Stereotip dan Penciptaan Karakter

posted: Wed 30th Nov, 2005, categories: Cara Memasak Sup, Karakter
Karakter seperti apa yang Anda lihat setiap hari di televisi?
 
Biasanya, daftarnya tidak jauh dari daftar seperti di bawah ini.
 
  • Tokoh utama perempuan lemah, suka menangis, manis, suci seperti malaikat, tidak berdaya, tidak bisa berjuang, kadang dibuat miskin agar lebih menderita, tapi yang pasti: selalu tertindas tanpa bisa berbuat apa-apa.
  • Kalimat favorit dimulai dengan kata, “Ya Tuhan…”
  • Tokoh utama laki-laki Tampan (harus!), kaya (harus juga!), romantis, kadang-kadang jago silat, selalu tergoda dengan saingan tokoh utama perempuan, tidak mau mendengar perkataan tokoh utam perempuan.
  • Saingan tokoh utama Cantik (harus!), selalu punya rencana jahat, penggoda, berpakaian seksi, mata melotot. Kalimat favorit, “Rasakan pembalasanku nanti!”
  • Ibu Tiri kejam, memiliki mata melotot, sadis, suka memukuli anak tiri tapi bersikap manis di depan sang ayah.Tidak ada kalimat favorit karena mereka lebih suka melotot.
  • Ayah bodoh karena tidak bisa melihat penderitaan anaknya, tidak mau mendengarkan anaknya, suka membentak bahkan untuk kesalahan kecil.
  • Penjahat Karakter penjahat biasanya terbagi menjadi dua, mereka yang bodoh dan mereka yang suka melotot dan tertawa keras-keras. Mereka juga kejam, punya anak buah yang bodoh. Kalimat favorit mereka, “Ayo! Hajar dia! Ha..ha..ha..ha….”
  • Polisi datang terlambat. Ustadz
  • Ustadz tukang usir hantu, suci, tidak memiliki dosa.
Apa pendapat Anda tentang karakter-karakter tersebut? Josip Novakovich, pengarang Berguru kepada Sastrawan Dunia (Mizan, 2003) menyebutnya sebagai tokoh rata. Saya cukup menyebutnya sebagai tokoh yang membosankan.
 
Kenapa? Karena mereka tidak seperti manusia nyata. Rasanya begitu tokoh di atas muncul, kita sudah langsung dapat menebak sifatnya. Seorang tokoh yang baik memiliki sifat seperti manusia. Itu artinya ia memiliki sifat baik dan sifat buruk. Sifat-sifat tokoh itulah yang akan menggerakkan cerita.
 
Katakan, apa asyiknya melihat ibu tiri yang terus-terusan kejam dari episode 1 sampai 1000? Apa asyiknya melihat tokoh utama terus-terusan menderita dan hanya bisa berdoa? Apa asyiknya juga melihat semua penjahat selalu tertawa seusai berbicara?
 
Tokoh ibu tiri favorit saya, sampai sekarang adalah ibu tiri Cinderella di dalam kisah Ever After yang diperankan dengan bagus oleh Angelica Houston. Ya, ia kejam hingga menjual pelayan sebagai budak demi mendapatkan uang. Tapi ia perlu memukuli anak tirinya hanya untuk menunjukkan ia kejam. Ia bahkan anggun, berkelas meskipun memiliki sifat licik.
 
Ketika anak tirinya bertanya mengapa sang ibu tidak pernah mencintainya, ia hanya menjawab, “Bagaimana mungkin seseorang mencintai kerikil dalam sepatunya?
 
Jadi, buatlah tokoh Anda memiliki sifat yang kompleks. Pikirkan berbagai macam perpaduan. Bagaimana dengan penjahat yang berjuang menjadi ayah yang baik dan melindungi keluarganya? Bagaimana kalau tokoh utama kita cantik, anggun, sedikit latah, sedikit suka berbohong, sedikit suka berpura-pura dan menyembunyikan fakta kalau dia suka sekali mengupil kalau tidak ada orang? Bagaimana kalau kita menampilkan saingannya yang sangat menyenangkan hingga kita akan sulit membencinya? Bagaimana kalau tokoh utama laki-laki kita ini baik, memiliki sifat kekanak-kanakan namun membenci anak-anak, memiliki selera baju yang buruk serta cara tawa yang aneh? Bagaimana kalau mereka semua bertemu dalam satu cerita? Saya percaya karakter yang unik akan membentuk plot cerita yang unik pula. Dan cerita yang unik akan tinggal lebih lama di dalam hati pembaca.

Majalah Cerita Kita

posted: Tue 29th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Majalah

Majalah Cerita Kita Edisi 1

Judul : Cerita Kita

Edisi : 1

Pertama-tama saya harus mengungkapkan kalau sebenarnya saya senang dengan kehadiran majalah baru ini. Tentu saja, sebagai penulis, saya mendapat tempat baru untuk mengirimkan naskah saya. Tetapi sebagai editor, saya kecewa berat. Alasan pertama saya membeli majalah ini adalah karena editornya, atau lebih tepatnya, editor tamunya: Jujur Prananto, Putu Wijaya, dan Seno Gumira Ajidarma.

Mereka adalah nama-nama yang saya junjung tinggi di dunia penulisan. Saya percaya mereka memiliki selera tinggi dalam membuat cerita. Jadi terus terang saya berharap banyak pada majalah kumpulan cerita pendek remaja ini. Tidak banyak majalah remaja yang memuat cerita bermutu kecuali Gadis dan Annida. Maaf, Aneka Yess, saya selalu kecewa dengan kualitas cerita pendek kamu.

Namun setelah membaca cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini saya jadi bertanya-tanya. Apakah para editor tamu ini benar-benar membaca cerpen yang dimuat? Atau majalah ini hanya mendompleng nama-nama mereka supaya majalah ini jadi kelihatan keren? Terus terang, hanya beberapa cerpen yang ‘layak’ naik cetak sementara sisanya, lebih baik dikembalikan ke penulisnya saja. (Sebenarnya semua cerpen yang ada saya beri catatan, tapi saya mengerti pekerjaan editor. Kalau semuanya dikembalikan, apa yang mau dicetak sementara deadline sudah dekat dan bos tidak mau mengerti? Jadi saya memaafkan beberapa cerpen.

Cerpen-cerpen tersebut adalah…

1. Strike Two! Dari segi deskripsi sudah bagus, tapi dia gagal menunjukkan Malya sebagai gadis yang menyebalkan. Maksud saya kalimat seperti “Saya mau nambah iced lemon tea-nya, ya? Jangan terlalu manis kayak tadi, lho. Saya kan bayar di sini” tidak cukup meyakinkan saya bahwa gadis ini perlu diguyur dengan minuman. Ataupun ketika Malya tidak berterima kasih pada pelayan saat pesanannya datang. Please, deh. Banyak kok dari kita yang melakukannya. Kalau kelakuan Malya ini meyebalkan, apa panggilan buat orang yang sibuk membaca majalah saat berada di tengah-tengah acara makan bersama dan mengharapkan ia ikut ngobrol?

  1. Satu Cerita Untuknya Untuk apa menceritakan bapak Zheeta suka memukul anaknya? Supaya anaknya kelihatan sebagai tokoh menderita?
  2. Pasti Untuk apa menceritakan asal nama Flora Anggraini sepanjang dua paragraf panjang yang tidak ada hubungannya dengan cerita?
  3. Sleeping Handsome Apakah Anda mengirim draft pertama Anda tanpa diedit lebih dahulu? Dongeng memang menarik sebagai sumber inspirasi, tapi cerita ini mentah. Saya tidak tahu apa guna tokoh Max dan Nizze bila kemudian yang menjadi fokus adalah Uno dan Lizze. Penulis terlalu bertele-tele dengan pembukaan hingga akhirnya tergopoh-gopoh menutup ceritanya tanpa perlu merasa membangunkan si Sleeping Handsome ini.
  4. Kantin Sekolah. Terus terang saya tidak suka dengan deskripsi yang menggunakan bahasa percakapan. Saya tidak suka dengan ide memunculkan nenek-nenek hantu yang memburu laki-laki, tapi okelah terlalu banyak hantu di televisi dan saya tidak menyalahkan kalau itu memengaruhi penulis. Bila memang itu idenya, tampilkan ide ini dari awal. Potong dua halaman awal dan fokuskan pada misteri nenek lampir di kantin sekolah saja. Beri kepribadian apa nenek lampir itu, motivasinya, alasannya, kegalauannya… Anda akan satu tingkat di atas sinetron hantu TV.
  5. Cantik Saya suka dengan ide seorang gadis yang membenci kecantikannya sendiri. Tapi sang penulis merusak ceritanya sendiri dengan memasukkan kalimat “Hhhh….jijik ya badanku.” setelah diperkosa mantan pacarnya. Penulis juga terlalu banyak mendongeng (tell) dan tidak menunjukkan (show) pada pembaca. Pada akhir cerita, saya bukannya memahami mengapa ia merusak wajahnya, tapi malah ingin meneriakinya sebagai perempuan bodoh. Kenapa harus merusak wajah bila sekarang dia sudah punya pacar yang baik? Kalau saya jadi penulisnya, saya akan membuat ‘aku’ diperkosa lagi oleh pacarnya yang sekarang, Seto, dan setelah itu barulah ‘aku’ merusak wajahnya sendiri.
Bila saya menjadi editornya, saya akan mengembalikan naskah-naskah tersebut. Percayalah, kalau mereka adalah penulis yang baik, mereka tidak akan jatuh sakit bila naskah mereka dikembalikan.
 
Penolakan justru akan membuat mereka menjadi penulis yang lebih baik karena mereka akan terus belajar dan terus belajar. Setiap anak yang belajar berjalan juga belajar untuk jatuh. Tapi mereka tidak berhenti berjalan, kan? Memuat naskah cerita yang sembarangan justru akan membuat mereka tidak berkembang dan yang pasti membuat orang enggan untuk membeli edisi majalah ini
 
Tenang saja, dear editors. Ini adalah edisi pertama Anda. Kita semua kacau pada penampilan perdana kita. Karena itu Tuhan menciptakan kesempatan kedua. Saya tunggu peningkatan kualitas cerita-cerita Anda. Untuk pembaca blog ini, belilah majalah ini dan belajarlah dari sana. Saya bahkan mendapatkan ide cerpen baru kok dari sana.

Mutiara Hati

posted: Mon 28th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron

Judul :Mutiara Hati

Episode : Minggu, 27 November 2005

Pemain : Inneke Koesherawati, LuckyHakim, Renny Yuliana, Anita Lorenza, Tizza Radja, Novi Aulia.

Saya memiliki pengakuan dosa hari ini. Saya menonton Mutiara Hati bukan untuk menghujat atau menertawakan kebodohan sinetron ini. Saya menonton sinetron ini demi satu orang: Lucky Hakim.

Terus terang, Lucky Hakim memainkan peran yang lumayan apik dan berkesan di film besutan Deddy Mizwar, Ketika. Itu alasan yang sama dengan ketika saya menonton Cinta Memang Gila (Ada Irwan Chandra di sana) ataupun ketika saya nonton Red Eyes (Cillian Murphy!). Siapa peduli dengan ceritanya?

Ups! Apa yang baru saja saya katakan? Tidak mungkin! Tidak mungkin! Betapa lemahnya iman saya! Baru disodori wajah tampan saja sudah menggelepar dan lupa tujuan semula! Oke. Konsentrasi. Kembali ke tujuan semula. Membantai. Menghujat. Tanpa Ampun. Lucky Hakim. Arrrggghhhh! *

Ehm. *Kali ini benar-benar berkonsentrasi*

Adegan yang paling menarik perhatian saya (dan memang pantas diberi catatan) adalah adegan di TK. Sungguh menarik (baca: garing banget) melihat dua penjahat ala Home Alone berusaha mendobrak masuk ke sebuah ruangan TK. Kelakuan mereka begitu konyol hingga membuat malu persatuan penjahat sinetron seluruh Indonesia. Tidak bisa menemukan cara mengintip ruangan. Jatuh ke kolam dan hampir menelan ikan. Tidak berdaya begitu dipukuli buku oleh ibu guru. Ck..ck..ck…

Lebih hebat lagi adalah si Nabila. Sungguh, dia adalah anak TK paling cerdas yang pernah saya lihat. Bahkan seharusnya Nabila yang menjadi guru TK sementara gurunya cukup menjadi murid TK saja. Masa’ anak TK bisa menjadi decision maker untuk lapor ke satpam? Bukan itu saja, ia bisa menugaskan temannya untuk kabur melalui jendela sementara sang guru hanya berdiri di pojokan memeluk murid-muridnya.

Saya memang bukan psikolog, tapi setahu saya, anak pada usia TK belum mampu berpikir secara abstrak (Kalau disuruh memilih antara dua buah gelas dengan bentuk berbeda sementara isinya sama, mereka pasti memilih yang lebih tinggi karena mengira isinya lebih banyak.)

Lalu, bagaimana mungkin saya bisa percaya seorang anak kecil bisa melakukan pengambilan keputusan sekaligus pengalokasian tenaga kerja yang ada? Saya ingin mengkritik lebih panjang lagi, tapi mendadak wajah Lucky Hakim muncul.

Aduh, mendadak mulut saya kaku dan saya terpesona sekaligus takut. Jangan-jangan memang hanya ini yang sebenarnya dijual oleh pedagang sinetron kita. Tampang. Siapa yang peduli dengan cerita? Siapa yang peduli dengan kualitas akting mereka? Bukankah itu alasan mengapa orang memasang Shandy Aulia dan Samuel Rizal (lagi) meskipun mereka tidak bisa akting? Lalu apa bedanya pedagang sinetron kita dengan pembuat video porno?

Ya, Tuhan, berilah kekuatan pada saya untuk terus berjuang dan berkata tidak pada sup laler-sup laler ijo ini. Dan tolong, singkirkan Lucky Hakim dari layar TV. Dia benar-benar merusak konsentrasi saya.

Si Yoyo 3

posted: Mon 28th Nov, 2005, categories: Sup Laler Ijo, Sinetron

Judul: Si Yoyo
Episode: 2 Season 3
Tayang : Minggu, jam 20.00
Pemain: Teuku Ryan, nena Rosier, Arif Rivan, Bemby Putuanda, Bobby Rahman, Agung Surya Putra, Welsen Lowis

Hari minggu sore adalah hari yang sempurna untuk memakan sup laler ijo karena ada sederetan sinetron secara beruntun yang dijamin akan membuat perut Anda mual. Mulai dari Mutiara Hati hingga sinetron favorit kita semua, Si Yoyo.

Tentu saja setelah si Yoyo ada Celana Bulu Jin. Tapi mendadak setelah menonton si Yoyo, saya terbatuk-batuk dan suhu badan saya mulai naik (Ini beneran, kok!). Saya tahu, badan saya sudah tidak sanggup lagi untuk memakan sup laler ijo berikutnya. Jadi mohon maaf, saya hanya bisa menonton sampai Si Yoyo 3 saja.

Si Yoyo, pada awalnya, adalah sinetron yang lahir karena mengikuti trend. Karena trend saat itu adalah sinetron anak idiot yang diperankan oleh Anjasmara, maka lahirlah Yoyo yang idiot. Lalu memasuki season ke dua, Yoyo berubah menjadi ustadz sebagaimana trend yang berlaku. Kalau saja trend sinetron saat ini adalah sinetron tentang banci, kita semua akan melihat Yoyo berubah menjadi Aming.

Sialnya, Yoyo tidak cukup berhenti di Yoyo 2 saja. Yoyo memasuki season ketiga. Pada tahap ini, saya sungguh mengharapkan Teuku Ryan berubah menjadi Aming atau Gatotkaca sekalian. Sayangnya doa saya tidak terkabul. Yoyo masih tetap berkarir sebagai ‘ustadz hiasan’.

Cerita sudah tidak terfokus lagi pada Yoyo. Bahkan kalau kita tidak lihat judulnya, kita akan mengira sinetron yang kita tonton adalah bagian dari episode “Ya Ampun”, “Kutukan Illahi”, “Hukuman Tuhan”, “Tuhan Maha Sadis”, ataupun “Orang Beriman Selalu Pasrah.” Yoyo hanya muncul di sela-sela cerita sebagai penggembira ataupun sebagai orang yang hanya bisa memberi nasihat tanpa berbuat apa-apa (tapi saya rasa masih lebih baik sih daripada di Yoyo 2 di mana Yoyo mengeluarkan cahaya untuk menghantam musuhnya.. ck..ck..ck…).

Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Tidak ada yang berubah. Seorang muslim yang bertaqwa difitnah membunuh orang hingga akhirnya ia tidak bisa menguburkan anaknya yang meninggal. Yoyo.. Yoyo.. kenapa orang-orang kampung yang bodoh itu tidak kamu hantam saja dengan yoyomu eh sihirmu?

Oh, ngomong-ngomong tentang orang kampung. Saya selalu bertanya-tanya. Kenapa mereka semua ditampilkan sebagai orang yang suka demo dan berteriak dengan kalimat yang sama seperti di bawah ini?

“Pergi kamu dari sini!”

“Dasar pembunuh!” “

Kami tidak sudi menerimamu lagi!”

“Kalian manusia-manusia biadab!”

“Murtad!”

“Kalian mencemari kesucian kampung ini!”

Oh, yuck! Saking seringnya saya melihat adegan ini, saya percaya, setelah mereka main di satu sinetron mereka akan pindah syuting ke sinetron lain tanpa perlu membaca naskah ataupun mengganti properti. Cukup membawa golok dan api saja.

Pada tahap ini, saya mengira Yoyo akan muncul dan membela orang yang difitnah. Tapi mengejutkan, ternyata cerita si Yoyo memiliki ‘twist’. Yang menolong orang muslim yang ditindas ini bukanlah Yoyo, melainkan makhluk putih bercahaya. Ia muncul saat keluarga yang difitnah itu sholat dan jatuh tertidur bersama (atau memang disihis supaya tidur). Makhluk itu lantas menguburkan mayat anak kecil itu dengan kekuatan spesial penggali kubur setelah memamerkannya ke orang-orang kampung (yang lagi-lagi hanya bisa berteriak).

Mau tahu yang lebih hebat lagi? Ia mengeluarkan sinar seperti petir dan langsung menyambar orang-orang yang memfitnah tokoh cerita kita. Saya memang lagi nggak enak badan, tapi begitu melihat adegan ini, mendadak suhu badan saya naik dan batuk saya langsung makin parah. Argh! Enough is enough! Saya nggak sanggup lagi makan sup laler ijo ini. Biarlah saya mengundurkan diri dan merelakan juara fear factor edisi menjijikkan ini jadi milik orang lain. Saya mau muntah di belakang dulu.