Mutiara Hati

posted: Mon 28th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron

Judul :Mutiara Hati

Episode : Minggu, 27 November 2005

Pemain : Inneke Koesherawati, LuckyHakim, Renny Yuliana, Anita Lorenza, Tizza Radja, Novi Aulia.

Saya memiliki pengakuan dosa hari ini. Saya menonton Mutiara Hati bukan untuk menghujat atau menertawakan kebodohan sinetron ini. Saya menonton sinetron ini demi satu orang: Lucky Hakim.

Terus terang, Lucky Hakim memainkan peran yang lumayan apik dan berkesan di film besutan Deddy Mizwar, Ketika. Itu alasan yang sama dengan ketika saya menonton Cinta Memang Gila (Ada Irwan Chandra di sana) ataupun ketika saya nonton Red Eyes (Cillian Murphy!). Siapa peduli dengan ceritanya?

Ups! Apa yang baru saja saya katakan? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Betapa lemahnya iman saya! Baru disodori wajah tampan saja sudah menggelepar dan lupa tujuan semula! Oke. Konsentrasi. Kembali ke tujuan semula. Membantai. Menghujat. Tanpa Ampun. Lucky Hakim. Arrrggghhhh! *

Ehm. *Kali ini benar-benar berkonsentrasi*

Adegan yang paling menarik perhatian saya (dan memang pantas diberi catatan) adalah adegan di TK. Sungguh menarik (baca: garing banget) melihat dua penjahat ala Home Alone berusaha mendobrak masuk ke sebuah ruangan TK. Kelakuan mereka begitu konyol hingga membuat malu persatuan penjahat sinetron seluruh Indonesia. Tidak bisa menemukan cara mengintip ruangan. Jatuh ke kolam dan hampir menelan ikan. Tidak berdaya begitu dipukuli buku oleh ibu guru. Ck..ck..ck…

Lebih hebat lagi adalah si Nabila. Sungguh, dia adalah anak TK paling cerdas yang pernah saya lihat. Bahkan seharusnya Nabila yang menjadi guru TK sementara gurunya cukup menjadi murid TK saja. Masa’ anak TK bisa menjadi decision maker untuk lapor ke satpam? Bukan itu saja, ia bisa menugaskan temannya untuk kabur melalui jendela sementara sang guru hanya berdiri di pojokan memeluk murid-muridnya.

Saya memang bukan psikolog, tapi setahu saya, anak pada usia TK belum mampu berpikir secara abstrak (Kalau disuruh memilih antara dua buah gelas dengan bentuk berbeda sementara isinya sama, mereka pasti memilih yang lebih tinggi karena mengira isinya lebih banyak.)

Lalu, bagaimana mungkin saya bisa percaya seorang anak kecil bisa melakukan pengambilan keputusan sekaligus pengalokasian tenaga kerja yang ada? Saya ingin mengkritik lebih panjang lagi, tapi mendadak wajah Lucky Hakim muncul.

Aduh, mendadak mulut saya kaku dan saya terpesona sekaligus takut. Jangan-jangan memang hanya ini yang sebenarnya dijual oleh pedagang sinetron kita. Tampang. Siapa yang peduli dengan cerita? Siapa yang peduli dengan kualitas akting mereka? Bukankah itu alasan mengapa orang memasang Shandy Aulia dan Samuel Rizal (lagi) meskipun mereka tidak bisa akting? Lalu apa bedanya pedagang sinetron kita dengan pembuat video porno?

Ya, Tuhan, berilah kekuatan pada saya untuk terus berjuang dan berkata tidak pada sup laler-sup laler ijo ini. Dan tolong, singkirkan Lucky Hakim dari layar TV. Dia benar-benar merusak konsentrasi saya.

Si Yoyo 3

posted: Mon 28th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron

Judul: Si Yoyo
Episode: 2 Season 3
Tayang : Minggu, jam 20.00
Pemain: Teuku Ryan, nena Rosier, Arif Rivan, Bemby Putuanda, Bobby Rahman, Agung Surya Putra, Welsen Lowis

Hari minggu sore adalah hari yang sempurna untuk memakan sup laler ijo karena ada sederetan sinetron secara beruntun yang dijamin akan membuat perut Anda mual. Mulai dari Mutiara Hati hingga sinetron favorit kita semua, Si Yoyo.

Tentu saja setelah si Yoyo ada Celana Bulu Jin. Tapi mendadak setelah menonton si Yoyo, saya terbatuk-batuk dan suhu badan saya mulai naik (Ini beneran, kok!). Saya tahu, badan saya sudah tidak sanggup lagi untuk memakan sup laler ijo berikutnya. Jadi mohon maaf, saya hanya bisa menonton sampai Si Yoyo 3 saja.

Si Yoyo, pada awalnya, adalah sinetron yang lahir karena mengikuti trend. Karena trend saat itu adalah sinetron anak idiot yang diperankan oleh Anjasmara, maka lahirlah Yoyo yang idiot. Lalu memasuki season ke dua, Yoyo berubah menjadi ustadz sebagaimana trend yang berlaku. Kalau saja trend sinetron saat ini adalah sinetron tentang banci, kita semua akan melihat Yoyo berubah menjadi Aming.

Sialnya, Yoyo tidak cukup berhenti di Yoyo 2 saja. Yoyo memasuki season ketiga. Pada tahap ini, saya sungguh mengharapkan Teuku Ryan berubah menjadi Aming atau Gatotkaca sekalian. Sayangnya doa saya tidak terkabul. Yoyo masih tetap berkarir sebagai ‘ustadz hiasan’.

Cerita sudah tidak terfokus lagi pada Yoyo. Bahkan kalau kita tidak lihat judulnya, kita akan mengira sinetron yang kita tonton adalah bagian dari episode “Ya Ampun”, “Kutukan Illahi”, “Hukuman Tuhan”, “Tuhan Maha Sadis”, ataupun “Orang Beriman Selalu Pasrah.” Yoyo hanya muncul di sela-sela cerita sebagai penggembira ataupun sebagai orang yang hanya bisa memberi nasihat tanpa berbuat apa-apa (tapi saya rasa masih lebih baik sih daripada di Yoyo 2 di mana Yoyo mengeluarkan cahaya untuk menghantam musuhnya.. ck..ck..ck…).

Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Tidak ada yang berubah. Seorang muslim yang bertaqwa difitnah membunuh orang hingga akhirnya ia tidak bisa menguburkan anaknya yang meninggal. Yoyo.. Yoyo.. kenapa orang-orang kampung yang bodoh itu tidak kamu hantam saja dengan yoyomu eh sihirmu?

Oh, ngomong-ngomong tentang orang kampung. Saya selalu bertanya-tanya. Kenapa mereka semua ditampilkan sebagai orang yang suka demo dan berteriak dengan kalimat yang sama seperti di bawah ini?

“Pergi kamu dari sini!”

“Dasar pembunuh!” “

Kami tidak sudi menerimamu lagi!”

“Kalian manusia-manusia biadab!”

“Murtad!”

“Kalian mencemari kesucian kampung ini!”

Oh, yuck! Saking seringnya saya melihat adegan ini, saya percaya, setelah mereka main di satu sinetron mereka akan pindah syuting ke sinetron lain tanpa perlu membaca naskah ataupun mengganti properti. Cukup membawa golok dan api saja.

Pada tahap ini, saya mengira Yoyo akan muncul dan membela orang yang difitnah. Tapi mengejutkan, ternyata cerita si Yoyo memiliki ‘twist’. Yang menolong orang muslim yang ditindas ini bukanlah Yoyo, melainkan makhluk putih bercahaya. Ia muncul saat keluarga yang difitnah itu sholat dan jatuh tertidur bersama (atau memang disihis supaya tidur). Makhluk itu lantas menguburkan mayat anak kecil itu dengan kekuatan spesial penggali kubur setelah memamerkannya ke orang-orang kampung (yang lagi-lagi hanya bisa berteriak).

Mau tahu yang lebih hebat lagi? Ia mengeluarkan sinar seperti petir dan langsung menyambar orang-orang yang memfitnah tokoh cerita kita. Saya memang lagi nggak enak badan, tapi begitu melihat adegan ini, mendadak suhu badan saya naik dan batuk saya langsung makin parah. Argh! Enough is enough! Saya nggak sanggup lagi makan sup laler ijo ini. Biarlah saya mengundurkan diri dan merelakan juara fear factor edisi menjijikkan ini jadi milik orang lain. Saya mau muntah di belakang dulu.