Judul: Si Yoyo
Episode: 2 Season 3
Tayang : Minggu, jam 20.00
Pemain: Teuku Ryan, nena Rosier, Arif Rivan, Bemby Putuanda, Bobby Rahman, Agung Surya Putra, Welsen Lowis
Hari minggu sore adalah hari yang sempurna untuk memakan sup laler ijo karena ada sederetan sinetron secara beruntun yang dijamin akan membuat perut Anda mual. Mulai dari Mutiara Hati hingga sinetron favorit kita semua, Si Yoyo.
Tentu saja setelah si Yoyo ada Celana Bulu Jin. Tapi mendadak setelah menonton si Yoyo, saya terbatuk-batuk dan suhu badan saya mulai naik (Ini beneran, kok!). Saya tahu, badan saya sudah tidak sanggup lagi untuk memakan sup laler ijo berikutnya. Jadi mohon maaf, saya hanya bisa menonton sampai Si Yoyo 3 saja.
Si Yoyo, pada awalnya, adalah sinetron yang lahir karena mengikuti trend. Karena trend saat itu adalah sinetron anak idiot yang diperankan oleh Anjasmara, maka lahirlah Yoyo yang idiot. Lalu memasuki season ke dua, Yoyo berubah menjadi ustadz sebagaimana trend yang berlaku. Kalau saja trend sinetron saat ini adalah sinetron tentang banci, kita semua akan melihat Yoyo berubah menjadi Aming.
Sialnya, Yoyo tidak cukup berhenti di Yoyo 2 saja. Yoyo memasuki season ketiga. Pada tahap ini, saya sungguh mengharapkan Teuku Ryan berubah menjadi Aming atau Gatotkaca sekalian. Sayangnya doa saya tidak terkabul. Yoyo masih tetap berkarir sebagai ‘ustadz hiasan’.
Cerita sudah tidak terfokus lagi pada Yoyo. Bahkan kalau kita tidak lihat judulnya, kita akan mengira sinetron yang kita tonton adalah bagian dari episode “Ya Ampun”, “Kutukan Illahi”, “Hukuman Tuhan”, “Tuhan Maha Sadis”, ataupun “Orang Beriman Selalu Pasrah.” Yoyo hanya muncul di sela-sela cerita sebagai penggembira ataupun sebagai orang yang hanya bisa memberi nasihat tanpa berbuat apa-apa (tapi saya rasa masih lebih baik sih daripada di Yoyo 2 di mana Yoyo mengeluarkan cahaya untuk menghantam musuhnya.. ck..ck..ck…).
Bagaimana dengan ceritanya sendiri? Tidak ada yang berubah. Seorang muslim yang bertaqwa difitnah membunuh orang hingga akhirnya ia tidak bisa menguburkan anaknya yang meninggal. Yoyo.. Yoyo.. kenapa orang-orang kampung yang bodoh itu tidak kamu hantam saja dengan yoyomu eh sihirmu?
Oh, ngomong-ngomong tentang orang kampung. Saya selalu bertanya-tanya. Kenapa mereka semua ditampilkan sebagai orang yang suka demo dan berteriak dengan kalimat yang sama seperti di bawah ini?
“Pergi kamu dari sini!”
“Dasar pembunuh!” “
Kami tidak sudi menerimamu lagi!”
“Kalian manusia-manusia biadab!”
“Murtad!”
“Kalian mencemari kesucian kampung ini!”
Oh, yuck! Saking seringnya saya melihat adegan ini, saya percaya, setelah mereka main di satu sinetron mereka akan pindah syuting ke sinetron lain tanpa perlu membaca naskah ataupun mengganti properti. Cukup membawa golok dan api saja.
Pada tahap ini, saya mengira Yoyo akan muncul dan membela orang yang difitnah. Tapi mengejutkan, ternyata cerita si Yoyo memiliki ‘twist’. Yang menolong orang muslim yang ditindas ini bukanlah Yoyo, melainkan makhluk putih bercahaya. Ia muncul saat keluarga yang difitnah itu sholat dan jatuh tertidur bersama (atau memang disihis supaya tidur). Makhluk itu lantas menguburkan mayat anak kecil itu dengan kekuatan spesial penggali kubur setelah memamerkannya ke orang-orang kampung (yang lagi-lagi hanya bisa berteriak).
Mau tahu yang lebih hebat lagi? Ia mengeluarkan sinar seperti petir dan langsung menyambar orang-orang yang memfitnah tokoh cerita kita. Saya memang lagi nggak enak badan, tapi begitu melihat adegan ini, mendadak suhu badan saya naik dan batuk saya langsung makin parah. Argh! Enough is enough! Saya nggak sanggup lagi makan sup laler ijo ini. Biarlah saya mengundurkan diri dan merelakan juara fear factor edisi menjijikkan ini jadi milik orang lain. Saya mau muntah di belakang dulu.