Buatlah Catatan

posted: Thu 29th Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup
Sebenarnya saya harus merasa malu. Sebagai orang yang mengaku suka menulis. saya baru mulai menjalani kebiasaan baru ini beberapa minggu yang lalu. Kebiasaan itu namanya mencatat.
 
Sebelumnya saya memang mencatat (walau hanya di komputer). Isinya paling-paling hanya terdiri atas empat hal: catatan ide, coretan pengembangan alur dan karakter, naskah yang sudah jadi, dan file hasil riset mengenai suatu topik di internet. Tapi, saya sedikit mengabaikan lingkungan sekitar saya yang sebenarnya penuh dengan ide dengan tidak mencatatnya.
 
Alasannya sederhana saja. Toh nanti saya juga akan ingat. Toh nanti saya akan ingat saya melihat seorang gila yang menyanyi di stasiun Tebet.
 
Yah, memang benar. Setelah sekitar lima tahun kejadian itu, saya ingat ada orang gila yang bernyanyi lagu kebangsaan di stasiun Tebet lengkap dengan para pedagang yang menertawakannya. Tapi saya sudah lupa akan detilnya. Saya lupa lagu apa yang dinyanyikannya dan seperti apa pakaiannya. Saya juga tidak ingat apa yang diteriakkan oleh para pedagang.
 
Apakah mereka menertawakan suaranya atau mereka justru ikut menyanyi bersama orang gila itu? Pada saat ini saya memang belum mengembangkan cerita yang membutuhkan informasi mengenai orang gila. Tapi seandainya ya, bukankah saya sudah membuang informasi yang sangat berharga? Padahal informasi itu pernah tersaji begitu gamblang di depan mata kita. Hanya karena saya tidak mencatatnya, saya kehilangan informasi tersebut. Kenapa nggak ingat detailnya? Ya karena otak saya (dan juga otak kamu) bukanlah disket yang kalau sekali kita menyimpan, kita tinggal dan membukanya, informasi akan tersaji. Tidak.
 
Sejalan dengan waktu, otak kita cenderung melupakan hal-hal detil. Bahkan memori kita bisa saja salah. Apakah kejadian saya bertemu dengan orang gila itu pada pagi hari atau siang hari? Apakah rambutnya panjang atau pendek? Apakah kulitnya hitam atau putih?
 
Di sinilah pentingnya membuat catatan. Jangan berpikir bahwa buku catatan Kamu harus berisi pengolahan alur, ide, karakter, dialog, adegan dan sebagainya. Hal-hal seperti itu memang sudah sewajarnya ada di dalam buku catatan Kamu.
 
Tapi, lebih jauh lagi, buku catatan penulis sebaiknya mencatat apa saja yang menarik bagi seorang penulis. Bentuknya macam-macam. Bisa dari percakapan seseorang, potongan adegan yang melintas di kepalamu, hingga foto atau artikel dari majalah. Ralph Fletcher, penulis Writer’s Notebook, membuat daftar isi apa saja yang terdapat dalam buku catatan penulis.
  1. Apa yang membuatmu takjub/kaget/ marah
  2. Apa yang membuatmu ingin tahu
  3. Apa yang kamu amati
  4. “Benih ide” atau “pemicu” untuk mengarang cerita atau puisi
  5. Detail-detail kecil yang memikatmu.
  6. Potongan pembicaraan yang kamu dengar
  7. Kenangan
  8. Daftar (daftar apa aja)
  9. Foto, artikel, potongan tiket atau artifak lain
  10. Sketsa, gambar, atau coretan yang kamu buat sendiri
  11. Kutipan dari buku atau puisi. 
Jadi, apa yang ada di dalam buku catatan saya? Sejauh ini, buku saya lebih banyak berisi apa yang saya amati, pengembangan ide cerita saya serta detail-detail kecil yang memikat saya.
Truk Sampah 18/12 05 Sebuah truk sampah melaju di jalan baru. Terpal oranyenya digulung di atas truk hingga menyerupai pita. Nggak ada kesan seram, besar, atau bau. Hanya lucu. Seperti hadiah ultah yang tidak diinginkan orang. Tak ada yang mau.

Mbak *** Kalau ditanya org tp jawabannya sebenarnya nggak, it doesn’t mean you have to say no. Misalnya. “Kamu bawa uang, nggak?” Padahal gak bawa uang. Instead of saying no, you could answer, “Ntar di depan berhenti di ATM.” Padahal sebenarnya gak bawa uang.

Asyiknya membuat buku catatan adalah kamu nggak perlu peduli dengan segala macam aturan EYD dan tata bahasa. Buat apa? Toh yang akan membaca buku ini hanya kamu. Karena itu kamu bebas menuangkan apa saja. Kebebasan ini juga yang membuat proses menulis jauh lebih mudah dan ringan. Coba aja.
 
Untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa baca Writer’s Notebook karangan Ralph Fletcher dari penerbit MLC. Buku ini lumayan bagus, kok. Paling nggak buku ini sudah menggugah kesadaran saya untuk mulai rajin membuat catatan. Lha kok malah promosi? Kayak dibayar aja sama MLC.

Deskripsi: Jangan Cuma Pakai Mata!

posted: Tue 20th Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Deskripsi
Seorang teman di salah satu forum dunia maya pernah mengajukan pertanyaan seperti ini:
 Gimana caranya bikin deskripsi yang langsung menarik minat saat pertama kali baca?
Saya akan menjawab pertanyaan tersebut dengan memberikan satu contoh deskripsi.
Angie masuk dan duduk di sebelah Reza. Ia memandang berkeliling dan memperhatikan kamar Reza yang rapih dan bernuansa merah dan hitam. Di pojok dekat pintu ada sebuah meja belajar dengan sebuah komputer. Buku-buku pelajaran dan majalah berserakan di atasnya. Di sebelahnya ada stereo set lengkap dengan TV, VCD, DVD, dan video games serta bingkai-bingkai foto. Di sebelahnya ada tempat tidur dan meja damun yang dipenuhi makanan. Tidak ada kosmetik dan alat rias, hanya ada sebuah bedak bayi berukuran besar, pembersih wajah, dan cologne. Di ujung sana ada sebuah pintu dengan tulisan Rest Room, di dekat sebuah jendela besar yang menghadap ke arah pekarangan. Di dinding, terpajang berbagai macam poster pemain sepak bola dan grup band asal Amerika, Linkin Park.
“Your room is cool!” kata Angie sambil tersenyum.
Reza tersenyum, “Makasih.”
“Mau minum apa, Gie?” tanya Reza sambil memindahkan channel TV.
“Gak usah,” jawab Anggie sambil tersenyum.
"Bener, nih?” tanya Reza dengan alis terangkat. Angie mengangguk singkat.
“Kamu suka Linkin Park?” tanya Angie begitu melihat poster besar grup band itu di dinding belakang tempat tidur Reza. Reza mengangguk,
“Suka banget. Lu pasti gak suka ya?”
“Kenapa kamu kira begitu? Saya suka sekali sama mereka.”
“Oya?” kata Reza sambil membenarkan posisi duduknya, “Serius?”
“Ya. Kenapa, apa cewek seperti saya ini nggak cocok ya untuk jadi fans mereka?” tanya Angie pura-pura marah sambil menolakkan pinggangnya dan cemberut.
Apa yang salah dengan deskripsi kamar di atas? Sederhana saja. Deskripsi tersebut datar. Saya tidak akan menyalahkan penulisan di atas karena ia membuat persis sebagaimana yang diajarkan guru Bahasa Indonesia di sekolah. Gurunya akan tersenyum puas membaca deskripsinya sementara kita sebagai pembaca akan memilih melewati paragraf tersebut.
 
Atau mungkin kita akan membacanya tapi tidak ada kesan yang berbekas. Kenapa? Karena deskripsi tersebut hanya menggunakan mata. Dengan hanya menggunakan mata, ceritamu tidak akan ada bedanya dengan film. Padahal novel bukanlah film.
 
Sebuah novel harus bisa membuat pembacanya merasa ada di sana, hadir di dalam cerita. Lagipula manusia memiliki lima indera: mata, telinga, lidah, hidung, dan kulit. Kenapa kita hanya menggunakan satu indera untuk menggambarkan situasi? Bukankah akan jauh lebih hidup kalau kita menggunakan semuanya? Bukanlah akan jauh lebih menarik kalau saat kita masuk ke dalam kamar, kita bisa merasakan bagaimana situasi di dalam kamar? Bagaimana baunya? Bagaimana perasaanmu? Adakah hal yang menarik perhatian? Adakah benda-benda yang membuat kamu merasa yakin menggambarkan pemiliknya? Ataukah justru ada hal-hal kontras dengan kepribadian pemilik kamar? Mungkin lucu kalau seorang yang macho ternyata menyimpan koleksi makanan di kamarnya.
 
Tapi, tidak berarti kamu harus benar-benar menggunakan kelima indera Kamu dalam menulis. Bayangkan bakal sepanjang apa deskripsi kamu. Gunakan sebagai bagian dari cerita. Mungkin Kamu cukup memakai mata dan telinga saja. Atau kalau kamu sedang menggambarkan dapur, kenapa tidak menggabungkan mata dan hidung? Ada kalanya perasa dan mata saja cukup, ada kalanya penciuman dan pendengaran cukup. Kamu yang lebih tahu.
 
Seorang pembaca tidak perlu tahu dimana posisi DVD set dan di mana kamu meletakkan poster Linkin Park, kecuali kamu mau meletakkan senjata pembunuh di sana. Yang diperlukan adalah emosi yang muncul saat kamu menggambarkan ruangan tersebut. Apakah kamu ingin mengesankan ruangan yang kotor? Ruangan yang dingin? Ruangan yang baru saja dibuat? Coba baca deskripsi di bawah ini.
Sambil duduk di bangku taman di bawah pohon kumashidi yang rindang, Nakamura tua memandang ke seantero taman yang luas dan penuh pengunjung itu. Berpuluh atau bahkan beratus koinobori berkibaran seperti ikan berenangan dihembus angin musim semi yang hangat. Tiang-tiangnya menancap kuat-kuat; memenuhi taman yang rindang oleh pepohon besar dan bebungaan yang ditata rapi, yang memberikan kesejukan di musim panas dan menimbulkan kesan hangat di musim dingin. — Herlino Soleman, Koinobori
Saya menyukai bagaimana penulis di atas memakai tiga indera dalam menggambarkan suasana. Saya bisa merasakan semilir angin yang hangat. Saya juga bisa mendengar ramainya pengunjung saat Herlino menuliskan kata ‘penuh pengunjung’ dan pada saat bersamaan melihat koinobori beterbangan. Saya merasa ada di sana. Bagaimana dengan kamu? Sekali lagi, perhatikan terjemahan bebas di bawah ini:
Serena Caudill mendengar langkah dari luar dan deritan pintu kabin dan ia tahu bahwa John datang. Ia terus menusuk ayam panggangnya yang semakin cokelat.
“Di mana Boone?”
“Lagi mutar, kayaknya.”
Ia mengangkat kepalanya dan melihat John menutup pintu dari hujan, melihatnya menutup pintu tanpa berbalik sementara matanya malah memperhatikan dapur yang remang-remang. Ia bersandar pada dinding, membuat ketukan tak teratur pada lantai, mulai menggantungkan mantelnya, berpikir sejenak, lantas memakainya kembali menyelimuti lehernya. Dalam kehangatan kamar, aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah mengalir dari dirinya.
–A.B. Guthrie, The Big Sky
Ini contoh deskripsi mengenai ruangan tanpa kamu harus menyebutkan posisi benda. Dari sana, kita udah mendapat gambaran tentang ruangan itu. Kamu nggak perlu capek-capek memberi tahu posisi benda-benda yang ada di sana. Cukup beritahu yang penting-penting aja. Perapian, pintu yang berderit, lantai, tempat menggantungkan mantel, dapur yang remang-remang dan bau. Hmm… kamu bisa membayangkan ‘aroma sapi dan keringat dan minuman dan wool yang basah’, kan? Itulah yang saya maksud dengan deskripsi yang baik. Cukup citra yang ingin kamu benamkan pada pembaca saja yang kamu tampilkan. Nggak perlu bertele-tele. Jadi bagaimana merevisi tulisan seperti di atas? Saya mengusulkan seperti ini:
Angie mengira ia akan menemukan markas tentara di kamar Reza. Tapi ia salah. Tidak ada ranjau kabel yang menyandung kakinya ataupun barikade tumpukan majalah lama yang menghalangi jalannya. Dengan nuansa merah hitam dan komputer dan audio set , kamar Reza terkesan maskulin.
Meskipun begitu, Angie mulai menyukai kamar itu saat mencium wangi musk di sana. “Mau minum apa, Gie?” Reza menekan channel yang menampilkan musik rock. Bukannya menjawab, Angie malah menjerit.
"Ya ampun!” Angie langsung duduk di samping Reza.
Ini konser Linkin Park di Jepang, kan?” “Kamu suka Linkin Park?” tanya Reza heran. “Emangnya cewek seperti saya ini nggak cocok jadi fans mereka?” Angie pura-pura marah. “Saya suka sekali sama mereka, terutama yang itu,” Angie menunjuk sebuah poster di atas tempat tidur Reza, “Mike Shinoda.”
Saya menggunakan dua indera di atas: mata dan hidung. Saya juga berhasil menghemat 99 dari 224 kata paragraf aslinya. Bandingkan dengan paragraf aslinya. Adakah esensi cerita yang hilang? Kalau kamu mau, kamu bisa membuat revisinya versi kamu sendiri. Kamu mungkin bisa bikin yang lebih bagus dari saya.

Wawancarailah Karakter Anda

posted: Thu 1st Dec, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Membentuk karakter cerita, menurut saya, adalah salah satu bagian tersulit sekaligus terpenting dalam pembentukan cerita. Biasanya, begitu sudah mengenal tokoh saya akan lebih mudah untuk mengembangkan plot karena saya bisa menggunakan berbagai sifatnya (atau sifat lain) untuk menjebloskannya ataupun mengeluarkannya dari konflik.

Seorang guru mengatakan pada saya bahwa ia menggunakan tehnik wawancara pada tokoh rekaannya. Jadi bayangkan Anda berada di dalam satu ruangan dengannya dan berbicara padanya. Seperti apa dia? Bagaimana cara ia duduk? Bagaimana cara ia memainkan rambutnya? Apakah ia terus menerus melihat jamnya? Semakin lama Anda ‘berbicara’ padanya, Anda akan semakin mengenalnya.

Cara lain yang sering saya gunakan adalah dengan mengisi tabel seperti di bawah ini. Tabel ini tentu saja tidak sempurna. Anda dapat memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan Anda.


Atribut Dasar
Nama Lengkap:
Panggilan :
Jenis Kelamin :
Gender :
Berat/Tinggi Badan :
Warna/Gaya Rambut :
Warna Mata :
Gaya Busana :
Dandanan :
Kemampuan Fisik :
Keterbatasan Fisik :

Latar Belakang
Status Sosial :
Tempat/ Tanggal Lahir :

Profil Orang Tua

Ayah
Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan anak :

Ibu

Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan anak :
Struktur Keluarga :

Saudara:
Hidup / Meninggal :
Status Sosial :
Etnis :
Agama :
Kebiasaan :
Hubungan dengan tokoh :

Kisah Singkat

Bagaimana hidup tokoh sebelum cerita dimulai?

Bagaimana masa kecil tokoh?

Apa masa tersulit dalam hidup tokoh?

Apakah hidup sesuai dengan harapan tokoh?

Apakah tokoh memiliki penyesalan?

Situasi khusus apa yang membuat tokoh seperti sekarang?

Kejiwaan
Sifat :
Tujuan Hidup :
Hidup, karir, atau tujuan hidup yang keluar dari alur cerita :
Karakteristik pembeda :
Introvert? Ekstrovert? :
Pakai otak atau Pakai perasaan? :
Fobia :
Harapan dan Keinginan :
Kontradiksi terbesar dalam hidup karakter :
Seberapa Egois? :
Makanan dan Minuman Favorit :
Pendidikan Penting :
Aktivitas paling dibenci :
Aktivitas paling disukai :
Rahasia paling dalam :
Sense of humour :
Yang dipuja karakter :

Filosofi dan Moralitas
Sikap terhadap
Diri Sendiri :
Orang Lain :
Persahabatan :
Seks :
Cinta :
Keluarga :
Pernikahan :
Negara :
Dunia :
Agama :
Character’s Quotations :

Gaya Hidup
Sahabat Terbaik :
Pekerjaan :
Sikap terhadap pekerjaan :
Pencapaian :
Terkenal/Tidak Terkenal :
Organisasi :
Musik Kesukaan/Band favorit :
Hobby :

Catatan:
Daftar ini bukan milik saya. Bila Anda merasa sebagai pemilik daftar ini, silahkan hubungi saya.