di atas tempat tidur Reza, “Mike Shinoda.”Saya menggunakan dua indera di atas: mata dan hidung. Saya juga berhasil menghemat 99 dari 224 kata paragraf aslinya. Bandingkan dengan paragraf aslinya. Adakah esensi cerita yang hilang? Kalau kamu mau, kamu bisa membuat revisinya versi kamu sendiri. Kamu mungkin bisa bikin yang lebih bagus dari saya.




