Mutiara Hati
Judul :Mutiara Hati
Episode : Minggu, 27 November 2005
Pemain : Inneke Koesherawati, LuckyHakim, Renny Yuliana, Anita Lorenza, Tizza Radja, Novi Aulia.
Saya memiliki pengakuan dosa hari ini. Saya menonton Mutiara Hati bukan untuk menghujat atau menertawakan kebodohan sinetron ini. Saya menonton sinetron ini demi satu orang: Lucky Hakim.
Terus terang, Lucky Hakim memainkan peran yang lumayan apik dan berkesan di film besutan Deddy Mizwar, Ketika. Itu alasan yang sama dengan ketika saya menonton Cinta Memang Gila (Ada Irwan Chandra di sana) ataupun ketika saya nonton Red Eyes (Cillian Murphy!). Siapa peduli dengan ceritanya?
Ups! Apa yang baru saja saya katakan? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Betapa lemahnya iman saya! Baru disodori wajah tampan saja sudah menggelepar dan lupa tujuan semula! Oke. Konsentrasi. Kembali ke tujuan semula. Membantai. Menghujat. Tanpa Ampun. Lucky Hakim. Arrrggghhhh! *
Ehm. *Kali ini benar-benar berkonsentrasi*
Adegan yang paling menarik perhatian saya (dan memang pantas diberi catatan) adalah adegan di TK. Sungguh menarik (baca: garing banget) melihat dua penjahat ala Home Alone berusaha mendobrak masuk ke sebuah ruangan TK. Kelakuan mereka begitu konyol hingga membuat malu persatuan penjahat sinetron seluruh Indonesia. Tidak bisa menemukan cara mengintip ruangan. Jatuh ke kolam dan hampir menelan ikan. Tidak berdaya begitu dipukuli buku oleh ibu guru. Ck..ck..ck…
Lebih hebat lagi adalah si Nabila. Sungguh, dia adalah anak TK paling cerdas yang pernah saya lihat. Bahkan seharusnya Nabila yang menjadi guru TK sementara gurunya cukup menjadi murid TK saja. Masa’ anak TK bisa menjadi decision maker untuk lapor ke satpam? Bukan itu saja, ia bisa menugaskan temannya untuk kabur melalui jendela sementara sang guru hanya berdiri di pojokan memeluk murid-muridnya.
Saya memang bukan psikolog, tapi setahu saya, anak pada usia TK belum mampu berpikir secara abstrak (Kalau disuruh memilih antara dua buah gelas dengan bentuk berbeda sementara isinya sama, mereka pasti memilih yang lebih tinggi karena mengira isinya lebih banyak.)
Lalu, bagaimana mungkin saya bisa percaya seorang anak kecil bisa melakukan pengambilan keputusan sekaligus pengalokasian tenaga kerja yang ada? Saya ingin mengkritik lebih panjang lagi, tapi mendadak wajah Lucky Hakim muncul.
Aduh, mendadak mulut saya kaku dan saya terpesona sekaligus takut. Jangan-jangan memang hanya ini yang sebenarnya dijual oleh pedagang sinetron kita. Tampang. Siapa yang peduli dengan cerita? Siapa yang peduli dengan kualitas akting mereka? Bukankah itu alasan mengapa orang memasang Shandy Aulia dan Samuel Rizal (lagi) meskipun mereka tidak bisa akting? Lalu apa bedanya pedagang sinetron kita dengan pembuat video porno?
Ya, Tuhan, berilah kekuatan pada saya untuk terus berjuang dan berkata tidak pada sup laler-sup laler ijo ini. Dan tolong, singkirkan Lucky Hakim dari layar TV. Dia benar-benar merusak konsentrasi saya.




