Majalah Cerita Kita
Judul : Cerita Kita
Edisi : 1
Pertama-tama saya harus mengungkapkan kalau sebenarnya saya senang dengan kehadiran majalah baru ini. Tentu saja, sebagai penulis, saya mendapat tempat baru untuk mengirimkan naskah saya. Tetapi sebagai editor, saya kecewa berat. Alasan pertama saya membeli majalah ini adalah karena editornya, atau lebih tepatnya, editor tamunya: Jujur Prananto, Putu Wijaya, dan Seno Gumira Ajidarma.
Mereka adalah nama-nama yang saya junjung tinggi di dunia penulisan. Saya percaya mereka memiliki selera tinggi dalam membuat cerita. Jadi terus terang saya berharap banyak pada majalah kumpulan cerita pendek remaja ini. Tidak banyak majalah remaja yang memuat cerita bermutu kecuali Gadis dan Annida. Maaf, Aneka Yess, saya selalu kecewa dengan kualitas cerita pendek kamu.
Namun setelah membaca cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini saya jadi bertanya-tanya. Apakah para editor tamu ini benar-benar membaca cerpen yang dimuat? Atau majalah ini hanya mendompleng nama-nama mereka supaya majalah ini jadi kelihatan keren? Terus terang, hanya beberapa cerpen yang ‘layak’ naik cetak sementara sisanya, lebih baik dikembalikan ke penulisnya saja. (Sebenarnya semua cerpen yang ada saya beri catatan, tapi saya mengerti pekerjaan editor. Kalau semuanya dikembalikan, apa yang mau dicetak sementara deadline sudah dekat dan bos tidak mau mengerti? Jadi saya memaafkan beberapa cerpen.
Cerpen-cerpen tersebut adalah…
1. Strike Two! Dari segi deskripsi sudah bagus, tapi dia gagal menunjukkan Malya sebagai gadis yang menyebalkan. Maksud saya kalimat seperti “Saya mau nambah iced lemon tea-nya, ya? Jangan terlalu manis kayak tadi, lho. Saya kan bayar di sini” tidak cukup meyakinkan saya bahwa gadis ini perlu diguyur dengan minuman. Ataupun ketika Malya tidak berterima kasih pada pelayan saat pesanannya datang. Please, deh. Banyak kok dari kita yang melakukannya. Kalau kelakuan Malya ini meyebalkan, apa panggilan buat orang yang sibuk membaca majalah saat berada di tengah-tengah acara makan bersama dan mengharapkan ia ikut ngobrol?
- Satu Cerita Untuknya Untuk apa menceritakan bapak Zheeta suka memukul anaknya? Supaya anaknya kelihatan sebagai tokoh menderita?
- Pasti Untuk apa menceritakan asal nama Flora Anggraini sepanjang dua paragraf panjang yang tidak ada hubungannya dengan cerita?
- Sleeping Handsome Apakah Anda mengirim draft pertama Anda tanpa diedit lebih dahulu? Dongeng memang menarik sebagai sumber inspirasi, tapi cerita ini mentah. Saya tidak tahu apa guna tokoh Max dan Nizze bila kemudian yang menjadi fokus adalah Uno dan Lizze. Penulis terlalu bertele-tele dengan pembukaan hingga akhirnya tergopoh-gopoh menutup ceritanya tanpa perlu merasa membangunkan si Sleeping Handsome ini.
- Kantin Sekolah. Terus terang saya tidak suka dengan deskripsi yang menggunakan bahasa percakapan. Saya tidak suka dengan ide memunculkan nenek-nenek hantu yang memburu laki-laki, tapi okelah terlalu banyak hantu di televisi dan saya tidak menyalahkan kalau itu memengaruhi penulis. Bila memang itu idenya, tampilkan ide ini dari awal. Potong dua halaman awal dan fokuskan pada misteri nenek lampir di kantin sekolah saja. Beri kepribadian apa nenek lampir itu, motivasinya, alasannya, kegalauannya… Anda akan satu tingkat di atas sinetron hantu TV.
- Cantik Saya suka dengan ide seorang gadis yang membenci kecantikannya sendiri. Tapi sang penulis merusak ceritanya sendiri dengan memasukkan kalimat “Hhhh….jijik ya badanku.” setelah diperkosa mantan pacarnya. Penulis juga terlalu banyak mendongeng (tell) dan tidak menunjukkan (show) pada pembaca. Pada akhir cerita, saya bukannya memahami mengapa ia merusak wajahnya, tapi malah ingin meneriakinya sebagai perempuan bodoh. Kenapa harus merusak wajah bila sekarang dia sudah punya pacar yang baik? Kalau saya jadi penulisnya, saya akan membuat ‘aku’ diperkosa lagi oleh pacarnya yang sekarang, Seto, dan setelah itu barulah ‘aku’ merusak wajahnya sendiri.




